"He ayo ukam, kamu ngapain? malah elus kucing, nanti telat sekolah lho"
"Hadee, kak Akam buru2 sekali sih. Iya kak bentar, ambil helm dulu, hehe, lagian masuknya masih lama kali kak"
"Heee, kalo macet gimana?"
.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah tahun baru. Ughh rasanya malas sekali, aku harap semoga gak ada pelajaran di hari pertama sekolah
.
"Bentar ya, kakak mau mampir Supermarket bentar"
"Jangan lama-lama, nanti Ukam bisa telat tau"
"Katanya masih lama, iya iya, selo dong"
.
Saat sedang menunggu kakakku, aku melihat teman lamaku. Sepertinya aku kenal. Dia menggendong anak kecil, tapi siapa ya, adiknya mungkin. Tak lama kemudian dia melihatku.
.
"Rini, ya?"
"Ukam?"
.
Rini kaget saat melihatku. Wajahnya lelah dan dia sepertinya juga belum mandi. Lalu dia mendekat.
.
"Lama gak ketemu ya, Rin, kamu kemana aja?"
"Aku ikut keluargaku ke luar kota dua tahun lalu, Kam, hehe"
"Lucu banget ya adikmuu. Btw, kamu sekarang sekolah dimana Rin?"
.
Rini diam sebentar. Sesaat aku melihat matanya seperti mau menangis.
.
"Aku uda gak sekolah Kam, hahaha"
"Ha, beneran?"
"Iya, dua tahun lalu aku menikah, ini anakku, lalu aku pun sudah gak sekolah lagi, aku duluan ya Kam, mau ke pasar dulu" Rini pamit dengan buru2.
"Oh, iya hati2 Rin"
Aku kaget sampai tidak bisa bereaksi apa-apa kecuali berkata "Oh".
.
"Jangan bengong nanti kesambet"
Kak Akam mengagetkan aku.
"Siapa tadi? temenmu? lucu ya adiknya"
"Iya kak, itu anaknya, bukan adiknya"
.
Di motor, aku cukup lama terdiam. Aku masih kaget melihat temanku yang sudah tidak sekolah, apalagi ditambah sudah menikah dan punya anak.
"Itu tadi temenmu siapa? SMA?"
"Dulu temen SMP, terus pindah ke luar kota"
"Oh"
"Kok bisa ya kak, temenku tadi menikah dan gak lanjut sekolah?"
"Ya mana kakak tau, tapi setauku kalau pernikahan anak di bawah umur 18 tahun rasionya 1: 9 anak perempuan"
"Kok bisa ya?"
"Ya faktornya banyak Kam" Lalu aku pun diam saja di perjalanan ke sekolahan.
.
Sepeda motor sudah sampai di depan sekolah. Beberapa siswa
"Nanti pulang jam berapa?"
"Ya belum tau, nanti aku kabarin kalau pulang"
"Oke adikku yang paling cantik"
"Wee, adikmu kan cuma aku"
"Hahahaha, ya itu"
.
Saat aku mau masuk sekolah, aku melihat kakakku menyapa temannya yang berada di seberang jalan. Dan saat aku masuk gerbang sekolah, aku pun bersyukur masih bisa untuk bersekolah.
Kamis, 10 Januari 2019
Ukam kaget melihat temannya yang sudah menikah
Selasa, 08 Januari 2019
Indahnya tidur di bawah sinar mentari pagi
Hari ini aku pengen tidur saja. Capek karena semalaman bermain-main dengan temanku. Sinar Matahari pagi yang langsung menyinariku pun tidak kugubris. Aku malah menikmatinya. Oh indahnya dunia. Bisa tidur di bawah sinar mentari. Tetapi tidur nyenyakku diganggu oleh sesuatu.
.
"Hai Miu, bisa diam gak, ngganggu tau"
"Iya Moe ada apa?" Miu menjawab dengan ngelantur.
Oh jadi bukan Miu yang mengganggu tidurku. Terus siapa dong? Aku membuka mata dengan malas. Ini sih bukan temanku Miu yang mengganggu tidurku. Tetapi manusia besar. Pake mengusap kepala lagi.
.
"Dasar orang, Manusia kalian semua!" Aku mengumpat dalam hati karena malas untuk mengeong.
.
Untungnya gangguan dari manusia tidak lama. Dia langsung pergi setelah mengambil helm yang ada di sampingku. Aku pun bisa melanjutkan tidur dengan nyenyak di bawah sinar mentari.
Minggu, 06 Januari 2019
Apa ya, ya gitu deh
Mungkin bagi beberapa orang konsisten itu susah. Mungkin kita adalah salah satunya. Termasuk aku.
.
Definisi konsisten adalah selaras, tetap, taat asas.
.
Aku merasa konsisten itu bersahabat dengan kebiasaan. Iya.
Konsisten: "Halo Kebi, sudah makan hari ini?".
Kebiasaan: "Sudah Kons, kamu gimana, sudah berak?"
.
Hiyaa
.
Aku mengetahui @30haribercerita dari beberapa temanku yg posting di instagram. Lalu aku kepo. Kegiatan apa sih itu?
Setelah searching dengan tidak susah payah. Aku akhirnya nemu.
Jadi kegiatan #30haribercerita awalnya dari blog toh. (Kemana aja tong). Dimulai sekitar 4 tahun yang lalu. Kegiatan menulis di awal tahun selama 30 hari penuh. Jadi mirip-mirip #inktober tapi ini versi cerita dan hanya di Indonesia. Gituu. Btw, aku mulai bercerita pada hari kelima, hahaha.
.
Aku berharap bisa menulis cerita seperti ini dengan konsisten agar bisa terbiasa menulis. Tetapi bukan sekadar rutinitas tanpa improvisasi.
.
Begitulah kuda-kuda nil.
Jumat, 04 Januari 2019
Aceb dan Akam ngomongin program Legalisasi ganja halal
"Mas kopi hitam satu ya" Setelah memesan kopi, Aceb menyapa Akam yang sudah ada lebih dulu berada di warkop.
.
"Ngapain kamu tertawa sendirian Kam? Kayak orang gila"
"Ini lho Ceb, lihat fanspage Nurhadi-Aldo, hahaha, juancuk sekali"
"Owala Dildo toh, sejak ada Dildo, pertengkaran cebong vs kampret jadi hilang setengah ya, seperti dihilangin Thanos. Ada postingan nyeleneh apalagi emang?"
"Ini lho program kerjanya, Legalisasi Ganja Halal. Masa jargonnya menuju Indonesia Terbang. Hahaha"
"Hah? Apa? Beneran?"
"Yah bohongan lah Ceb, namanya juga paslon fiktif, hahaha"
.
.
Kopi yang dipesan Aceb pun datang.
"Heee, ya tahu. Maksudku, kalau program ganja halal ada beneran, kamu setuju, Kam?"
"Jelas setuju dong. Kapan lagi bisa ngefly secara legal?"
"Oohh, jadi biar bisa ngefly legal ya, Kam?" Aceb bertanya dengan nada menantang.
.
Akam memandang Aceb dengan tajam sesaat kemudian dia tertawa.
"Ya enggak lah, aku kan gak make cuk, hahaha. Tapi gak ada salahnya kan di legalisasi?"
"Ya salah lah"
"Cannabis sativa kan banyak manfaatnya, buat kesehatan banyak tuh. Lagian aku juga gak nemuin berita tentang orang mati karena make ganja, yang ada malah ngefly. hahaha"
"Ya kalau disalahgunain gimana? Kayak gak tahu orang Indonesia aja Kam, jangan disamain kayak orang Kanada lah, di sini tuh beda kondisinya hee "
"Disalahgunain gimana, Ceb? ngomong pake data dong, hahaha"
.
Pemilik warung menyalakan TVnya, sepertinya dia malas mendengarkan obrolan Aceb dan Akam.
Aceb, mulai menyeruput kopinya.
"Kamu lihat anak kecil yang dibawa ortunya ke bioskop kemarin gak? padahal sudah jelas filmnya untuk 13+, tapi malah diajak nonton"
"Ya itu salahnya penjual tiket Ceb, hahaha"
"Ya itu maksudku Kam"
"Ya makanya di program Dildo tuh ada yang namanya sosialisasi penggunaan ganja dengan baik dan benar, Ceb hahaha"
"Ah paslon ngaco diladenin, buat lucu-lucuan aja itu"
"Nah itu ngerti, hahaha"
Obrolan Aceb dan Akam pun berhenti saat Chelsea Islan muncul di TV.
Minggu, 09 Desember 2018
Mumet ndasku, piye iki cuk? (Pusing kepalaku, Bagaimana ini cuk?)
"Piye ujianmu?" (Bagaimana ujianmu?")
"Mbuh Cuk, nggarai ngelu, koen gk ngelu ta ngerjakno ujiane mau iku?" (Tidak tahu lah, membuat pusing, kamu tidak pusing apa mengerjakan ujian tadi itu?")
"yo gak lah" (ya tidak lah)
"enak yo arek pinter koyok awakmu" (enak ya anak pintar seperti dirimu)
"Lah prasamu cuk, aku yo ngelu pas sinau. Koen wingi tak jak sinau bareng malah gk gelem" (Lah cuk, aku juga pusing saat belajar. Kamu kemarin aku ajak belajar bareng tidak mau")
"Sibuk push ranked cuk" ("Sibuk push ranked cuk")
"Wes ta lek sik ngelu nang dokter kunu, hahaha" (Sudahlah kalau masih pusing pergi ke dokter sana, hahaha")
"Hancok, wes wes ayo ngegame ae, ben ilang ngeluku" ("Hancok, sudah sudah ayo main game saja, biar hilang pusingku")
"ngelu malah ngegame, lek kalah ngelu pindo koen, hahaha" (pusing malah main game, kalau kalah malah lebih pusing kamu")
"Cuk"
Cerita di atas sepenggal percakapan selesai ujian. Mungkin banyak percakapan yang mirip seperti itu tentang bagaimana ada teman yang pusing setelah ujian, tetapi ada hal yang unik. Pusing yang dimaksud dalam orang-orang seperti percakapan tadi adalah pusing dalam hal bingung bukan sakit kepala.
Sering kita menyebut pusing dalam artian berpikir karena sedang bingung adalah pusing. Hal tersebut tidak salah karena dalam kbbi pun, pusing adalah sakit kepala, pening. Tetapi ada definisi lainnya yaitu pusing adalah tidak dapat berpikir(karena bingung, tidak keruan, sedih dan sebagainya).
Pernah tidak kita merasakan pusing karena belajar suatu hal yang baru? Pasti pernah dong, masa enggak.
Aku mau memberi pengalaman pusingku. Jadi gini. Aku pernah pusing saat pertama kali belajar fotografi. Aku tidak pernah punya kamera sebelumnya. Kamera yang kubeli saat itu adalah dslr yang cukup canggih. Aku belajar fotografi karena ingin menghasilkan gambar bagus seperti contributor national geographic itu lho.
Setelah jeprat-jepret percobaan. Aku baru sadar kalau fotografi itu bukan hal mudah seperti memasak air rebus. Teknis kamera seperti segitiga pencahayaan, iso, diafragma, kecepatan shutter dan lain sebagai-bagainya. Itu ribet b*ngs*d. Belum lagi soal teknik foto, mulai angel (malaikat) eh sudut foto maksudku, komposisi, pencahayaan luar, pola gerakan. Belum lagi soul(jiwa) bisa ada di foto itu sendiri. Itu semua sangat membuat kepala mendidih wahai para cebong dan kampret. Jadi yang bisa tersulut emosi bukan hanya kalian woi.
Lho kok sampai cebong kampret. Oke sebelum pembahasan melebar ke mana-mana balik ke topik. Aku mau menggarisbawahi dan menebalkan bahwa belajar hal baru itu membuat pusing tau. Bersyukurlah kita yang masih bisa pusing karena itulah tanda kita belajar suatu hal yang baru.
Jadi kalau kita bertemu teman yang sambat pusing, ajaklah ke dokter, kalau dia tidak mau berarti bukan pusing karena sakit kepala. Itu.
(judul sengaja dibuat clickbait)
Minggu, 01 Juli 2018
Kamu ndukung apa wahai penonton abadi ?
Kamu ndukung apa wahai penonton abadi ?
Hari ini saya sedikit sedih karena Messi dan Ronaldo tidak bisa bersalaman di perempat final piala dunia 2018. Tapi mereka mungkin salaman di bandara.
Saya juga sedikit lega karena gontok-gontokan pendukung Messi dan Ronaldo asal INDONESIA di medsos juga sedikit mereda. Sedikit.
Kalau bicara soal dukung mendukung, Indonesia minggu ini tidak hanya soal sepak bola tapi juga "itu". Iya "itu" , yang terjadi 27 Juni 2018 itu, masa' lupa, atau jangan-jangan gak tau ? Ya sudah, toh saya juga tidak akan terlalu membahas "itu". "Itu" itu maksudnya pesta demokrasi, gitu aja diberitahu.
Mulai dari si A mendukung si B. Si C mendukung si D. Begitu seterusnya sampai si ZY mendukung si ZZ dan si ZZ mendukung si A. MBULET. Ada yang senang, sedih, B aja (biasa aja), numpang ngakak, sedih campur ngakak dan banyak lagi ekspresinya. Tapi untungnya dukung mendukung mereka tidak sampai ke ranah hiburan piala dunia. Kalau iya bisa repot, kok bisa ?
Saya akan mengajak anda-anda sekalian berandai-andai. Begini.
Jika Jokowi mendukung tim Argentina. Bagaimana perasaan "pendukung Argentina asal Indonesia yang pro Prabowo"?
Di medsos kira-kira bakal keluar kata2 begini: Dasar presiden tidak nasionalis, Ganti ! (mereka mungkin malu kalau harus mendukung satu tim yang sama dengan pak presiden)
Atau sebaliknya
Jika Prabowo mendukung tim Portugal. Bagaimana perasaan "pendukung Portugal asal Indonesia yang pro Jokowi"?
Di medsos kira-kira bakal keluar kata-kata begini: anti asing kok mendukung tim asing !
Yang bikin rusuh adalah jika Amin Rais dan Fadeli Zon tiba-tiba mengadakan konferensi pers.
Di depan media mereka mengatakan bahwa Amin adalah fans berat Ronaldo dan Fadeli adalah fans berat Messi.
Nah ini repot, masa' iya fans Ronaldo dan Messi yang kontra Amin dan Fadeli gak bakal nonton piala dunia lagi ? 😂
Gimana ? mbulet ? 😂
Mong omong saya punya prediksi bola, ntar malam Spanyol pulang, penyebabnya: De Gea kartu merah !
Rabu, 13 Juni 2018
Lembaran Baru
Hari yang indah. Aku berada di tengah taman kota. Dikelilingi oleh pepohonan dan bunga-bunga, aku rasa tempat ini sangat istimewa. Banyak juga orang-orang yang datang ke taman ini.
Udara terasa sejuk saat angin berhempus. wuuss. Di langit, warna biru sangat dominan karena awan terlihat sangat sedikit sekali. Di dekatku ada tiga orang laki-laki asik ngobrol. Sepertinya mereka selesai makan-makan.
"Yang kanan atau yang kiri bro menurutmu ?" tanya orang yang bertopi kepada teman2nya
"yo seng kiri lah, 85 itu" kata yang berambut gondrong
"aku yo setuju, tapi 85 terlalu tinggi, 80 lah" si botak menanggapi.
"arah jam 8, muasuk pol" kata rambut gondrong. Laki-laki bertopi buru-buru menengok ke belakang.
"yo biasa ae, gak usa ngegas ngunu"
"hancuk, arek cilik iku, pendek gitu, masuk apanya, masih blm punya ktp itu" balas laki-laki bertopi.
"kok tau kalo dia belum punya ktp. liat tampilannya, udah dewasa itu"
"sek cilik iku" si botak memotong
"hahahaha" laki-laki bertopi tertawa lepas
"asu"
Obrolan mereka seru. Asik punya teman yang seperti itu. Aku punya banyak teman. Tapi kebanyakan dari mereka sudah berada di luar kota. Banyak yang ke laut dan gunung. Banyak yang pulang membawa cerita-cerita fantastis. Tapi tidak sedikit dari teman-temanku yang terkena musibah. Yang pergi ke laut, ada yang tidak kembali. Ada juga yang berkahir dengan terkubur entah dimana.
Aku bersyukur masih bisa berada di tempat seperti ini. Meskipun tadi pagi ada kejadian yang tidak mengenakkan. Aku sangat ingin pergi ke tempat-tempat baru tapi apa daya. Perempuan yang berkeliling car free day bersamaku tadi pagi meninggalkan aku sendirian di sini. Sedih ? enggak juga.
Sudah lama aku berada di tengah taman ini. Mengamati berbagai macam orang yang berlalu-lalang. Tidak sedikit yang mengamatiku. Tidak terasa hari sudah mau magrib langit jadi mendung, padahal tadi pagi sampai siang cerah.
"srek srek srek srek" suara sandal digesek-gesekkan ke tanah. di dekatku ada dua orang perempuan.
"kamu ngapain Na ?"
"ini, nginjek tai ayam sepertinya La"
"hahaha, ya ke wc la bersih-bersih"
"ngapain, gini doang aja"
"seterah mu wes, ayok cepetan kayaknya mau hujan nih Na"
Tidak lama kemudian hujan deras datang. Orang-orang pun sibuk dengan dirinya masing-masing. Mencari perlindungan sendiri-sendiri. Ada yang ke tenda, di bawah pohon, dan gazebo.
Aku masih di sini. Di tengah taman. Ku nikmati derasnya air hujan yang turun ini. Dari samping banyak anak-anak abg hujan-hujan sambil bawa bola. Satu orang anak menendang bola kearahku. Aku terhuyung-huyung. Terjatuh.
Sampai anak-anak itu bermain bola dan hujan selesai. Aku masih terjatuh. Kemudian ada orang yang memegangku. Lalu gelap.
Aku tidak tau sudah berapa lama keadaan gelap ini. Ketika sudah tidak gelap, aku berada di sebuah tempat baru yang banyak meja dan kursi. Diguntingi oleh seorang laki-laki, dicat warna-warni lalu ditempel mengelilingi ke lampu. Kemudian bersama lampu digantung di atap untuk menerangi ruangan penuh kursi dan meja.
Kamis, 07 Juni 2018
Menggulai kurma manis
"Jancook !! Dasar orang munafik, asuu !" Lukman marah. Dilemparkannya peci hitam yang sedang dipakainya dengan keras ke kursi. Tak lama kemudian kursi itu didudukinya.
"Ada apa ada apa ? yang tenang dong. Surya dulu lah" kutawarkan rokok ke Lukman sambil kunyalakan batang rokokku sendiri. Kutaruh bungkus rokok di meja. Sepertinya Lukman masih belum mood.
"Kamu gak sadar ta dia ceramah apa tadi ? cok !"
"Iya ngerti, sudah lah. Buat apa juga marah-marah"
Lukman diam sebentar. Diambilnya gelas lalu diisi dengan air dari galon. Sepertinya dia sudah agak tenang.
"Isi yang banyak sekalian. Aku juga haus"
Hari ini adalah hari pertama tarawih yang kulakukan di luar tempat tinggalku, begitu juga dengan Lukman. Aku dan sahabatku Lukman adalah perantau dari kota kecil, disebut desa tidak begitu jadul disebut kota juga tidak begitu modern, maka kusebut tempat tinggalku kota kecil. Kami bekerja di kota besar dengan harapan besar layaknya kisah perantauan dramatis pemuda desa yang diceritakan di buku-buku pelajaran sekolah. Pergi merantau, kerja keras di kota, mudik, membahagiakan orang tua, adalah rencana kami, tetapi rencana manusia tidak selalu mulus.
Bulan ini adalah tepat enam bulan kami bekerja di kota besar ini.
Kami bekerja sebagai buruh di pabrik yang sama melalui agen tenaga kerja. Awal bekerja di pabrik ini semua berjalan lancar. Tiga bulan terakhir ada yang ganjil. Gaji belum dibayarkan, tetapi kami tetap disuruh bekerja. Ada isu kalau pabrik akan bangkrut, ada yang bilang bahwa pabrik akan digabung dengan pabrik lain. Entah mana yang benar yang jelas kami dijanjikan bahwa setelah hari raya idul fitri, gaji akan dibayar semua beserta THRnya. Semoga bukan janji palsu.
Bekerja tanpa dibayar selama tiga bulan adalah hal yang berat. Kecewa sudah pasti. Dan yang paling kecewa diantara kami berdua adalah Lukman. Demi mudik, dua bulan yang lalu Lukman bertemu Pak Burhan, bapak kos kami, untuk memohon ditangguhkan dulu biaya kos kami sampai setelah lebaran. Lukman pun bercerita tentang kesusahan kami. Walaupun, permintaan itu ditolak Pak Burhan dengan alasan tidak ada jaminan bahwa setelah lebaran, kos akan dibayar. Dia juga bilang kalau kami tidak bisa bayar kos, lebih baik pulang kampung saja. Oke Baik.
"Bisa ngaji juga kalian ya. Kukira hanya ktp. Haha" Pak Burhan bicara di pintu masuk. Kuhentikan ngajiku, tetapi tidak kujawab basa-basi Pak Burhan. Kulihat senyumnya sinis.
Pak Burhan menuju meja. diambilnya koran di bawah meja. Koran yang diambilnya itu sudah basi, berita seminggu yang lalu mungkin. Ada juga ya manusia yang suka berita basi.
"dasar sampah masyarakat" gumaman Pak Burhan itu membuat mukaku merah panas. Ingin rasanya kulemparkan asbak kaleng di atas meja ini ke kepalanya.
"Iya Pak ?" Lukman yang daritadi hape-an sambil tiduran dan menggunakan kakiku sebagai bantal pun bangun.
"Sampahnya kalau sudah selesai dibersihkan !" jawab Pak Burhan sambil melengos masuk ke dalam rumah.
"ustad sampah, kok bisa orang seperti dia jadi ustad, sok ngomong berlomba-lomba dalam kebaikan tapi kelakuan sendiri seperti kotoran" Lukman bicara pelan sambil melihat Pak Burhan dari belakang.
Hari ini kami baru mengetahui bahwa Pak Burhan adalah seorang ustad.
-------- ======= --------
"Jualan sore Pak Pardi ? kok baru nggoreng ?" tanyaku basa-basi ketika pulang kerja.
"iya mas Bintang, kalau jualan di pagi hari gak ada yang beli, masa orang puasa beli gorengan di pagi hari, warung-warung juga banyak yang tutup mas, hahaha" jawab Pak Pardi dengan bercanda.
Pak Pardi adalah penjual gorengan di depan kos kami. Gorengan yang dibuatnya enak, karena itu setiap pulang kerja kami selalu membeli dagangannya. Saat gaji kami ditahan pabrik, kami jadi jarang membeli gorengannya demi penghematan. Walaupun begitu, setiap dua atau tiga hari sekali Pak Pardi selalu memberi kami gorengan gratis.
Kami cukup akrab dengan Pak Pardi setelah kejadian itu. Setiap malam kami cerita banyak hal tentang kehidupan kami dan tempat tinggal kami. Demikian juga Pak Pardi. Kami mengetahui bahwa Pak Pardi mempunyai dua orang anak, SMP kelas 1 dan SD kelas 3. Dari sisi ekonomi, penghasilan yang dia dapatkan sedikit di bawah kami kadang juga tidak sampai setengah kami. Tetapi dia selalu berkecukupan.
Pak Pardi juga terkadang mengingatkan bahwa kehidupan di tempat kami mungkin berbeda dengan di kota ini. Kebiasaan, orang-orangnya ataupun lainnya bisa berbeda. Dia menyarankan agar kami menyesuaikan lingkungan di sini.
Kami masuk kosan, sebelumnya aku melihat Pak Burhan menyuruh anak laki-lakinya untuk mengantar makanan kotakan, entah kemana.
Kami buka puasa di kosan. lalu pergi ke masjid untuk solat magrib. Setelah solat magrib kami diberi makanan kotakan, di tempat kami, takjil gratis yang mewah seperti ini jarang. Aku diberi satu oleh pengurus masjid, kuterima, tetapi Lukman tidak mau. Ketika kami keluar masjid, di halaman masjid sudah banyak anak kecil bermain-main, sepertinya mereka menunggu sesuatu.
"Kenapa gak ambil kotakan di masjid ? kan gratis" tanyaku ketika sampai kosan.
"kamu tau nggak itu kotakan dari siapa ?"
"Pak Burhan kan"
"Makanya itu aku gak mau"
"Wih ayam bakar, mantap nih" kotakan kubuka. "kamu sih nggak mau nerima kotakan mayan ayam bakar, malah beli makan sendiri hmm"
"Orang kayak Pak Burhan baiknya pas ramadan aja, dapat pahala berkali-kali lipat gitu. Di luar ramadan, ya pelit lagi"
Kudengarkan kekesalan Lukman sambil makan, menurutku makanan dari siapapun adalah berkah.
"Mungkin kalau ramadan tidak memberikan pahala berkali-kali lipat, dia juga males buat nyumbang kotakan gitu"
"daripada dia buat kotakan mewah pas ramadan doang, kan mending dia buat nasi bungkusan aja, jadi di luar ramadan bisa ngasih terus"
"lagian di daerah sini orangnya juga banyak yang mampu secara ekonomi, jadi buat apa, mubadzir makanan kayak gini"
"kalau surga neraka gak ada, dia pasti gak bakal berbuat baik"
"Hus, nyocot ae koyok emak-emak, nasimu keburu basi" sambil kujejalkan semangka ke mulutnya.
"cok"
Sepertiga buat makanan, sepertiga buat air, sepertiga buat udara. makanan dan air sudah masuk, yang terakhir tentu rokok.
"aku mau tarawih di masjid sebelah aja" Lukman membuka omongan
"kenapa ?"
"tanya lagi, orang munafik kamu dengerin, mau jadi apa ?"
kali ini aku sepakat dengan Lukman, akhirnya kami memilih tarawih di masjid sebelah. Di sini penceramahnya bukan Pak Burhan.
------ ======== ---------
Hari ini adalah hari keempat puasa. pas hari libur kerja juga. Hari ini terasa sangat panas sekali. Kami punya rencana untuk buka puasa di tengah kota, mencari suasana, cuci mata sekalian. Setelah Asharan, kami bersiap untuk ngabuburit. Jam setengah lima berangkat. Ketika akan berangkat, kami berpapasan dengan Pak Pardi.
"Itu apa Pak ?" tanyaku
"kotakan gini lho"
"nasi kotak ?"
"bukan, nasi kaleng"
"Hahahaha"
"nasi kuning isinya"
"punya siapa Pak ?"
"ya punya saya, mau dibawa ke mesjid"
"owala"
"ngapain sih Pak nganterin gitu-gituan ?" Lukman yang selesai mengeluarkan motor ikutan nimbrung.
"lho mas Lukman ini gimana, di bulan ramadan ini kita harus berbuat kebaikan mas, bener gak mas Bintang ?" Pak Pardi mencari teman untuk pendapatnya.
"tapi kan pak, orang-orang di sini juga banyak yang mampu, mereka beli sendiri kan bisa" Lukman buru-buru menjawab
"saya taunya berbuat baik ya begini ini mas, hahaha"
"yah, kan sudah banyak Pak orang yang ngasih makanan kotakan ke masjid, daripada mubadzir lho gak ada orang yang makan, ini ibarat menggarami air laut Pak, eman"
"sampeyan ini ngomong apa sih mas, gak paham saya, yang makan bukan orang dewasa mas, tapi anak-anak, hahaha"
"hah ?"
"banyak anak kecil yang gak dapat kotakan soalnya mas, kasihan kan mereka juga puasa lho, masak yang orang gede-gede aja yang dikasih"
Lukman diam.
"Ya sudah mas, saya mau nganterin kotakan dulu ya"
"iya Pak, monggo silakan, kami juga mau ngabuburit" jawabku
"hati-hati mas"
Ketika duduk-duduk di taman tengah kota aku memikiran percakapan kami dengan Pak Pardi. Ketika melihat perilakunya, aku malu kepada diriku sendiri. Lukman juga sepertinya iya, terlihat dia lebih banyak diam. Sore ini, kami menunggu azan magrib sambil dengan tidak banyak bicara.
Minggu, 12 November 2017
Apalah arti sebuah singkatan
Apalah arti sebuah singkatan
Sewaktu sekolah, pasti pernah tau singkatan NKKBS, KMB, BPUPKI, PPKI, (ups dua kali menyebut huruf mutiara), ABRI atau sejenisnya. Kalau enggak ingat singkatan-singkatan di atas, berarti masa sekolah kalian kebangetan.
Sebenarnya makna singkatan sendiri itu apa sih. terus apa bedanya dengan akronim? terus kalau nama orang boleh disingkat-singkat begitu ? (sebentar, kayaknya uda terlalu melebar)
Oke, Kita mulai dari definisi singkatan. Kbbi mendifinisikan bahwa singkatan adalah hasil menyingkat/memendekkan, berupa huruf atau gabungan huruf, misal DPR. Sedangkan akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar, misal sidak (inspeksi mendadak, ini serem kayaknya).
OKE, dari sini sudah tau kan bedanya singkatan dengan akronim. TAPI, saya tidak akan membahas perbedaan singkatan dengan akronim. Saya justru mencari persamaan diantara keduanya. Mungkin dari penjelasan kbbi di atas. Ada dari kita yang berpikiran, apa sih bedanya singkatan dan akronim kalau sama-sama memendekkan huruf? ya kan, huehehe. Nah makanya itulah persamaannya. Dan maksud singkatan yang ada di judul tulisan ini merujuk pada persamaan antara singkatan dengan akronim. paham ? pinter. sip. seratus.
Terkadang, sebuah frase kata mempunyai sebuah singkatan yang disepakati oleh komunitas masyarakat tertentu.
Ada cerita beberapa tahun yang lalu ketika saya hendak lanjut kuliah (formal banget sih). Waktu itu singkatan dari teknik industri bukan disingkat TI. Tapi tekdus. iya tekdus. bukan teknik kardus. bukan pula teknik dus dus. tekdus adalah singkatan yang disepakati oleh anak SMA waktu itu untuk teknik industri (gk tau sepakatnya kapan). Yang jelas begitu kalian mengucap kata tekdus, berarti artinya adalah teknik industri.
Ketika saya masuk kuliah, mulai terjadi pergantian singkatan tekdus menjadi TI. Bermula dari senior yang mengetahui bahwa MaBa sering menggunakan singkatan tekdus untuk teknik industri. Mereka pun meluruskan bahwa singkatan teknik industri adalah TI, bukan tekdus. Segitunya ya, iya segitunya. Dan sebagai warga minoritas kami pun menuruti apa kemauan mayoritas (maba adalah minoritas, huehuehue). Daan seiring berjalannya waktu, singkatan tekdus pun hilang bagai debu digantikan oleh TI.
Terkadang satu singkatan mempunyai berjuta arti.
Coba sebelum membaca paragraf di bawah ini. Tolong fokus dulu ke paragraf ini. Karena saya memunculkan beberapa singkatan. Tolong jawab menurut persepsi kalian secepat mungkin. DPR, TKP, dan SBY.
1
2
3
Oke, mari saya jelaskan satu-satu singkatan yang saya maksud di atas. jawabannya adalah
1. DPR , Durung payu rabi
2. TKP, tempat khusu panggung
3. SBY, surabaya
Oke, bagi kalian yang menjawab benar saya ucapkan selamat, udah itu aja.
Dan di dunia ini memang ada singkatan yang punya banyak arti. Contoh di atas adalah sebagian kecil saja.
Apa singkatan dari AH ? (Mirip pertanayaan cerdas cermat saat agustusan jadinya, lol)
Ketika orang memilih jawaban, Ahli Hukum, mereka tidak salah. Agus Harimurti, mereka juga tidak salah. Anies Haswedan, mereka salah, eh saya salah, salah ketik, sorry typo. Atau A Hok, mereka juga tidak salah.
Sore-sore di warung kopi, tiba-tiba saya mendengar dua orang bercakap-cakap.
"ayok main ML bareng"
Buset main ML di warkop, dan saya melihat mereka mengeluarkan HP untuk bermain Mobile legends. ooo ternyata.
Selamat sore dari warkop.
Jumat, 21 April 2017
Kiamat itu kita ciptakan
Kiamat itu kita sendiri yang menciptakannya. Begitulah kira-kira lirik lagu yang kudengar semalam dari solois folk asal luar Surabaya. Kita adalah manusia yang tinggal di bumi.
Sekarang Hari Kartini, dan besok adalah Hari Bumi. Mau cocoklogi kedua hari peringatan yang selisihnya sedetik ini nih, soalnya kedua hari peringatan ini ya nyambung dan berhubungan.
Hari ini kita memperingati hari Kartini. Dulu Kartini dan perempuan-perempuan hebat lainnya memperjuangkan salah satunya adalah perempuan mempunyai akses pendidikan yang setara dengan laki-laki. Dan kesetaraan akses pendidikan bukan hanya sebatas masalah gender. Kalau dilihat kondisi jaman sekarang, akses pendidikan masih belum sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Hubungannya apa sih dengan hari bumi. Ya kalo setiap manusia di Indonesia atau dunia pada umumnya masih menganggap bumi sebagai tempat tinggal mereka, pengetahuan tentang itu harus merata dong. Akses pendidikan harus terbuka bagi semua orang tanpa memandang golongan ataupun SARA. Jika setiap orang mendapat akses pendidikan, maka mereka bisa berperan menjaga bumi, itu sih.
Entah bumi yang flat atau yang globe. Mending kalo globe, (kalaupun yang terjelek beneran rusak), kita masih bisa ngungsi ke planet lain atau mbuat pesawat angkasa kayak di film Interstellar
Lah kalo flat, sekalinya rusak ya game over.
Udah itu aja.
Selamat Sore
Selasa, 18 April 2017
Bersantai naik perahu nambang
Pernah naik perahu nambang sambil motoran gak ? Kalau pernah, berarti kamu orang yang cukup nekat. Karena gak semua orang berani naik perahu nambang sambil motoran. Enggak perlu jauh-jauh motoran. Ada lho orang yang takut naik perahu nambang, alasannya takut perahunya terbalik. Nah.
(Gambar nyusul) hehehehe
Perahu nambang atau dikenal dengan tambangan merupakan perahu yang digunakan untuk menyebrangi sungai. Kalau dilihat dari desain perahu nambang, perahu ini merupakan modifikasi dari rakit. Dan digunakan untuk menyebrangi sungai.
Kalau di perkotaan, tambangan biasanya digerakkan dengan menggeret perahu. Ada dua kawat besar atau tali tampar yang dibentangkan di kedua sisi sungai. Nah dari situ, nahkoda perahu nambang mengoperasikan perahu dengan menggeretnya. Ada rantai yang mengikatkan kapal dengan kawat, rantai ini fleksibel mengikuti gerakan perahu, fungsinya agar perahu tidak terhanyut aliran sungai.
Pengalaman itu berbeda ketika di luar Surabaya. Aku pernah naik tambangan untuk melewati sungai berantas. Dan itu merupakan pengalaman yang cukup horor. Ya wajar aja kalau ada orang yang takut naik tambangan. Pertama dari sisi safety, tidak ada pagar pengaman perahu seperti tambangan di perkotaan, jadi ya hampir mirip rakit. Kedua, aliran sungainya lebih cepat dari sungai yang di Surabaya. Ketiga, kapal ini digerakkan dengan mesin perahu, jadi saya saranin untuk selalu berdoa supaya mesin tidak rusak atau kehabisan bahan bakar. Karena kalau itu terjadi, berarti siap-siap untuk terhanyut di sungai.
Banyak alasan orang memilih untuk naik tambangan. Bisa jadi alasannya jalanan macet, jarak jembatan yang sangat jauh, panas, enggak mau lama di jalan. Aku memilih perahu nambang adalah biar enggak capek. Daripada motoran di jalan macet yang panas, lebih enak nambang.
Sebenarnya kalau dihitung secara ekonomis banyak opsinya sih. Misalnya gini, jarak untuk ke jembatan sejauh 3 kilometer, dan jalannya macet, perlu waktu setengah jam untuk sampai ke seberang jalan. Maka yang pilihan yang enak ya naik tambangan. Walaupun kita berasumsi bahwa rupiah bensin yang habis untuk menempuh jarak segitu dengan kondisi macet sama dengan rupiah yang dikeluarkan untuk naik tambangan, 1000 rupiah. Tetapi kita tidak akan capek melewati jalanan macet. Dan waktu yang diperlukan juga cepat 10 menit (tergantung ramainya tambangan juga).
Bisa juga orang pengen naik tambangan karena merasa jalannya itu jauh. Atau jalanan udah enggak macet nih, dan enggak panas. Tapi orang memilih naik tambangan karena ingin bersantai sebentar. Menyalakan sebatang udud dan membayangkan kapan Surabaya ada transportasi sungai.
Kamis, 23 Maret 2017
Dikira wartawan
| Sepeda kece |
| Pagi-pagi yang pakai sepeda onthel banyak juga |
Minggu, 05 Maret 2017
Para penikmat teh
Kedai teh Z adalah kedai teh yang terkenal di daerah antah berantah. Kedai itu terkenal karena menyediakan beraneka ragam suguhan teh. Pengunjung juga bermacam-macam dan mereka senang dengan kedai tersebut.
Tetapi suatu sore ada kejadian unik yang tidak seperti biasanya. Seorang pengunjung mengajak temannya dari daerah lain untuk menikmati teh di kedai Z. Seperti biasa, kedai tersebut ramai. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah kursi di bagian tengah. Lalu mereka pun duduk dan memesan teh.
A: wah rame banget ya tempatnya
B: tempat ini rame karena tehnya mantap
A: ah masak sih
B: nanti rasain sendiri
Teh yang mereka pesan datang.
A: wah emang tehnya bener2 mantap
B: nah, gak salah kan rekomendasiku
A: tapi ada yang aneh deh dari orang2 di sini, liat tehnya mereka, masak ada yang dikasih susu, terus coba liat yang sebelah situ, ada yang dikasih lemon, teh apaan tuh
B: lho disini emang banyak macem tehnya
A: aneh liat teh dibikin kayak gitu, belum lagi liat orang-orangnya, cara minumnya aneh2. Ada yang pake sedotan, terus
ada yang pake lepek lah, Helloo, ini teh atau kopi.
B: Toh mereka enak2 aja, kan gak masalah
A: lho ya jelas masalah lah. teh itu harus murni kayak kita gini nih. Cara minumnya juga harus diperhatikan.
B: Terserah mereka sih minum teh kayak gimana, ngapain diurusin
A: lho enggak bisa, teh itu harus murni, nanti aku ngomong pemilik kedainya supaya harus teh murni yang disuguhin di sini.
B: ngapaiinnn
C: gulanya kepake enggak, aku ambil boleh ?
Seorang penikmat teh yang dicampur blewah yang ada di dekat mereka meminta gula yang tersisa.
A: (diam sebentar) sorry gulanya uda aku pake, kenapa gak minta pelayannya aja ?
C: ooh pake gula toh, hahaha (ketawa ngejek)
A: ngapain ketawa2
C: bro bro, ngomong soal teh murni bla bla bla, tapi situ pake gula juga ternyata.
A: ya biar manis. Beda lah, gula kan gak mengurangi kemurnian teh
C: hahaha, udah ah
Penikmat teh blewah pun melanjutkan kesibukannya. Sepertinya dia sebel juga dengan ocehan teh murni si B
D: ealah puritan abal2 ternyata
E: hahaha iya, namanya juga abal2, ada aja lah keunikannya
D: kalo puritan beneran ya harus siap dong gak pake gula
E: gak pake sendok juga buat ngaduk gulanya
D&E: hahahahha
Dua orang penikmat teh dicampur kentang di dekat mereka sengaja meninggikan obrolan.
Merasa tersindir, kuping A pun memerah. Mau membalas nyerocos pun juga sudah kehabisan kata2.
A: ayok kita pulang
B: lah teh mu masih banyak gitu.
Merasa tak nyaman, A mengajak pulang. Saat perjalanan pulang, A ngedumel tentang betapa tidak ramahnya para pengunjung kedai teh Z dan akan tetap berusaha ngomong tentang rencananya ke pemilik kedai. B pun hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar temannya ngoceh gitu.
Ngeteh dulu yuk biar seger
Kamis, 12 Januari 2017
Hujan, disambati atau disyukuri ?
Hujan. Satu kata. Lima huruf. Banyak yang suka. Banyak pula yang dongkol. Bagi orang-orang penjual minuman hangat, inilah suasana yang pas. Biasanya banyak pembeli mampir ke kedai atau warung untuk menikmati minuman ini. Bagi petani yang tanamannya lagi butuh air, hujan adalah kondisi yang penuh rejeki. Tidak butuh pompa untuk mengairi tanaman mereka
Tapi hujan juga bisa menjadi hal yang tidak disukai oleh petani. Ketika tanaman mereka sudah siap panen, hujan yang sangat deras bisa menggagalkan panen mereka. Begitu juga denganku yang kemarin baru saja berkeliling pulau Madura untuk pertama kalinya. Hujan yang sangat deras turun, menghentikan perjalanan sejenak sehingga singgah lebih lama di warung makan.
Kaget ? Mungkin. Gabungan antara pasrah, kaget dan menikmati sih sebenarnya. Waktu yang seharusnya direncanakan untuk perjalanan bermotor, akhirnya harus berhenti sejenak karena hujan. Cukup lama memang. Dan aku tidak tahu kapan hujan akan berhenti karena ku melihat langit di Madura masih sangat gelap.
Saat itu ku berpikir, kok hujan ya ? Kenapa enggak ? Kan langit uda mendung ? Tapi kok deras banget ? Ya udah lah. Toh dengan begitu bisa istirahat sejenak ketika perjalanan berkeliling Madura. Bisa jadi itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkan untuk beristirahat sejenak agar bisa fresh melanjutkan perjalanan.
Dan begitu pula dengan saat ini, karena hujan yang sangat deras in juga aku menulis untuk yg pertama kali di tahun 2017 :D
Senin, 08 Februari 2016
Tempat persinggahan sementara
"Di bandara 1 atau 2 mas ?" Tanya si supir
"Wah dimana ya, aku juga gk tahu e pak, hehe"
"Wah, masnya naik pesawat apa ?"
"Citilink Pak"
"Oh berarti di bandara 2 itu"
"Ooh"
Aku berangkat dari Gresik menuju Surabaya naik taxi. Aku berangkat 2 jam dari gresik sebelum penerbangan keberangkatan. Sebenarnya aku tidak tahu pesawatku akan terbang dari bandara mana ketika ditanya oleh sopir taxi. Dan waktu itu pun aku juga baru tahu kalau waktu 2 jam sangatlah mepet untuk sebuah penerbangan pesawat jika berangkat dari Gresik.
Suasana di Terminal 2 Juanda pagi itu lumayan sepi. Mungkin karena bandara ini memang baru beroperasi. Bandaranya memang besar dan tertib. Ketika pertama kali datang ke sini memang nyaman dan bersih. Bandara ini memang ditujukan untuk penerbangan internasional.
Aku berjalan masuk ke bandara. Saat itu adalah pertama kali aku naik pesawat. Hal yang aku tuju pertama kali adalah loket maskapai penerbangan terkait. Hahaha. Setelah bertanya-tanya ke pegawai loket, aku pun menuju ke tempat untuk menaruh barang ke bagasi. Aku pun mengeluarkan KTP dan menunjukkan kode booking tiket ke petugas.
Ada waktu sekitar 15 menit untuk bersantai setelah memasukkan barang yang perlu dimasukkan ke bagasi pesawat. Aku memilih keluar ruangan untuk mencari "udara". Di luar ruangan bandara yang ber-AC, pagi itu terasa panas. Memandangi langit luar yang biru membuatku nyaman. Aku melihat suasana orang-orang yang beraktifitas di Bandara. Banyak yang berseliweran untuk menuju tujuan masing-masing. Entah kemana tujuan mereka, bandara merupakan tempat persinggahan sementara untuk meneruskan perjalanan.
Ketika waktu 15 menitku habis, aku menuju ruang tunggu pesawat. Di tempat itulah aku menunggu untuk naik pesawat. Singgah sebentar untuk menuju tempat tujuanku.
Selasa, 02 Februari 2016
Mengklakson disaat yang tepat
Ada perasaan mangkel ketika aku berhenti di lampu merah kemudian lampu berubah menjadi hijau menandakan kendaraan harus jalan. Rasa mangkel karena ada pengendara di belakang yang dengan tidak sabarnya terus-menerus mengklakson kita dengan kerasnya yang ada di depan. Seolah-olah kita tak tahu apa yang akan dilakukan saat lampu hijau.
Terkadang aku juga ingin mengklakson orang yg ada di depanku. Tetapi setelah kupikir2 untuk apa? Toh mereka yang di depanku juga akan jalan.
Klakson sebenarnya adalah berupa terompet yang dibunyikan dengan listrik pada kendaraan bermotor yang digunakan sebagai tanda peringatan akan keberadaan kendaraan tersebut, pengertian menurut KBBI.
Sebagai contoh, ketika kita sedang enak-enaknya di tengah jalan dengan kecepatan tinggi. Lalu di depan kita ada pengendara yang mau masuk ke jalan. Kita yang gak mungkin mengerem mendadak, harus membunyikan klakson sebagai tanda peringatan agar tidak terjadi tabrakan. Menurutku, mengklakson di sini tepat karena memperingatkan pengendara lain untuk waspasa terhadap pengendara yang sedang melaju.
Tetapi terkadang masih ada orang yang belum paham itu. Misalnya saat jalanan macet. Orang tentu tahu kalau di depan jalanan sedang macet. Tidak mungkin berjalan cepat. Ada orang yang dengan keras dan terus menerusnya menekan klakson kendaraannya. Fungsi dari mengklakson pun kurasa tidak pas saat dilakukan di kondisi seperti itu. Yang ada malah menimbulkan rasa kesal terhadap pengendara lain.
Mengklakson sendiri merupakan tindakan peringatan terhadap pengguna jalan lain. Hal ini dilakukan agar pengguna jalan lain waspada. Tetapi mengklakson yang bukan pada tempatnya biasanya akan menimbulkan suatu perasaan kesal terhadap orang yang mengklakson. Sudahkah kita mengklakson dengan tepat ?
Jumat, 29 Januari 2016
Taman kota, hiburan alternatif Warga Surabaya ?
Saat aku kecil, ayahku pernah mengajakku ke balai Kota Surabaya. Menikmati suasana taman. Bermain-main. Ataupun menikmati jajan yang telah dibawa dari rumah. Tetapi saat ini, taman di balai kota sudah ditutup untuk umum, barangkali faktor kebersihan menjadi pertimbangan ditutupnya taman yang terletak persis di depan gedung balai kota.
Menurut Laurie, taman adalah sebidang lahan berpagar yang digunakan untuk mendapatkan kesenangan, kegembiraan, dan kenyamanan. Taman biasanya ditanami dengan aneka macam tumbuh-tumbuhan, seperti pohon-pohon dan bunga-bunga. Ada juga taman yang dibangun sebuah monumen untuk mengenang sebuah peristiwa bersejarah atau seorang tokoh.
Di Surabaya sendiri sudah banyak taman. Seperti taman bungkul yang terletak di jalan raya darmo. Taman apsari yang terletak di depan grahadi. Taman mundu yang terletak di depan gelora sepuluh nopember. Taman pelangi di bunderan dolog. Dan banyak lagi taman-taman kota lainnya.
Warga Surabaya biasanya mengunjungi taman-taman tersebut. Entah untuk menikmati suasana taman atau foto-foto selfie ataupun kegiatan lainnya. Para pedagang pun punya cara tersendiri untuk menyikapi sebuah taman kota. Seperti contoh di Bungkul, malam hari adalah waktu yang cocok untuk menawarkan dagangan mereka.
Namun ada juga orang-orang yang kurang peduli akan sebuah kebersihan dari taman kota mereka sendiri. Gelas-gelas plastik atau bungkus makanan yang dibeli dari pedagang biasanya mereka geletakkan begitu saja di tempat. Seolah-olah membeli makan di warung. Tidak ada upaya untuk membuangnya ke tempat sampah. Padahal tempat sampah sendiri sudah cukup banyak disediakan.
Hal-hal tersebutlah yang terkadang membuat taman kota terlihat kotor. Walaupun memang ada petugas kebersihan untuk membersihkan taman.
Tetapi alangkah baik ketika sampah yang mereka hasilkan, mereka buang sendiri. Hal ini tentu akan berdampak kepada pengunjung lain yang datang. Mereka akan senang melihat sebuah taman yang bersih dan akan sungkan untuk mengotorinya. Dengan begitu, mewujudkan taman kota yang menimbulkan kesenangan dan kenyamanan tidak susah bukan ?
Saya melihat, taman kota memang sebuah hiburan tersendiri bagi warga Surabaya. Ketika sebuah hiburan hanya berkutat pada mall, cafe, wahana bermain berbayar, ataupun pantai.
Minggu, 24 Januari 2016
Wisata malam dan keamanan di Surabaya
Berkendara tengah malam memang harus dilakukan dengan berhati-hati. Karena jam-jam tersebut memang jam rawan terjadi kejahatan. Banyak suatu kejadian tak enak terjadi. Mulai dari penjambretan, penodongan, perampasan kendaraan bermotor seacara paksa dan berbagai tindakan kriminal lainnya.
Surabaya malam hari
Kota Surabaya sudah semakin cantik ketika malam hari. Hal ini karena pengaruh dari lampu-lampu kota, taman-taman yang bersih, ruang publik yang semakin banyak dan kebersihan kota yang juga diperhatikan. Hal ini menjadi hiburan alternatif malam tersendiri bagi warga Kota Surabaya.
Berkembangnya spot foto mulai dari foto spot tempat bersejarah sampai taman-taman kota menjadi hal yang menjamur tahun-tahun ini. kuliner tengah malam, ataupun sekedar menikmati suasana malam hari di Surabaya menjadi hal yang lumrah. Hal ini juga menunjukkan bahwa tingkat keamanan di jalan raya di Surabaya saat malam hari terlihat aman. Tapi apakah semua jalan raya di Surabaya saat malam hari aman ?
Keamanan di jalan raya
Spot foto populer, taman-taman atau tempat kuliner populer biasanya terletak di jalan raya yang lumayan besar. Maka kemungkinan kejahatan di tempat2 tersebut kecil. Hal yang berbeda ketika kita melewati daerah yang sepi dan minim penerangan. Kita harus hati-hati mlewati jalan tersebut. Titik-titik rawan bisa ditandai. Biasanya ada polisi yang berkeliling di daerah tersebut. Kewaspadaan memang harus ditingkatkan di daerah tersebut, atau untuk amannya sih tidak usah lewat jalan tersebut. Memutar arah atau memilih rute yg jauh, lebih baik untuk keselamatan.
Selasa, 19 Januari 2016
Ketika alayers menyerang
"Tahapan orang di Indonesia itu ada 4. Anak-anak -> Remaja -> alay -> lalu dewasa." Katanya mas Raditya Dika sih gitu ketika stand up beberapa tahun lalu. Apa benar ?
Apa sih alay itu ?
Menurut kbbi, hmm, bahkan kbbi pun ogah mengartikan kata alay, hmm
FENOMENA SELFIE DI TAMAN BUNGA
Tahun 2015, tercatat sebagai tahunnya kaum alay(berdasar pengamatan fesbuk). Sebuah taman bunga di daerah Jogja(kalau gk salah) menjadi korban kaum alayers. Alayers cewek menjadi korban bully orang-orang sejagad dunia maya Indonesia setelah dengan bangganya mengupload foto menginjak bunga-bunga yang ada di taman tersebut.
"Aku kan udah bayar 10ribu rupiah untuk masuk taman ini, ya boleh dong aku nginjek-nginjek tamannya." Tulis gadis itu di akun sosmednya.
Hal tersebut spontan mengundang reaksi netizen. Berawal dari sebuah share screenshot salah satu orang, viral pun menyebar. Kata-kata (bijak) pun keluar dari netizen.
Masih di kota yang sama, Jogja. Pernah tahu tempat kaliurang ? Disitu ada sebuah taman lampion. Taman ini baru dibuka pada Desember 2015 lalu. Tempat tersebut memang ditujukan bagi mereka yang ingin wisata sambil berfoto selfie. Tempat yang bagus memang, tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Ups(sejak alayers menyerang). Para alayers dengan (ke)tidak tahu(an) (diri)nya berselfie ria di tengah-tengah taman bunga buatan yang dialiri arus listrik.
"Mugo-mugo ae kesetrum" ujar seorang netizen melihat fenomena tersebut.
SELFIE SAAT LAMPU MERAH
Masih ingat seorang pengendara sepeda ontel yang menghadang konvoy harley davidson ?
Menurut pengendara sepeda, Konvoy HD tersebut salah, karena melanggar lampu merah saat konvoynya.
Dari pengamatan(asal-asalan)ku. Dari situ lah cikal bakal orang selfie di lampu merah. Awalnya satu orang foto selfie di lampu merah dengan tiduran di tengah jalan. Tujuannya baik, mengingatkan pengendara bermotor untuk taat terhadap peraturan lalu lintas. Tetapi....
Lama kelamaan tujuan dari selfie ini pun bergeser. Para alayers pun menyerang spot-spot lampu merah. Berbagai macam ide kreatif mereka tunjukkan. Tapi ya itu, aku liat selfie tersebut hanya ditujukan sebagai ajang foto-foto biar dianggap kekinian. Sebatas itu. Bahkan tak jarang membuat pengendara bermotor kesal. Kzl. 😧
ALAYERS SEBELUM ERA SMARTPHONE
Pernah tau ada corat-coret di sebuah batu, tembok-tembok wisata ataupun tempat-tempat umum lainnya ?
Dulu sebelum smartphone menjadi pegangan wajib umat manusia modern. Alayers sudah merekam jejak alay mereka lewat vandalisme yang mereka buat.
"Ben was here..."
"Herp ♡ Derp ..."
"17 Januari 200x ... "
Dan hal-hal kreatif lain yang bukan pada tempatnya.
Sebenarnya banyak juga sih fenomena alay di tahun 2015 jika kita merunut dari bulan Januari ke Desember. Fenomena-fenomena tersebut mungkin bisa jadi sebuah bahan sebuah karya tulis, skripsi, ataupun tesis bagi mereka yang ingin menganalisisnya lebih lanjut.
Akupun sempat menyaksikan serangan alayers secara langsung ketika mengunjungi monumen suro dan boyo. Dengan pedenya, mereka berfoto selfie tanpa tahu aturan. Memanjat-manjat monumen, lalu say chas, say chiss, ckrik ckrik, asu lah kupikir.
Biasanya sih alayers adalah anak muda. Anak muda yang menuju proses dewasa. Biasanya alayers ini ingin "tampil beda" diantara teman-teman sepergaulannya. Biasanya sih mereka ini bersikap berelebihan, terlebih lagi tanpa mengetahui seperangkat aturan/etika yang telah disepakati masyarakat. Sisi kreatif memang bagus, tetapi ketika berlebihan dan kurang akan pemahaman aturan/etika. Jadinya ya norak, kampungan, alay.
Jika alay adalah sebuah cara bersikap dalam suatu hal, maka usia berapapun, manusia sebenarnya masih bisa alay. Usia berapapun sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk alay.
Hal ini bisa diliat dari sebuah aksi orang-orang yang foto selfie saat/pasca kejadian teror Jakarta kemarin. Bingung sebenarnya untuk menuliskan sebuah aksi orang-orang itu sebagai apa. Nilai sendiri...
Tapi dari tempat entah dimana di negeri ini, alayers lainnya mungkin iri melihat orang-orang itu. Merencanakan pose apa yang akan mereka ambil saat kejadian serupa berulang kemudian mengunggahnya di media sosial. Tidak lupa dengan sebuah tagar kamitidaktakut
Duar !
Siraman Rohani di lampu merah
Siang itu, aku berhenti di lampu merah salah satu perempatan besar kota ini
Hati ini mendadak adem karena siraman rohani dari toa dekat situ, tapi ada yg aneh, toa itu bukan berasal dari tempat ibadah, tetapi toa lampu merah
Ya, Toa lampu merah yang biasanya meneriakkan himbauan lalu lintas
berubah jadi siraman rohani.
Aku tidak mempermasalahkan masalah siraman rohani tersebut jika diserukan dari tempat ibadah sekitar situ.
Tetapi siraman rohani yang datang dari toa di lampu merah ?
Ah, Makin relijius aja kota ini :D