Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Maret 2017

Dikira wartawan

Ketika kita memegang sebuah kamera dslr di tangan kemudian foto-foto di tempat yang tidak biasa, diduga dan dikira wartawan oleh sebagian orang adalah hal yang lumrah. Kira-kira teman-teman pernah mengalami kejadian serupa nggak ? :)
Maksudku tempat yang tidak biasa adalah sebuah tempat yang memang tidak umum dijadikan objek fotografi. Misal di jalanan atau di sebuah pasar atau gang-gang kecil pemukiman kota.

Aku mempunyai pengalaman memotret pedagang yang membeber dagangannya di bawah jembatan layang pada pagi hari. Aku membawa tas ransel besar, di leherku menggantung kamera dlsr. Turun dari motor, aku langsung mempersiapkan peralatan tempur kegiatan memotret. Langsung saja kegiatan memotret aku lakukan. Mulai dari memotret orang yang lalu lalang baik yang jalan kaki ataupun naik kendaraan sampai sesuatu yang tidak bergerak pun menjadi target bidikanku. Sepintas, aku yakin pasti ada aja orang yang mengganggapku wartawan.

Sebelum aku memilih lokasi fotografi di tempat tersebut. Aku memang melihat sebuah lapak pedagang kebutuhan sehari-hari membeber lapaknya persis di bawah jembatan. Dan lapaknya sendirian, tidak ada saingan sama sekali.
Menarik nih pikirku, apalagi sekarang kan sudah tidak ada lagi orang jualan di bawah jembatan layang dikarenakan di tempat-tempat tersebut sudah diisi oleh taman-taman bunga yang cantik.

Setelah ku cukup puas foto-foto orang yang lewat dan benda-benda di sekitar. Aku coba mendekat dan memfoto dari jarak close up pedagang yang menarik perhatianku tadi. Aku mendekat ke pedagang tersebut. Sambil senyum mesem, aku ijin memfoto pedagang tersebut.

"Pak, tak fo....."   (Pak, tak foto ya)
"Ngapain foto-foto mas ?!" Buset, langsung menunjukkan ekspresi enggak enak pedagang ini. Belum juga selesai kalimatku, langsung dipotong pedagang tersebut.
"Oh ini fotografi kok pak, foto-foto aku" aku menjelaskan maksudku dengan ramah.
"Lapo foto-foto nang kene, wartawan ta mas ?"
"Oh bukan pak, aku wong seng seneng foto-foto kok,
Nah aku melihat, dagangannya Bapak kan unik, menggelar lapak kok di sini, hehe"

Percapakan berikutnya menjadi lebih cair. Pedagang tersebut menjelaskan bahwa di situ memang tidak untuk menggelar lapak. Tetapi untuk mempacking dagangan yang dikulak dari pasar besar kemudian dijual keliling. Mengapa dipacking di situ. Karena para pedagang sudah tidak boleh mempacking dagangannya di pasar besar. Pedagang tersebut juga menanyakan apakah aman-aman saja lapaknya tadi difoto. Dan kubilang bahwa aman kok pak.

Pedagang tersebut tadi sempat khawatir karena sebenarnya menggelar dagangan di bawah jembatan layang memang tidak diperbolehkan. Meskipun tujuannya hanya untuk memilah dan mempacking lagi dagangannya. Akhirnya aku pamit dan melanjutkan foto-fotoku.

Sempat ngos-ngosan dan cukup berkeringat karena mentari sudah semakin meninggi teman-teman. Aku melihat seorang laki-laki mengayuh sepeda tua, 70 tahun lebih aku taksir orang ini umurnya. Dinaikkan sepeda bapak ini ke trotoar kemudian Di jagang tengah. Persis seperti club motor yang pernah kulihat memakirkan sepedanya di trotoar pas malam hari.

Sepeda kece

Pagi-pagi yang pakai sepeda onthel banyak juga

Bedanya sama bapak yang satu ini, bapak ini melakukannya di pagi hari. Dan aku duga kayaknya memang sengaja deh diparkir gitu sepedanya biar kupotret, hehehe.

Senin, 08 Februari 2016

Tempat persinggahan sementara

"Di bandara 1 atau 2 mas ?" Tanya si supir
"Wah dimana ya, aku juga gk tahu e pak, hehe"
"Wah, masnya naik pesawat apa ?"
"Citilink Pak"
"Oh berarti di bandara 2 itu"
"Ooh"

Aku berangkat dari Gresik menuju Surabaya naik taxi. Aku berangkat 2 jam dari gresik sebelum penerbangan keberangkatan. Sebenarnya aku tidak tahu pesawatku akan terbang dari bandara mana ketika ditanya oleh sopir taxi. Dan waktu itu pun aku juga baru tahu kalau waktu 2 jam sangatlah mepet untuk sebuah penerbangan pesawat jika berangkat dari Gresik.

Suasana di Terminal 2 Juanda pagi itu lumayan sepi. Mungkin karena bandara ini memang baru beroperasi. Bandaranya memang besar dan tertib. Ketika pertama kali datang ke sini memang nyaman dan bersih. Bandara ini memang ditujukan untuk penerbangan internasional.

Aku berjalan masuk ke bandara. Saat itu adalah pertama kali aku naik pesawat. Hal yang aku tuju pertama kali adalah loket maskapai penerbangan terkait. Hahaha. Setelah bertanya-tanya ke pegawai loket, aku pun menuju ke tempat untuk menaruh barang ke bagasi. Aku pun mengeluarkan KTP dan menunjukkan kode booking tiket ke petugas.

Ada waktu sekitar 15 menit untuk bersantai setelah memasukkan barang yang perlu dimasukkan ke bagasi pesawat. Aku memilih keluar ruangan untuk mencari "udara". Di luar ruangan bandara yang ber-AC, pagi itu terasa panas. Memandangi langit luar yang biru membuatku nyaman. Aku melihat suasana orang-orang yang beraktifitas di Bandara. Banyak yang berseliweran untuk menuju tujuan masing-masing. Entah kemana tujuan mereka, bandara merupakan tempat persinggahan sementara untuk meneruskan perjalanan.

Ketika waktu 15 menitku habis, aku menuju ruang tunggu pesawat. Di tempat itulah aku menunggu untuk naik pesawat. Singgah sebentar untuk menuju tempat tujuanku.

Minggu, 07 Februari 2016

Reuni

Hujan sore ini mengguyur rata seluruh daerah di Kota Surabaya. Aku tahu karena habis hujan-hujanan dari timur ke barat kota. Hujan yang sama derasnya dengan lima hari berturut-turut ini pun reda ketika petang tiba.
Magrib itu pun aku berangkat dari rumah menuju ke rumah temanku. Rencananya kami akan bersama-sama datang ke acara reuni SMP kami.

Sudah sepuluh tahun kami telah lulus dari SMP Negeri 16 Surabaya. SMP yang terletak di jalan Bogangin Surabaya tersebut menjadi tempat sekolah kami. Banyak pelajaran, kejadian konyol, dan momen-momen lainnya yang terekam selama bersekolah di sana.

Sebenarnya diadakannya acara reuni ini adalah ya kumpul-kumpul. Bertemu kembali dengan teman2 lama yang mungkin sudah jarang bertemu. Ngobrol sana sini, bercerita tentang kejadian waktu sekolah dulu. Ataupun menanyakan kabar teman sahabat lama.

Bertemu mereka rasanya mengulang kembali memori jaman SMP dulu. Apalagi banyak juga guru yang diundang datang di acara tersebut. Rasa 'pangling' pun juga muncul ketika melihat teman2 saat ini. Ada yang sudah punya anak, ada yang sudah nikah, yang mau nikah, ataupun yang masih jomblo2 aja. Hahaha.

Ajang reuni ini disamping momen untuk mengenang masa sekolah. Juga sebagai ajang mendekatkan kembali teman lama. Karena banyak juga teman2 yang saat ini bertempat tinggal di luar Kota Surabaya.

Ada rasa senang bertemu teman2 lagi. Rasanya seperti waktu diputar kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Waktu ketika masih mengenakan seragam putih biru. Ya, mengasyikkan.

Minggu, 17 Januari 2016

Warkop yang ramai

Riuhnya suasana warung kopi ini begitu enak.
Menikmati kopi sambil mendengarkan live musik.
Ketika hujan yang tadinya deras berhenti.
Musik di sini masih menghibur pengunjungnya.

Senin, 04 Januari 2016

Dari sudut warung, menikmati hujan

Hujan. Sebuah kata yang wow kukira. Berbagai macam karya sudah terinspirasi dari fenomena alam tersebut. Sebut saja puisi, berapa banyak puisi yang sudah dibuat oleh orang dengan beribu macam gaya dan penulisannya. Belum lagi lagu, mulai dari lagu rock, mellow, akustik, keroncong dan aliran musik lainnya yang bertemakan hujan. Ataupun karya-karya yang lain yang terinspirasi atau bertemakan kata tersebut, hujan.

Di sudut warung kopi ini, hujan turun deras sekali. Banjir pun menghiasi halaman warung. Sepeda motor yang diparkirpun tidak luput dari serangan hujan.

Tidak terasa kopi susu yang kupesan tadi sudah habis. Hujan masih belum juga reda. Sepertinya langit masih mengizinkan air terus mengguyur kota ini. Menghapus dosa. Menghapus polusi yang diciptakan oleh manusia melalui kereta-kereta besinya.

Air turun
Pengendara-pengendara bertudung
Lampu-lampu jalan menyala

Begitulah kira-kira suasana hujan yang kurasakan malam ini.

Sabtu, 02 Januari 2016

Revolusi Kasur

Hari ini adalah minggu pertama di tahun 2016, wow (biasa aja keleus).
Gaya gravitasi tempat tidurku rasanya bertambah 100 kali lipat Ketika jam digital hp menunjukkan pukul 6 pagi. Berat boss, mata inipun rasanya ingin kembali ke alam tidur yang menenangkan.

Memang tidur pagi itu rasanya sangat nyaman, terlebih di hari minggu. Bagi mereka yang bekerja dari senin sampai sabtu, tidur pagi di hari bisa jadi merupakan semacam privilages yang hanya bisa didapatkan seminggu sekali.

Tetapi minggu pagi kali ini, aku memilih bangun dari tempat tidurku. Entah mau melakukan apa, yang penting aku harus bangun dulu. Bangun dari tempat nyamanku.

Badanku bangun, kakiku melangkah dan Tanganku bergerak untuk mengambil sebuah buku lama. Novel sih, cerita detektif karya Agatha Christie.
Saat kubuka lagi isi cerita dari karya-karya Agatha Christie, ada rasa yang berbeda dibandingkan saat pertama kali membacanya.
Rasanya lebih cepat dan mudah memahaminya, apakah ceritanya semakin membosankan ? Tentu tidak.

Dulu, aku sulit membayangkan bagaimana setting dari cerita yang ditulis Christie. Cerita tentang tahun 20' dan 30'an di Inggris, pakaian, pesta, jamuan makan, budaya orang-orangnya, psikologis, raut muka.
dulu, meskipun masih bisa dibayangkan, hal hal tersebut terasa sulit.
Ada sesuatu yang miss ketika pertama kali membacanya.

Rasanya seperti menonton filem yang sama untuk kedua kalinya. Rasanya ada yang berbeda. Bukan karena ditonton lagi terus rasanya beda. Bukan itu, tetapi lebih pada sebuah persepsi kita ketika menonton filem itu lagi.
Persepsi yang berbeda dibandingkan ketika pertama kali menonton.

Sama seperti minggu pagi saat ini. Rasanya memang seperti minggu-minggu yang telah lalu. Tetapi aku memilih untuk menikmatinya dengan cara yang berbeda.

Selasa, 03 Desember 2013

Kemarin, Hari ini dan Masa depan

Surabaya - Hari ini, lebih dari seminggu yang lalu tepatnya, banyak sekali pikiran melayang-layang yang ada di pikiranku. Mulai dari tanggung jawab kuliah yang akan segera berakhir, nyangkruk dan diskusi bersama kawan-kawan, nyari duit (ceileh, iya lah buat nongkrong sama makan :D ), kesenangan berbagi ilmu, sampai mikirin masalah-masalah kecil yang keliatannya bagi sebagian orang gak penting sama sekali. Hmm....

Saat itu aku mulai bingung, kemudian berpikir, lalu mencoba mencari solusi (tambah sok2an yah, hahahahaha). Tapi ya itu kenyataannya, enggak tahu kenapa, mungkin karena umur yang semakin hari semakin mendekat kepada Sang Pencipta. Aku mulai berpikir tentang hal-hal yang terjadi di sekitarku, misalnya tentang sesama teman seperjuangan tugas akhir, tentang bagaimana masalah mereka, kemudian berjuang untuk segera menyelesaikan tanggung jawab tersebut. Atau bagaimana sebuah aksi yang kita berikan kepada sekitar kita, lalu kita mendapat reaksi yang seperti apa.

Atau mikir sebenarnya apa yang kita kerjakan hari ini adalah serangkaian aksi-reaksi yang terjadi oleh kita dan semesta yang terjadi di masa lalu. Kemudian kita kerjakan pada hari ini untuk hari ini dan misteri masa depan. 

Atau pun mikir bagaimana mendekati temen cewek yang bisa bikin deg2an dan keringat dingin. Walaupun dia 'sekilas' keliatan gak tertarik blas sama aku, tapi isi hati seseorang siapa yang tau bukan ??.
"Ada kok kak, Tuhan YME sama yang bersangkutan kak", -__- interupsi dari suara yang gk jelas keberadaannya.  (wah curcol nih, gpp lah dikit aja kok, hehe)

Tidak jelas apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan di tulisan ini, yang jelas aku ingin menuliskan apa yang ada di pikiranku saat ini.

Di sisi lain aku juga bingung tentang teori kenapa seseorang bisa bahagia. Bisa dikatakan seseorang yang bahagia adalah mereka yang bisa lepas menikmati suasana hati dalam kondisi tertentu. Juga dikatakan adalah mereka yang sedang senang hatinya. atau ada pendapat lainnya. hmm...

Ada orang yang bahagia karena bisa jalan-jalan ke luar negeri.
Beberapa lainnya mungkin bahagia karena mendapat gaji pertama.
beberapa yang lain mungkin ketika wisuda kelulusan.
Beberapa yang lain ketika mendapat makanan sebungkus nasi saja sudah bahagia.
ataupun lain-lainnya

Yang jelas, definisi kebahagian itu terjadi karena beberapa faktor. Misalnya kondisi, pengalaman pribadi, emosi, dan lainnya. males nguraiin satu-satu, panjang. cari aja sendiri ya..

Sudah dulu ya pembaca sekalian :D , Lama gak ngeblog sih, sekalinya ngeblog malah curcol, hehe

Jumat, 26 Oktober 2012

Partner in Love


Saatnya nanti kita akan memilih
Memilih seorang partner

Saya tidak menyebutkannya sebagai kekasih, ataupun kebanyakan orang lain yaitu belahan jiwa, ataupun ‘soulmate’ bagi orang yang suka menyebutnya begitu, ataupun sekadar panggilan sayang yang biasa digunakan seperti ‘beib’, ‘honey, ‘cin’ dan sebagainya

Well, itu suka-suka orang dalam penyebutannya. Tetapi saya lebih suka menyebutnya dengan partner
Ya, partner, partner in love
Partner yang akan menjadi teman bicara kita seumur hidup
Partner yang mampu kita ajak berimajinasi tentang masa depan
Partner yang mampu kita ajak berusaha bersama-sama meraih impian kita
Partner yang mampu menjalin kesepakatan tanpa hitam di atas putih
Dan partner yang akan bersama-sama kita dalam suka dan duka



Tengok sekilas bagaimana orang tua kita, apa mereka pernah merasakan senang bersama, tentu saja,
Duka bersama, tentu saja, tetapi apakah hanya sebatas itu mereka bisa bersama-sama selama puluhan tahun ini, saya rasa tidak
Menurutku mereka bisa bersama-sama selama itu tidak hanya atas sekedar ijab kabul pernikahan, ataupun hanya sekedar  cinta indah yang hanya di awal, ataupun komitmen yang sering dibicarakan orang-orang dalam mempertahankan hubungan, entahlah, saya rasa lebih dari itu

Menurutku partner yang pas adalah mereka yang bisa sejiwa dan sepimikiran
Sejiwa bisa berarti mempunyai jiwa, passion, ketertarikan yg sama ataupun lebih dari itu
Demikian juga dengan sepemikiran
ketika jiwa dan pemikiran bisa sejalan, maka banyak yang akan bisa dikerjakan bersama, membangun sebuah impian bersama
Tetapi ketika dua hal di atas kurang pas (baca:berbeda), seenggak-enggaknya mereka masih sama dalam satu hal, cinta

Selasa, 27 Desember 2011

Petualangan ke Pulau Sempu

Cerita ini berawal ketika aku memasuki pertengahan semester 4, aku dan teman-temanku yang lagi suntuk oleh tugas kuliah dan tetek bengek kampus yang lainnya merencanakan refreshing ke suatu tempat(duh kok kayak cerita apa gitu ya, hahaha) udah langsung to the topic aja. Saat setelah UTS, Ujian tidak serius eh salah Ujian tengah semester maksudnya hehe (udah udah serius kali ini), kami mempunyai beberapa tujuan refreshing kalo gk gunung ya pantai lah. Setelah browsing dan cari-cari info tentang tujuan, akhirnya kami pun menetapkan Pulau Sempu sebagai tujuan refreshing kami.

Sebelum berangkat kesana, kami cari info dulu tentang keadaan Pulau Sempu, ya info dari temen, browsing internet, yang pernah kesana, sampai nanya paranormal (eh yang terakhir gak ding). Setelah mendapat info tentang keadaan di sana, kami pun mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk dibawa kesana, seperti air minum, kamera, teropong, tas, makanan dan banyak deh, males nyebutin satu-satu, intinya seperti keperluan dan alat buat naik gunung, soalnya medan di Pulau Sempu hampir mirip kayak gunung. Katanya sih pemandangan di sana sangat bagus, karena emang medannya terjal jadi sedikit orang yang mau melewati medan terjal untuk bisa menikmati pemandangan yang bagus itu. Kami pun jadi makin penasaran.

Akhirnya persiapan selesai dan kami pun siap berangkat ke Pulau Sempu, oh iya kami rencana berangkat sekitar jam 1 pagi, dengan memperkirakan perjalanan dari Surabaya ke Malang 2 jam, kemudian Malang ke Sempu sekitar 2 jam juga, total Surabaya ke Sempu sekitar 4 jam. Sebelum berangkat kami makan nasi goreng dulu buat isi perut di daerah Gebang, kami berenam memutuskan untuk makan dulu ya karena emang belum makan, --“ . Oh iya kami berenam itu aku dan temen-temenku, Alvin, Dedi, Aryo, Azizil dan Abid. Sebenarnya yang direncenakan buat ke Pulau Sempu sekitar 11 orang, ketambahan Rangga, SM, Yoma, Andres dan Kukuh. Tapi mereka gak bisa karena alasan masing-masing. si Rangga ini tadinya mau ikut bareng dari Malang soalnya abis dari pacarnya, tapi tiba-tiba gak bisa. Terus kalo SM pulang ke Sidoarjo. Yoma ehm, apa ya kalo gak salah pulang juga deh, Andres sakit, kalo Kukuh kakinya masih sakit waktu itu.

Oke, back to the topic, setelah makan kami pun berangkat sekitar pukul 01.45 WIB, wah molor 45 menit --“ . Kami memakai tiga sepeda motor (iya lah 3 masa’ pake 2), aku sama Aryo, Azizil sama Dedi dan Abid sama Alvin. Kami mengisi bensin dulu di pom Gebang, setelah mengisi bensin dan brum brum akhirnya kami pun berangkat. Jalanan kota Surabaya waktu itu sangat sepi dan hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang yang menemani kami selain udara dingin, keadaan tersebut menambah rasa ingin buru-buru kami agar cepat sampai ke tempat tujuan.

Memasuki kota Sidoarjo kami lewat Porong, di sini jalanan sedikit macet karena banyak truk-truk besar yang lewat, sekitar jam setengah 4 pagi kami pun sampai di kabupaten Malang, oh iya waktu itu ada pertandingan liga champions antara Barca dan Madrid, kami sempet berhenti di warkop buat tanya jalan ke daerah Sempu, soalnya dari kami berenam emang belum pernah ada yang ke sana sebelumnya. Akhirnya setelah tanya orang-orang di warkop kami akhirnya tau jalan mana yang harus dilewati biar sampai ke Sempu. Agar bisa ke pulau sempu kami harus sampai dahulu di daerah pantai yang bernama pantai sendang biru.

Jam setengah lima pagi, kami memutuskan untuk berhenti di masjid untuk istirahat dan solat subuh. Setelah solat kami melanjutkan perjalanan, waduh kok hujan ya, ya waktu itu sempat gerimis sedikit, tapi akhirnya reda juga kok. Jalanan menuju pantai sendang biru berkelok-kelok, seperti pembalap motoGP kami pun melewati jalanan tersebut dengan cepat dan hati-hati. Memang untuk mencapai pantai sendang biru harus melewati dataran tinggi di daerah Malang, karena letak dari pantai sendang biru di selatan kabupaten Malang. Di sepanjang jalan menuju pantai sendang biru pemandangan lembah dan sawah di pinggir jalan sangat bagus, tapi ada satu pemandangan yang menurutku sangat bagus, wow, that’s a great view. Kamipun menyempatkan foto-foto narsis bentar di salah satu pemandangan lembah tersebut, hehehe.



Sekitar jam setengah 7 pagi kami pun sampai di pantai sendang biru, membayar tiket masuk dan parkir motor. Kami pun lalu bertanya cara untuk sampai ke pulau sempu ke orang lokal, dia pun memberitahu untuk datang ke tempat milik departemen kehutanan di balik parkiran motor. Kalo pulau sempu sendiri sudah keliatan dari parkiran motor, selat yang memisahkan sebenarnya tidak terlalu jauh kok, cukup deket malah. Di kantor milik departemen kehutanan, salah seorang dari kami pun, Abid, bertanya ke orang yang berada di sana cara untuk pergi ke pulau sempu. Lalu Abid keluar dengan raut muka sedikit kecewa, dia pun menjelaskan untuk pergi ke Pulau Sempu haruslah ada sebuah prosedur untuk pergi kesana, karena memang Pulau Sempu sebenarnya adalah sebuah cagar alam milik negara. Prosedur itu antara lain adalah izin dari Balai Besar KSDA Jawa Timur yang terletak di Juanda, kemudian KSDA Jember, yang ada di Jember, dan bla bla. Wah ribet banget.

Akhirnya kami berdiskusi, bagaimana caranya supaya bisa ke pulau sempu, Aryo pun nyeletuk, ‘moso’ wes teko kene mek gara-gara izin tok gk isok melbu rek,” , “Lha iyo moso’ balik nag Suroboyo, terus merene maneh, seng genah ae,” . Kami lalu telepon teman-teman kami yang pernah kesana, katanya ya emang ada ijin, tapi gak perlu izin sebenarnya bisa kok, karena sinyal di pantai sendang biru tidak terlalu bagus alhasil pembicaraan tidak terlalu bagus. Kami pun menganggap bahwa untuk pergi ke pulau sempu adalah calo di kantor tersebut (wah wah). Atas dasar itulah Abid, kali ini ditemani Dedi kembali masuk ke kantor tersebut untuk apakah bisa diizinkan masuk meskipun tidak ada suatu izin, dan jawabannya tetap tidak boleh. Dan Aryo pun, karena kurang puas ikut masuk dan mencoba melobi, sementara Azizil dan Alvin mencoba menelepon teman yang pernah kesana, sementara aku sambil mencuri dengar pendengaran di dalam, memotret keadaan sekitar.

Setengah jam kami stuck di kantor tersebut dan hasil yang didapatkan pun kembali mengecewakan, kami pun tetap belum bisa pergi ke pulau sempu, sebenarnya dalam hati aku berpikir, di sini lho banyak kapal, masa’ sih harus seribet itu buat pergi kesana, lha orang lokal di sini bagaimana, masa’ ya harus repot-repot izin, dan birokrasi ala tetek bengek gitu, apalagi banyak. Ternyata teman-temanku juga berpikir demikian, karena kurang puas lalu akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada orang lokal, yang kami tanyai adalah penjaga parkir motor pantai. Karena malas ikut bertanya aku dan Dedi menunggu di luar, lama banget seh ini tanya gitu aja kok, lalu ada pengunjung yang baru datang dengan menggunakan mobil dan parkir, mereka datang bertiga, laki-laki semua. Karena berplat L, mereka pasti dari Surabaya, aku pun coba tanya ke mereka mau kemana. Ternyata mereka mau ke Sempu, wah kebetulan sekali.

Aku coba menggali info bagaimana cara kesana, ternyata mereka menjawab di luar dugaanku, “wes langsung ae mas, gak usah ijin-ijinan barang, gae opo, wong iku mek gae ben lek onok opo-opo ditulungi” maksudnya gk perlu izin segala, karena hanya buat kalo ada apa-apa misalnya hilang atau apa-apa yang lain bisa ditolongin tim sar. “mas e teko ITS ta ?” salah dari seorang mereka bertanya apakah saya dari ITS, mungkin melihat aku membawa jaket Hima. Aku jawab ya. “woalah mas e yo teko ITS pisan ta?”tanyaku. " iyo, tp wes lulus” jawabnya diiringi suara tawa temannya. Kalo gak salah mereka dari jurusan sipil angkatan berapa lupa. Lalu mereka mengajak bareng bersama 10 orang teman mereka yang sudah dahulu naik kapal, aku jawab “yo wes duluan ae mas, iki karo konco-koncoku soale” owalah yo wes”. Bertepatan dengan itu temen-temenku pun selesai pembicaraan dengan tukang parkir tadi, ternyata hasil yang mereka dapatkan kurang lebih sama dengan apa yang kutanyakan ke alumni ITS tadi, ealah, rupanya tidak perlu repot-repot ngurusin birokrasi tetek bengek, tapi resikonya kalo ada apa-apa ya ditanggung sendiri. Ya sudah berangkat.

Sebelum menyebrang kami makan dulu di warung terdekat. Akhirnya dengan bantuan tukang parkir tadi kami mendapat tumpangan perahu dengan membayar 85ribu, kami naik perahu untuk sampai ke pulau tersebut, biaya tersebut sudah termasuk dijemput kembali, kalo mau dijemput kami tinggal menelpon atau sms, nanti dijemput. Tapi gak boleh lebih dari jam 5, soalnya ombak pantai selatan kenceng banget. Lalu kami pun naik perahu, sambil menikmati panorama hutan pulau sempu dan lautan yang luas, kami pun menyempatkan untuk mengambil gambar.

Sekitar jam 9 pagi, akhirnya sampai juga di Pulau Sempu, sebelum mendarat terdapat mangrove yang menjalar di air, ada pula karang-karang besar yang terlihat dari atas, tukang perahu mengemudikan perahunya supaya tidak menabrak karang. di awal masuk kami melihat bekas bakar-bakar sampah. Kami berhenti sebentar untuk mempersiapkan lewat medan yang diluar dugaan ternyata jembrot, berlumpur. Tidak lama kemudian dari arah pantai ada rombongan lagi yang datang, mereka datang sekitar 12an orang. Tidak tau pastinya yang jelas banyak. Mereka tampaknya sudah siap dan langsung masuk. Karena tidak tahu jalan maka kami pun mengekor rombongan tadi, ternyata mereka juga dari Surabaya, mereka ternyata teman-teman dari mas-mas yang kutanyai tadi. Ada yang dari Unair, tp kebanyakan dari ITS.

Medan di pulau sempu ini ya bisa dikategorikan tidak terlalu ekstrem banget tapi juga tidak terlalu gampang, moderate lah. Di jalan kami berpapasan dengan orang-orang yang pulang, kami tanya apakah masih jauh untuk sampai ke pantai, mereka menjawab kurang lebih ada sekitar 3 tanjakan dan turunan agar kami bisa sampai ke pantainya yang bisa ditempuh dengan 1 jam perjalanan, tapi karena jembrot kami pun terpaksa harus melaluinya sekitar 2 jam perjalanan. Tapi yang dirasakan benar-benar susah, mungkin karena lumpur dan banyak karang yang bisa menyebabkan berdarah. Temanku, Aryo, berkali-kali terpeleset dan Abid karena tidak mau melepaskan celana 3/4nya terpaksa harus sobek celananya. Di sekitar jalan ini kami memang tidak melihat adanya hewan seperti ular atau hewan lainnya, mungkin karena sering dilewati manusia.

Akhirnya setelah perjalanan yang berdarah-darah, (halah lebay), kami pun sampai di pantai sekitar pukul setengah 12. Perjalanan yang menyusahkan pun terbayar dengan pemandangan pantai yang cukup indah, nama pantai ini adalah segoro anakan, yaitu seperti teluk yang dikelilingi bukit jadi tidak langsung mengarah ke samudra Hindia. Sebenarnya ada 2 pantai kalo gk salah, karena tadi ada rombongan lagi yang lainnya dari belakang yang tidak berada di satu pantai dengan kami, berarti ada satu pantai lagi di Pulau Sempu. Kami pun menyempatkan foto-foto dan menikmati pasir putih di sana. di sana juga ada hewan ternyata, kawanan kera yang sedan mencari makan. Kami pun sempat bermain-main dan istirahat untuk perjalanan kembali. Hanya Aryo yang tidak beristrahat.

Sekitar jam 3 sore kami pun bergegas untuk kembali, karena waktu sebelumnya rombongan lain juga telah meninggalkan pantai segoro anakan, hanya tinggal kami yang di sana. Di perjalanan pulang kami sempat berpapasan dengan rombongan yang mau ke pantai, mereka membawa peralatan berkemah seperti minyak gas, ada yang membawa kayu, dan banyak deh. Aryo karena tadi tidak beristirahat maka dia terlihat terhuyung-huyung saat perjalanan kembali, dia pun sering terpeleset. Kami pun sampai di tempat awal jam 5 sore, kami melihat air pantai sudah surut. Olehnya kamipun harus berkecek-kecek melewati air supaya bisa sampai ke perahu. Ombak pada jam segitu memang gak seberapa tinggi tetapi cukup bergelombang.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya, mampir dulu ke Malang untuk makan, di perjalanan ke Malang kami banyak sekali yang capek. Setelah muter-muter daerah Malang kami pun akhirnya menemukan tempat makan yang sekiranya enak tapi murah, hehe. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di Porong kami mengisi bensin dulu. Ada kejadian konyol ketika kami mengisi bensin disitu. Setelah mengisi bensin, Aryo dengan santainya menyalakan korek api untuk merokok. Untung petugas pom langsung tau dan menegurnya, Aryo menjawab,”Oh iyo pak lali, ngantuk e pak.” Hahaha. Wah wah untung gak meledak tuh pom bensin.
Akhirnya sampai juga di Surabaya, kami sampai sekitar jam 11 malam. Azizil pun pulang ke kosnya, dan aryo pulang ke rumah, aku dan Dedi istirahat di tempatnya Alvin, sebelum tidur aku disuruh mengoleskan balsem sama Dedi dan Alvin, biar kalo bangun tidak keram atau pegel. Tapi aku gak mengoleskan karena ngantuk banget. Dan paginya walaupun dikasih balsem atau gak, kaki kami tetap saja capek. Hahaha.

Thats’s my story, yours ?

Quote of the day:
'Home is a place where we always find a love'