Sekitar jam setengah 7 pagi kami pun sampai di pantai sendang biru, membayar tiket masuk dan parkir motor. Kami pun lalu bertanya cara untuk sampai ke pulau sempu ke orang lokal, dia pun memberitahu untuk datang ke tempat milik departemen kehutanan di balik parkiran motor. Kalo pulau sempu sendiri sudah keliatan dari parkiran motor, selat yang memisahkan sebenarnya tidak terlalu jauh kok, cukup deket malah. Di kantor milik departemen kehutanan, salah seorang dari kami pun, Abid, bertanya ke orang yang berada di sana cara untuk pergi ke pulau sempu. Lalu Abid keluar dengan raut muka sedikit kecewa, dia pun menjelaskan untuk pergi ke Pulau Sempu haruslah ada sebuah prosedur untuk pergi kesana, karena memang Pulau Sempu sebenarnya adalah sebuah cagar alam milik negara. Prosedur itu antara lain adalah izin dari Balai Besar KSDA Jawa Timur yang terletak di Juanda, kemudian KSDA Jember, yang ada di Jember, dan bla bla. Wah ribet banget.
Akhirnya kami berdiskusi, bagaimana caranya supaya bisa ke pulau sempu, Aryo pun nyeletuk, ‘moso’ wes teko kene mek gara-gara izin tok gk isok melbu rek,” , “Lha iyo moso’ balik nag Suroboyo, terus merene maneh, seng genah ae,” . Kami lalu telepon teman-teman kami yang pernah kesana, katanya ya emang ada ijin, tapi gak perlu izin sebenarnya bisa kok, karena sinyal di pantai sendang biru tidak terlalu bagus alhasil pembicaraan tidak terlalu bagus. Kami pun menganggap bahwa untuk pergi ke pulau sempu adalah calo di kantor tersebut (wah wah). Atas dasar itulah Abid, kali ini ditemani Dedi kembali masuk ke kantor tersebut untuk apakah bisa diizinkan masuk meskipun tidak ada suatu izin, dan jawabannya tetap tidak boleh. Dan Aryo pun, karena kurang puas ikut masuk dan mencoba melobi, sementara Azizil dan Alvin mencoba menelepon teman yang pernah kesana, sementara aku sambil mencuri dengar pendengaran di dalam, memotret keadaan sekitar.

Setengah jam kami stuck di kantor tersebut dan hasil yang didapatkan pun kembali mengecewakan, kami pun tetap belum bisa pergi ke pulau sempu, sebenarnya dalam hati aku berpikir, di sini lho banyak kapal, masa’ sih harus seribet itu buat pergi kesana, lha orang lokal di sini bagaimana, masa’ ya harus repot-repot izin, dan birokrasi ala tetek bengek gitu, apalagi banyak. Ternyata teman-temanku juga berpikir demikian, karena kurang puas lalu akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada orang lokal, yang kami tanyai adalah penjaga parkir motor pantai. Karena malas ikut bertanya aku dan Dedi menunggu di luar, lama banget seh ini tanya gitu aja kok, lalu ada pengunjung yang baru datang dengan menggunakan mobil dan parkir, mereka datang bertiga, laki-laki semua. Karena berplat L, mereka pasti dari Surabaya, aku pun coba tanya ke mereka mau kemana. Ternyata mereka mau ke Sempu, wah kebetulan sekali.
Aku coba menggali info bagaimana cara kesana, ternyata mereka menjawab di luar dugaanku, “wes langsung ae mas, gak usah ijin-ijinan barang, gae opo, wong iku mek gae ben lek onok opo-opo ditulungi” maksudnya gk perlu izin segala, karena hanya buat kalo ada apa-apa misalnya hilang atau apa-apa yang lain bisa ditolongin tim sar. “mas e teko ITS ta ?” salah dari seorang mereka bertanya apakah saya dari ITS, mungkin melihat aku membawa jaket Hima. Aku jawab ya. “woalah mas e yo teko ITS pisan ta?”tanyaku. " iyo, tp wes lulus” jawabnya diiringi suara tawa temannya. Kalo gak salah mereka dari jurusan sipil angkatan berapa lupa. Lalu mereka mengajak bareng bersama 10 orang teman mereka yang sudah dahulu naik kapal, aku jawab “yo wes duluan ae mas, iki karo konco-koncoku soale” owalah yo wes”. Bertepatan dengan itu temen-temenku pun selesai pembicaraan dengan tukang parkir tadi, ternyata hasil yang mereka dapatkan kurang lebih sama dengan apa yang kutanyakan ke alumni ITS tadi, ealah, rupanya tidak perlu repot-repot ngurusin birokrasi tetek bengek, tapi resikonya kalo ada apa-apa ya ditanggung sendiri. Ya sudah berangkat.
Sebelum menyebrang kami makan dulu di warung terdekat. Akhirnya dengan bantuan tukang parkir tadi kami mendapat tumpangan perahu dengan membayar 85ribu, kami naik perahu untuk sampai ke pulau tersebut, biaya tersebut sudah termasuk dijemput kembali, kalo mau dijemput kami tinggal menelpon atau sms, nanti dijemput. Tapi gak boleh lebih dari jam 5, soalnya ombak pantai selatan kenceng banget. Lalu kami pun naik perahu, sambil menikmati panorama hutan pulau sempu dan lautan yang luas, kami pun menyempatkan untuk mengambil gambar.

Sekitar jam 9 pagi, akhirnya sampai juga di Pulau Sempu, sebelum mendarat terdapat mangrove yang menjalar di air, ada pula karang-karang besar yang terlihat dari atas, tukang perahu mengemudikan perahunya supaya tidak menabrak karang. di awal masuk kami melihat bekas bakar-bakar sampah. Kami berhenti sebentar untuk mempersiapkan lewat medan yang diluar dugaan ternyata jembrot, berlumpur. Tidak lama kemudian dari arah pantai ada rombongan lagi yang datang, mereka datang sekitar 12an orang. Tidak tau pastinya yang jelas banyak. Mereka tampaknya sudah siap dan langsung masuk. Karena tidak tahu jalan maka kami pun mengekor rombongan tadi, ternyata mereka juga dari Surabaya, mereka ternyata teman-teman dari mas-mas yang kutanyai tadi. Ada yang dari Unair, tp kebanyakan dari ITS.
Medan di pulau sempu ini ya bisa dikategorikan tidak terlalu ekstrem banget tapi juga tidak terlalu gampang, moderate lah. Di jalan kami berpapasan dengan orang-orang yang pulang, kami tanya apakah masih jauh untuk sampai ke pantai, mereka menjawab kurang lebih ada sekitar 3 tanjakan dan turunan agar kami bisa sampai ke pantainya yang bisa ditempuh dengan 1 jam perjalanan, tapi karena jembrot kami pun terpaksa harus melaluinya sekitar 2 jam perjalanan. Tapi yang dirasakan benar-benar susah, mungkin karena lumpur dan banyak karang yang bisa menyebabkan berdarah. Temanku, Aryo, berkali-kali terpeleset dan Abid karena tidak mau melepaskan celana 3/4nya terpaksa harus sobek celananya. Di sekitar jalan ini kami memang tidak melihat adanya hewan seperti ular atau hewan lainnya, mungkin karena sering dilewati manusia.


Akhirnya setelah perjalanan yang berdarah-darah, (halah lebay), kami pun sampai di pantai sekitar pukul setengah 12. Perjalanan yang menyusahkan pun terbayar dengan pemandangan pantai yang cukup indah, nama pantai ini adalah segoro anakan, yaitu seperti teluk yang dikelilingi bukit jadi tidak langsung mengarah ke samudra Hindia. Sebenarnya ada 2 pantai kalo gk salah, karena tadi ada rombongan lagi yang lainnya dari belakang yang tidak berada di satu pantai dengan kami, berarti ada satu pantai lagi di Pulau Sempu. Kami pun menyempatkan foto-foto dan menikmati pasir putih di sana. di sana juga ada hewan ternyata, kawanan kera yang sedan mencari makan. Kami pun sempat bermain-main dan istirahat untuk perjalanan kembali. Hanya Aryo yang tidak beristrahat.
Sekitar jam 3 sore kami pun bergegas untuk kembali, karena waktu sebelumnya rombongan lain juga telah meninggalkan pantai segoro anakan, hanya tinggal kami yang di sana. Di perjalanan pulang kami sempat berpapasan dengan rombongan yang mau ke pantai, mereka membawa peralatan berkemah seperti minyak gas, ada yang membawa kayu, dan banyak deh. Aryo karena tadi tidak beristirahat maka dia terlihat terhuyung-huyung saat perjalanan kembali, dia pun sering terpeleset. Kami pun sampai di tempat awal jam 5 sore, kami melihat air pantai sudah surut. Olehnya kamipun harus berkecek-kecek melewati air supaya bisa sampai ke perahu. Ombak pada jam segitu memang gak seberapa tinggi tetapi cukup bergelombang.
Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya, mampir dulu ke Malang untuk makan, di perjalanan ke Malang kami banyak sekali yang capek. Setelah muter-muter daerah Malang kami pun akhirnya menemukan tempat makan yang sekiranya enak tapi murah, hehe. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di Porong kami mengisi bensin dulu. Ada kejadian konyol ketika kami mengisi bensin disitu. Setelah mengisi bensin, Aryo dengan santainya menyalakan korek api untuk merokok. Untung petugas pom langsung tau dan menegurnya, Aryo menjawab,”Oh iyo pak lali, ngantuk e pak.” Hahaha. Wah wah untung gak meledak tuh pom bensin.
Akhirnya sampai juga di Surabaya, kami sampai sekitar jam 11 malam. Azizil pun pulang ke kosnya, dan aryo pulang ke rumah, aku dan Dedi istirahat di tempatnya Alvin, sebelum tidur aku disuruh mengoleskan balsem sama Dedi dan Alvin, biar kalo bangun tidak keram atau pegel. Tapi aku gak mengoleskan karena ngantuk banget. Dan paginya walaupun dikasih balsem atau gak, kaki kami tetap saja capek. Hahaha.
Thats’s my story, yours ?
Quote of the day:
'Home is a place where we always find a love'