Selasa, 08 Januari 2019

Indahnya tidur di bawah sinar mentari pagi

Hari ini aku pengen tidur saja. Capek karena semalaman bermain-main dengan temanku. Sinar Matahari pagi yang langsung menyinariku pun tidak kugubris. Aku malah menikmatinya. Oh indahnya dunia. Bisa tidur di bawah sinar mentari. Tetapi tidur nyenyakku diganggu oleh sesuatu.
.
"Hai Miu, bisa diam gak, ngganggu tau"
"Iya Moe ada apa?" Miu menjawab dengan ngelantur.
Oh jadi bukan Miu yang mengganggu tidurku. Terus siapa dong? Aku membuka mata dengan malas. Ini sih bukan temanku Miu yang mengganggu tidurku. Tetapi manusia besar. Pake mengusap kepala lagi.
.
"Dasar orang, Manusia kalian semua!" Aku mengumpat dalam hati karena malas untuk mengeong.
.
Untungnya gangguan dari manusia tidak lama. Dia langsung pergi setelah mengambil helm yang ada di sampingku. Aku pun bisa melanjutkan tidur dengan nyenyak di bawah sinar mentari.

Minggu, 06 Januari 2019

Apa ya, ya gitu deh

Mungkin bagi beberapa orang konsisten itu susah. Mungkin kita adalah salah satunya. Termasuk aku.
.
Definisi konsisten adalah selaras, tetap, taat asas.
.
Aku merasa konsisten itu bersahabat dengan kebiasaan. Iya.
Konsisten: "Halo Kebi, sudah makan hari ini?".
Kebiasaan: "Sudah Kons, kamu gimana, sudah berak?"
.
Hiyaa
.
Aku mengetahui @30haribercerita dari beberapa temanku yg posting di instagram. Lalu aku kepo. Kegiatan apa sih itu?
Setelah searching dengan tidak susah payah. Aku akhirnya nemu.
Jadi kegiatan #30haribercerita awalnya dari blog toh. (Kemana aja tong). Dimulai sekitar 4 tahun yang lalu. Kegiatan menulis di awal tahun selama 30 hari penuh. Jadi mirip-mirip #inktober tapi ini versi cerita dan hanya di Indonesia. Gituu. Btw, aku mulai bercerita pada hari kelima, hahaha.
.
Aku berharap bisa menulis cerita seperti ini dengan konsisten agar bisa terbiasa menulis. Tetapi bukan sekadar rutinitas tanpa improvisasi.
.
Begitulah kuda-kuda nil.

Jumat, 04 Januari 2019

Aceb dan Akam ngomongin program Legalisasi ganja halal

"Mas kopi hitam satu ya" Setelah memesan kopi, Aceb menyapa Akam yang sudah ada lebih dulu berada di warkop.
.
"Ngapain kamu tertawa sendirian Kam? Kayak orang gila"
"Ini lho Ceb, lihat fanspage Nurhadi-Aldo, hahaha, juancuk sekali"
"Owala Dildo toh, sejak ada Dildo, pertengkaran cebong vs kampret jadi hilang setengah ya, seperti dihilangin Thanos. Ada postingan nyeleneh apalagi emang?"
"Ini lho program kerjanya, Legalisasi Ganja Halal. Masa jargonnya menuju Indonesia Terbang. Hahaha"
"Hah? Apa? Beneran?"
"Yah bohongan lah Ceb, namanya juga paslon fiktif, hahaha"
.
.
Kopi yang dipesan Aceb pun datang.
"Heee, ya tahu. Maksudku, kalau program ganja halal ada beneran, kamu setuju, Kam?"
"Jelas setuju dong. Kapan lagi bisa ngefly secara legal?"
"Oohh, jadi biar bisa ngefly legal ya, Kam?" Aceb bertanya dengan nada menantang.
.
Akam memandang Aceb dengan tajam sesaat kemudian dia tertawa.
"Ya enggak lah, aku kan gak make cuk, hahaha. Tapi gak ada salahnya kan di legalisasi?"
"Ya salah lah"
"Cannabis sativa kan banyak manfaatnya, buat kesehatan banyak tuh. Lagian aku juga gak nemuin berita tentang orang mati karena make ganja, yang ada malah ngefly. hahaha"
"Ya kalau disalahgunain gimana? Kayak gak tahu orang Indonesia aja Kam, jangan disamain kayak orang Kanada lah, di sini tuh beda kondisinya hee "
"Disalahgunain gimana, Ceb? ngomong pake data dong, hahaha"
.
Pemilik warung menyalakan TVnya, sepertinya dia malas mendengarkan obrolan Aceb dan Akam.
Aceb, mulai menyeruput kopinya.
"Kamu lihat anak kecil yang dibawa ortunya ke bioskop kemarin gak? padahal sudah jelas filmnya untuk 13+, tapi malah diajak nonton"
"Ya itu salahnya penjual tiket Ceb, hahaha"
"Ya itu maksudku Kam"
"Ya makanya di program Dildo tuh ada yang namanya sosialisasi penggunaan ganja dengan baik dan benar, Ceb hahaha"
"Ah paslon ngaco diladenin, buat lucu-lucuan aja itu"
"Nah itu ngerti, hahaha"

Obrolan Aceb dan Akam pun berhenti saat Chelsea Islan muncul di TV.

Minggu, 09 Desember 2018

Mumet ndasku, piye iki cuk? (Pusing kepalaku, Bagaimana ini cuk?)

"Piye ujianmu?" (Bagaimana ujianmu?")
"Mbuh Cuk, nggarai ngelu, koen gk ngelu ta ngerjakno ujiane mau iku?" (Tidak tahu lah, membuat pusing, kamu tidak pusing apa mengerjakan ujian tadi itu?")
"yo gak lah" (ya tidak lah)
"enak yo arek pinter koyok awakmu" (enak ya anak pintar seperti dirimu)
"Lah prasamu cuk, aku yo ngelu pas sinau. Koen wingi tak jak sinau bareng malah gk gelem" (Lah cuk, aku juga pusing saat belajar. Kamu kemarin aku ajak belajar bareng tidak mau")
"Sibuk push ranked cuk" ("Sibuk push ranked cuk")
"Wes ta lek sik ngelu nang dokter kunu, hahaha" (Sudahlah kalau masih pusing pergi ke dokter sana, hahaha")
"Hancok, wes wes ayo ngegame ae, ben ilang ngeluku" ("Hancok, sudah sudah ayo main game saja, biar hilang pusingku")
"ngelu malah ngegame, lek kalah ngelu pindo koen, hahaha" (pusing malah main game, kalau kalah malah lebih pusing kamu")
"Cuk"

Cerita di atas sepenggal percakapan selesai ujian. Mungkin banyak percakapan yang mirip seperti itu tentang bagaimana ada teman yang pusing setelah ujian, tetapi ada hal yang unik. Pusing yang dimaksud dalam orang-orang seperti percakapan tadi adalah pusing dalam hal bingung bukan sakit kepala.

Sering kita menyebut pusing dalam artian berpikir karena sedang bingung adalah pusing. Hal tersebut tidak salah karena dalam kbbi pun, pusing adalah sakit kepala, pening. Tetapi ada definisi lainnya yaitu pusing adalah tidak dapat berpikir(karena bingung, tidak keruan, sedih dan sebagainya).

Pernah tidak kita merasakan pusing karena belajar suatu hal yang baru? Pasti pernah dong, masa enggak.
Aku mau memberi pengalaman pusingku. Jadi gini. Aku pernah pusing saat pertama kali belajar fotografi. Aku tidak pernah punya kamera sebelumnya. Kamera yang kubeli saat itu adalah dslr yang cukup canggih. Aku belajar fotografi karena ingin menghasilkan gambar bagus seperti contributor national geographic itu lho.

Setelah jeprat-jepret percobaan. Aku baru sadar kalau fotografi itu bukan hal mudah seperti memasak air rebus. Teknis kamera seperti segitiga pencahayaan, iso, diafragma, kecepatan shutter dan lain sebagai-bagainya. Itu ribet b*ngs*d. Belum lagi soal teknik foto, mulai angel (malaikat) eh sudut foto maksudku, komposisi, pencahayaan luar, pola gerakan. Belum lagi soul(jiwa) bisa ada di foto itu sendiri. Itu semua sangat membuat kepala mendidih wahai para cebong dan kampret. Jadi yang bisa tersulut emosi bukan hanya kalian woi.

Lho kok sampai cebong kampret. Oke sebelum pembahasan melebar ke mana-mana balik ke topik. Aku mau menggarisbawahi dan menebalkan bahwa belajar hal baru itu membuat pusing tau. Bersyukurlah kita yang masih bisa pusing karena itulah tanda kita belajar suatu hal yang baru.

Jadi kalau kita bertemu teman yang sambat pusing, ajaklah ke dokter, kalau dia tidak mau berarti bukan pusing karena sakit kepala. Itu.

(judul sengaja dibuat clickbait)