Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2018

Lembaran Baru

Hari yang indah. Aku berada di tengah taman kota. Dikelilingi oleh pepohonan dan bunga-bunga, aku rasa tempat ini sangat istimewa. Banyak juga orang-orang yang datang ke taman ini. 

Udara terasa sejuk saat angin berhempus. wuuss. Di langit, warna biru sangat dominan karena awan terlihat sangat sedikit sekali. Di dekatku ada tiga orang laki-laki asik ngobrol. Sepertinya mereka selesai makan-makan.

"Yang kanan atau yang kiri bro menurutmu ?" tanya orang yang bertopi kepada teman2nya
"yo seng kiri lah, 85 itu" kata yang berambut gondrong
"aku yo setuju, tapi 85 terlalu tinggi, 80 lah" si botak menanggapi.

"arah jam 8, muasuk pol" kata rambut gondrong. Laki-laki bertopi buru-buru menengok ke belakang.
"yo biasa ae, gak usa ngegas ngunu"

"hancuk, arek cilik iku, pendek gitu, masuk apanya, masih blm punya ktp itu" balas laki-laki bertopi.
"kok tau kalo dia belum punya ktp. liat tampilannya, udah dewasa itu"
"sek cilik iku" si botak memotong
"hahahaha" laki-laki bertopi tertawa lepas
"asu"

Obrolan mereka seru. Asik punya teman yang seperti itu. Aku punya banyak teman. Tapi kebanyakan dari mereka sudah berada di luar kota. Banyak yang ke laut dan gunung. Banyak yang pulang membawa cerita-cerita fantastis. Tapi tidak sedikit dari teman-temanku yang terkena musibah. Yang pergi ke laut, ada yang tidak kembali. Ada juga yang berkahir dengan terkubur entah dimana.

Aku bersyukur masih bisa berada di tempat seperti ini. Meskipun tadi pagi ada kejadian yang tidak mengenakkan. Aku sangat ingin pergi ke tempat-tempat baru tapi apa daya. Perempuan yang berkeliling car free day bersamaku tadi pagi meninggalkan aku sendirian di sini. Sedih ? enggak juga.

Sudah lama aku berada di tengah taman ini. Mengamati berbagai macam orang yang berlalu-lalang. Tidak sedikit yang mengamatiku. Tidak terasa hari sudah mau magrib langit jadi mendung, padahal tadi pagi sampai siang cerah.

"srek srek srek srek" suara sandal digesek-gesekkan ke tanah. di dekatku ada dua orang perempuan.
"kamu ngapain Na ?"
"ini, nginjek tai ayam sepertinya La"
"hahaha, ya ke wc la bersih-bersih"
"ngapain, gini doang aja"
"seterah mu wes, ayok cepetan kayaknya mau hujan nih Na"

Tidak lama kemudian hujan deras datang. Orang-orang pun sibuk dengan dirinya masing-masing. Mencari perlindungan sendiri-sendiri. Ada yang ke tenda, di bawah pohon, dan gazebo.

Aku masih di sini. Di tengah taman. Ku nikmati derasnya air hujan yang turun ini. Dari samping banyak anak-anak abg hujan-hujan sambil bawa bola. Satu orang anak menendang bola kearahku. Aku terhuyung-huyung. Terjatuh.

Sampai anak-anak itu bermain bola dan hujan selesai. Aku masih terjatuh. Kemudian ada orang yang memegangku. Lalu gelap.

Aku tidak tau sudah berapa lama keadaan gelap ini. Ketika sudah tidak gelap, aku berada di sebuah tempat baru yang banyak meja dan kursi. Diguntingi oleh seorang laki-laki, dicat warna-warni lalu ditempel mengelilingi ke lampu. Kemudian bersama lampu digantung di atap untuk menerangi ruangan penuh kursi dan meja.

Jumat, 21 April 2017

Kiamat itu kita ciptakan

Kiamat itu kita sendiri yang menciptakannya. Begitulah kira-kira lirik lagu yang kudengar semalam dari solois folk asal luar Surabaya. Kita adalah manusia yang tinggal di bumi.

Sekarang Hari Kartini, dan besok adalah Hari Bumi. Mau cocoklogi kedua hari peringatan yang selisihnya sedetik ini nih, soalnya kedua hari peringatan ini ya nyambung dan berhubungan.

Hari ini kita memperingati hari Kartini. Dulu Kartini dan perempuan-perempuan hebat lainnya memperjuangkan salah satunya adalah perempuan mempunyai akses pendidikan yang setara dengan laki-laki. Dan kesetaraan akses pendidikan bukan hanya sebatas masalah gender. Kalau dilihat kondisi jaman sekarang, akses pendidikan masih belum sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.

Hubungannya apa sih dengan hari bumi. Ya kalo setiap manusia di Indonesia atau dunia pada umumnya masih menganggap bumi sebagai tempat tinggal mereka, pengetahuan tentang itu harus merata dong. Akses pendidikan harus terbuka bagi semua orang tanpa memandang golongan ataupun SARA. Jika setiap orang mendapat akses pendidikan, maka mereka bisa berperan menjaga bumi, itu sih.
Entah bumi yang flat atau yang globe. Mending kalo globe, (kalaupun yang terjelek beneran rusak), kita masih bisa ngungsi ke planet lain atau mbuat pesawat angkasa kayak di film Interstellar
Lah kalo flat, sekalinya rusak ya game over.

Udah itu aja.
Selamat Sore

Jumat, 02 September 2016

Ini Kisah Tiga Dara (review)

Film 'Ini Kisah Tiga Dara' merupakan film yang terinspirasi dari sebuah film drama musikal karya Usmar Ismail di tahun 1956 yang berjudul 'Tiga Dara'. Nia Dinata sebagai sutradara dan penulisan skenario bersama Lucky Kuswandi mampu memasukkan sebuah keadaan yang boleh dibilang memang ada dan benar-benar terjadi di masyarakat kita saat ini dengan sangat halus. Mulai dari keadaan sosial sampai ke hubungan lintas generasi dalam keluarga.

Film musikal adalah film yang ada adegan-adegan pemainnya bernyanyi dan menari ketika mengekspresikan emosi karakter-karakternya.

Film ini bercerita tentang kehidupan tiga orang kakak beradik Gendis(Shanty), Ella (Tara Basro) dan Bebe(Tatyana Akman) yang tinggal  bersama Oma mereka(Titiek Puspa).  Sementara ayah mereka sibuk dengan pekerjaannya.

Terasa musikalnya film ini sudah langsung hadir di adegan pertama ketika Gendis, Ella dan Bebe naik taksi untuk pulang ke rumah mereka. Keadaan Jakarta macet yang tidak bisa bergerak padahal rumah sudah dekat. Daaan, mereka pun bernyanyi dan menari untuk mengekspresikan emosi mereka. Dan juga saat Oma merasa bahwa cucu-cucunya ternyata sudah tidak kecil lagi ketika dia melihat koleksi foto saat mereka masih kecil.

Sebelum pindah ke Maumere untuk menjalankan bisnis hotel, kakak beradik ini menggelar dagangannya di rumah mereka. Disitu aku melihat para perempuan mandiri, mengatur bisnis mereka sendiri. Sebuah hal yang lumrah di jaman sekarang. Tapi mungkin saja keadaan sosial itu berbeda ketika film yang aslinya diputar pada tahun 1956.
Di bagian ini karakter Oma yang ingin terbaik untuk cucu-cucunya menurut versinya mulai terlihat. Mungkin sebuah perasaan gengsi atau iri atau apapun itu ketika Oma bercengkrama dengan teman-teman sebaya Oma dan mendengar bahwa cucu mereka ada yang sudah menikah dan menimang anak. Dan keadaan itulah yang menurutku dijadikan Oma menginginkan cucu pertamanya untuk segera menikah.

Akting dari para artisnya sesuai porsinya masing-masing. Dan karakter tokoh-tokohnya pun dapat.

Konflik antar karakter dan kehidupan sosial yang terjadi saat ini mampu diblend oleh sutradara dengan sangat sangat smooth. Misalnya, saat mereka bernyanyi dan menceritakan bahwa tradisi yang ribet ketika orang akan menikah. Lalu ketika Gendis dan Yudha berpapasan di pasar. Melalui percakapan dua tokoh itu, sutradara menggambarkan bagaimana amannya kondisi di Maumere ketika Gendis tidak mengunci mobilnya ketika parkir.  Atau ketika tiga dara ngobrol bersama Oma, lalu mereka pun bernyanyi untuk menggambarkan bagaimana sosok matriarki Oma. Dan banyak lagi. Hal-hal tersebut yang membuatku menilai kalau film ini sangat-sangat bagus.

Terakhir untuk iklan. Porsi iklannya pas menurutku. Sutradara mampu memasukkannya dengan smooth.

Ini kisah tiga dara bisa jadi jawaban untuk orang-orang yang mencari film Indonesia yang bagus.
4,8/5.

Selasa, 26 Januari 2016

Pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan yang merata di Indonesia

Manusia semakin dituntut oleh alam untuk berinovasi dalam hal penggunaan energi. Sudah banyak dampak negatif dari penggunaan energi konvensional.

ENERGI BARU TERBARUKAN

Sadar akan menipisnya sumber daya alam seperti batu bara, minyak dan gas bumi. Dan dampak-dampak negatif lainnya dari energi-energi tersebut. Semua masyarakat dunia berperan serta meneliti sebuah cara baru dalam menghasilkan energi baru. Berbagai sumber energi baru dan cara mengolahnya pun mulai dikembangkan.

Mulai dari solar cell. Energi panas bumi. Energi arus bawah laut. Energi angin. Dan berbagai jenis sumber energi lainnya terus dikembangkan manusia.

Sumber-sumber energi baru inilah yang bisa digunakan sebagai cara untuk mengurangi dampak negatif dari energi konvensional. Konferensi di Paris juga mendukung upaya pengurangan dampak dari penggunaan energi konvensional. Selain itu, penggunaan energi baru terbarukan juga bisa mendukung upaya pembangunan berkelanjutan.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Suatu daerah/negara pasti mempunyai suatu sumber daya alam. Apapun itu. Dengan mengetahui suatu potensi sumber daya alam di daerah tersebut. Teknologi yang dipakai harusnya bersinergi dengan alam di daerah tersebut.

Dan mengapa harus dengan pembangunan berkelanjutan ? Karena jika tetap menerapkan suatu cara lama dalam membangun suatu daerah, seperti eksplorasi minyak bumi atau membangun sebuah pabrik2 yang menghabisi ruang terbuka hijau. Ataupun menghabisi ruang terbuka di daerah pantai seperti mangrove dan coral. Maka bisa dipastikan pembangunan tersebut akan menambah dampak dari perubahan iklim.

PEMERATAAN KESEJAHTERAAN DI INDONESIA

Indonesia secara kondisi alam mempunyai kondisi yang sangat beragam. Seperti daerah pegunungan di Sumatra. Lahan yang subur di Jawa. Lahan gambut di Kalimantan. Kepulauan kecil-kecil yang ada di Nusa tenggara. Perairan yang kaya di kepulauan Maluku. Dan pegunungan es dan kondisi alam yang indah di Papua.

Hal ini menjadi sebuah keunikan tersendiri untuk mengolah kondisi alam tersebut dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Bagaimana sebuah daerah bisa berkembang sesuai dengan potensi-potensinya.

Sebagai contoh, di suatu pulau daerah Sulawesi utara. Di mana sebuah listrik hanya akan menyala karena ada kapal pengangkut solar yang singgah di daerah tersebut. Kemudian Ada sebuah pembangkit tenaga surya. Dimana orang-orangnya bisa menikmati listrik dengan harga murah yaitu 6000 rupiah per bulannya.

Dari sumber berita yang aku baca. Masyarakat daerah tersebut tidak lagi menggantungkan solar sebagai kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini tentu akan berdampak terhadap pengeluaran masyarakat daerah tersebut. Dari sisi pengeluaran, hal tersebut bisa membantu pengurangan pengeluaran masyarakat daerah tersebut. Karena memang mayoritas masyarakat daerah tersebut berprofesi sebagai nelayan. Energi baru tersebut mampu membantu nelayan untuk menyediakan es untuk nelayan. Pendidikan, kesehatan dan akses informasi dan aspek-aspek lainnya juga akan bisa berkembang.

Itu adalah salah satu contoh dari sebuah pembangunan berkelanjutan yang ada di Indonesia. Bila kita melihat keberagaman kondisi di sini. Kita juga harus melihat pembangunan apa yang seharusnya cocok di setiap-setiap daerah negara ini. Tidak semua bisa disamaratakan. Kreatifitas orang-orang kita harus mampu berpikir untuk hal tersebut. Sehingga ide dari konsep keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud.