| Sepeda kece |
| Pagi-pagi yang pakai sepeda onthel banyak juga |
| Sepeda kece |
| Pagi-pagi yang pakai sepeda onthel banyak juga |
"Di bandara 1 atau 2 mas ?" Tanya si supir
"Wah dimana ya, aku juga gk tahu e pak, hehe"
"Wah, masnya naik pesawat apa ?"
"Citilink Pak"
"Oh berarti di bandara 2 itu"
"Ooh"
Aku berangkat dari Gresik menuju Surabaya naik taxi. Aku berangkat 2 jam dari gresik sebelum penerbangan keberangkatan. Sebenarnya aku tidak tahu pesawatku akan terbang dari bandara mana ketika ditanya oleh sopir taxi. Dan waktu itu pun aku juga baru tahu kalau waktu 2 jam sangatlah mepet untuk sebuah penerbangan pesawat jika berangkat dari Gresik.
Suasana di Terminal 2 Juanda pagi itu lumayan sepi. Mungkin karena bandara ini memang baru beroperasi. Bandaranya memang besar dan tertib. Ketika pertama kali datang ke sini memang nyaman dan bersih. Bandara ini memang ditujukan untuk penerbangan internasional.
Aku berjalan masuk ke bandara. Saat itu adalah pertama kali aku naik pesawat. Hal yang aku tuju pertama kali adalah loket maskapai penerbangan terkait. Hahaha. Setelah bertanya-tanya ke pegawai loket, aku pun menuju ke tempat untuk menaruh barang ke bagasi. Aku pun mengeluarkan KTP dan menunjukkan kode booking tiket ke petugas.
Ada waktu sekitar 15 menit untuk bersantai setelah memasukkan barang yang perlu dimasukkan ke bagasi pesawat. Aku memilih keluar ruangan untuk mencari "udara". Di luar ruangan bandara yang ber-AC, pagi itu terasa panas. Memandangi langit luar yang biru membuatku nyaman. Aku melihat suasana orang-orang yang beraktifitas di Bandara. Banyak yang berseliweran untuk menuju tujuan masing-masing. Entah kemana tujuan mereka, bandara merupakan tempat persinggahan sementara untuk meneruskan perjalanan.
Ketika waktu 15 menitku habis, aku menuju ruang tunggu pesawat. Di tempat itulah aku menunggu untuk naik pesawat. Singgah sebentar untuk menuju tempat tujuanku.
Hujan sore ini mengguyur rata seluruh daerah di Kota Surabaya. Aku tahu karena habis hujan-hujanan dari timur ke barat kota. Hujan yang sama derasnya dengan lima hari berturut-turut ini pun reda ketika petang tiba.
Magrib itu pun aku berangkat dari rumah menuju ke rumah temanku. Rencananya kami akan bersama-sama datang ke acara reuni SMP kami.
Sudah sepuluh tahun kami telah lulus dari SMP Negeri 16 Surabaya. SMP yang terletak di jalan Bogangin Surabaya tersebut menjadi tempat sekolah kami. Banyak pelajaran, kejadian konyol, dan momen-momen lainnya yang terekam selama bersekolah di sana.
Sebenarnya diadakannya acara reuni ini adalah ya kumpul-kumpul. Bertemu kembali dengan teman2 lama yang mungkin sudah jarang bertemu. Ngobrol sana sini, bercerita tentang kejadian waktu sekolah dulu. Ataupun menanyakan kabar teman sahabat lama.
Bertemu mereka rasanya mengulang kembali memori jaman SMP dulu. Apalagi banyak juga guru yang diundang datang di acara tersebut. Rasa 'pangling' pun juga muncul ketika melihat teman2 saat ini. Ada yang sudah punya anak, ada yang sudah nikah, yang mau nikah, ataupun yang masih jomblo2 aja. Hahaha.
Ajang reuni ini disamping momen untuk mengenang masa sekolah. Juga sebagai ajang mendekatkan kembali teman lama. Karena banyak juga teman2 yang saat ini bertempat tinggal di luar Kota Surabaya.
Ada rasa senang bertemu teman2 lagi. Rasanya seperti waktu diputar kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Waktu ketika masih mengenakan seragam putih biru. Ya, mengasyikkan.
Riuhnya suasana warung kopi ini begitu enak.
Menikmati kopi sambil mendengarkan live musik.
Ketika hujan yang tadinya deras berhenti.
Musik di sini masih menghibur pengunjungnya.
Hujan. Sebuah kata yang wow kukira. Berbagai macam karya sudah terinspirasi dari fenomena alam tersebut. Sebut saja puisi, berapa banyak puisi yang sudah dibuat oleh orang dengan beribu macam gaya dan penulisannya. Belum lagi lagu, mulai dari lagu rock, mellow, akustik, keroncong dan aliran musik lainnya yang bertemakan hujan. Ataupun karya-karya yang lain yang terinspirasi atau bertemakan kata tersebut, hujan.
Di sudut warung kopi ini, hujan turun deras sekali. Banjir pun menghiasi halaman warung. Sepeda motor yang diparkirpun tidak luput dari serangan hujan.
Tidak terasa kopi susu yang kupesan tadi sudah habis. Hujan masih belum juga reda. Sepertinya langit masih mengizinkan air terus mengguyur kota ini. Menghapus dosa. Menghapus polusi yang diciptakan oleh manusia melalui kereta-kereta besinya.
Air turun
Pengendara-pengendara bertudung
Lampu-lampu jalan menyala
Begitulah kira-kira suasana hujan yang kurasakan malam ini.
Hari ini adalah minggu pertama di tahun 2016, wow (biasa aja keleus).
Gaya gravitasi tempat tidurku rasanya bertambah 100 kali lipat Ketika jam digital hp menunjukkan pukul 6 pagi. Berat boss, mata inipun rasanya ingin kembali ke alam tidur yang menenangkan.
Memang tidur pagi itu rasanya sangat nyaman, terlebih di hari minggu. Bagi mereka yang bekerja dari senin sampai sabtu, tidur pagi di hari bisa jadi merupakan semacam privilages yang hanya bisa didapatkan seminggu sekali.
Tetapi minggu pagi kali ini, aku memilih bangun dari tempat tidurku. Entah mau melakukan apa, yang penting aku harus bangun dulu. Bangun dari tempat nyamanku.
Badanku bangun, kakiku melangkah dan Tanganku bergerak untuk mengambil sebuah buku lama. Novel sih, cerita detektif karya Agatha Christie.
Saat kubuka lagi isi cerita dari karya-karya Agatha Christie, ada rasa yang berbeda dibandingkan saat pertama kali membacanya.
Rasanya lebih cepat dan mudah memahaminya, apakah ceritanya semakin membosankan ? Tentu tidak.
Dulu, aku sulit membayangkan bagaimana setting dari cerita yang ditulis Christie. Cerita tentang tahun 20' dan 30'an di Inggris, pakaian, pesta, jamuan makan, budaya orang-orangnya, psikologis, raut muka.
dulu, meskipun masih bisa dibayangkan, hal hal tersebut terasa sulit.
Ada sesuatu yang miss ketika pertama kali membacanya.
Rasanya seperti menonton filem yang sama untuk kedua kalinya. Rasanya ada yang berbeda. Bukan karena ditonton lagi terus rasanya beda. Bukan itu, tetapi lebih pada sebuah persepsi kita ketika menonton filem itu lagi.
Persepsi yang berbeda dibandingkan ketika pertama kali menonton.
Sama seperti minggu pagi saat ini. Rasanya memang seperti minggu-minggu yang telah lalu. Tetapi aku memilih untuk menikmatinya dengan cara yang berbeda.