Minggu, 05 Maret 2017

Para penikmat teh

Kedai teh Z adalah kedai teh yang terkenal di daerah antah berantah. Kedai itu terkenal karena menyediakan beraneka ragam suguhan teh. Pengunjung juga bermacam-macam dan mereka senang dengan kedai tersebut.

Tetapi suatu sore ada kejadian unik yang tidak seperti biasanya. Seorang pengunjung mengajak temannya dari daerah lain untuk menikmati teh di kedai Z. Seperti biasa, kedai tersebut ramai. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah kursi di bagian tengah. Lalu mereka pun duduk dan memesan teh.

A: wah rame banget ya tempatnya
B: tempat ini rame karena tehnya mantap
A: ah masak sih
B: nanti rasain sendiri

Teh yang mereka pesan datang.

A: wah emang tehnya bener2 mantap
B: nah, gak salah kan rekomendasiku
A: tapi ada yang aneh deh dari orang2 di sini, liat tehnya mereka, masak ada yang dikasih susu, terus coba liat yang sebelah situ, ada yang dikasih lemon, teh apaan tuh
B: lho disini emang banyak macem tehnya
A: aneh liat teh dibikin kayak gitu, belum lagi liat orang-orangnya, cara minumnya aneh2. Ada yang pake sedotan, terus
ada yang pake lepek lah, Helloo, ini teh atau kopi.
B: Toh mereka enak2 aja, kan gak masalah
A: lho ya jelas masalah lah. teh itu harus murni kayak kita gini nih. Cara minumnya juga harus diperhatikan.
B: Terserah mereka sih minum teh kayak gimana, ngapain diurusin
A: lho enggak bisa, teh itu harus murni, nanti aku ngomong pemilik kedainya supaya harus teh murni yang disuguhin di sini.
B: ngapaiinnn

C: gulanya kepake enggak, aku ambil boleh ?
Seorang penikmat teh yang dicampur blewah yang ada di dekat mereka meminta gula yang tersisa.

A: (diam sebentar) sorry gulanya uda aku pake, kenapa gak minta pelayannya aja ?
C: ooh pake gula toh, hahaha (ketawa ngejek)
A: ngapain ketawa2
C: bro bro, ngomong  soal teh murni bla bla bla, tapi situ pake gula juga ternyata.
A: ya biar manis. Beda lah, gula kan gak mengurangi kemurnian teh
C: hahaha, udah ah

Penikmat teh blewah pun melanjutkan kesibukannya. Sepertinya dia sebel juga dengan ocehan teh murni si B

D: ealah puritan abal2 ternyata
E: hahaha iya, namanya juga abal2, ada aja lah keunikannya
D: kalo puritan beneran ya harus siap dong gak pake gula
E: gak pake sendok juga buat ngaduk gulanya
D&E: hahahahha
Dua orang penikmat teh dicampur kentang di dekat mereka sengaja meninggikan obrolan.

Merasa tersindir, kuping A pun memerah. Mau membalas nyerocos pun juga sudah kehabisan kata2.
A: ayok kita pulang
B: lah teh mu masih banyak gitu.

Merasa tak nyaman, A mengajak pulang. Saat perjalanan pulang, A ngedumel tentang betapa tidak ramahnya para pengunjung kedai teh Z dan akan tetap berusaha ngomong tentang rencananya ke pemilik kedai. B pun hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar temannya ngoceh gitu.

Ngeteh dulu yuk biar seger

Sabtu, 14 Januari 2017

Tuhan punya cara sendiri menghibur hambanya

Sore ini langit Surabaya sudah muncul tanda-tanda akan turun hujan. Terlihat dari langit yang mulai gelap dan udara yang mulai dingin. Motor yang kuparkir di teras pun kumasukkan ke dalam agar tidak kehujanan. Lalu ketika aku bersantai nonton TV yang menyiarkan siaran ulang yang hit kemarin malam, yang "lucu-lucu" itu lhoo. Hujan pun akhirnya turun, deres banget.

Nah, disaat lagi seru-serunya nonton hiburan di TV. Ada panggilan telpon masuk. Nomernya gak kukenal. "Halo" kataku ramah (sambil sedikit berharap kalo orang yang nelpon aku ini cewek).
"Mas, posisi lagi dimana ?" Suaranya berat (cuk, cowok)
D: Ini siapa ya ? (Mode ramah: off)
P (sebut saja orang gak dikenal ini dengan inisial P)
P: lho gak di save ta mas nomerku ? ini aku mas, gak di save yo nomorku ? Sampeyan posisi dimana ini ?
(Orang ini ngomongnya pake bahasa jawa sih, keliatan medoknya dan omongannya pun santun, tapi tergesa-gesa dan terkesan memaksa)

D: aku posisi di bulak banteng mas(sambil berpikir, siapa ya orang yang gak ku save di hp), sampeyan siapa mas ?
P: aku di pom bensin ini mas
D: sampeyan ini siapa sih mas ?
P: wah sampeyan gak ngesave nomorku iki,
sampeyan posisi dimana ini ?
D: Hardian ta ?  (Kataku nebak asalan, Nama disamarkan, dan kebetulan memang ada nomor teman les ku yang enggak ku save di hp, dan logat jawanya pun mirip2)
P: nah iku, sampeyan posisi dimana iki ? Aku di pom bensin
D: lagi di bulak banteng, mau ke bungkul ini
P: aku lagi di pom bensin iki mas, ini aku nemu uang 6 juta 400

Wiik 6 juta, lumayan ituuuu,
D: (langsung kupotong) sek2 awakmu posisi nang pom bensin mana iki?
P: yo di deket2 situ mas
D: dimana ? Ngagel ta ?
P: ya deket2 situ mas
D: owala, Nginden berarti ? Yang depannya kampus ITS iku ya ? (Tanyaku mantap)
P: ya ya itu,
D: owalaaa, opo'o mas ?

Ealah, penipu toh, antara pengen ketawa dan sedikit jengkel sih. Berarti orang ini bukan orang Sby dan gak tau kalo sby lagi hujan. Lagi dengan khusyuknya nonton siaran ulang acara yang lagi hits eh ditelpon orang gak jelas. Akupun berpikir untuk ngerjain orang ini. Kebetulan pulsa telpon ku juga lagi kosong, dilama-lamain pun, orang itu yang nanggung tarif pulsanya.
Karena dulu aku juga pernah ada telpon kayak gini, tapi posisi lagi ada pulsa, dan entah gimana caranya, pulsaku yang habis kesedot. Ciyukks banget.

Oke kembali ke telpon tadi.
P: aku tadi nemu uang 6 juta 400, nah iku gak onok identitas e, dan iki lagi posisi nang pom bensin, bla bla bla....

Yaudalah kubiarkan orang ini mrospek seperti para marketer bank atau asuransi kepada calon nasabahnya. Lagian suaranya juga kecil. Di luar rumah, hujan tambah deres dan siaran hits lagi di bagian seru-serunya.

D: owala, ya ya
P: Bla bla bla
D: hm, ya
P: bla bla bla
D: sek2 mas, awakmu hardian ta ?
P: lah, yakopo sih mas, yo iku (masihbdengan tergesa-gesa dan sedikit ngotot)
D: awakmu ngerti nomorku dari mana? Sek2 aku sopo sih ?
P: lho sampeyan yak opo sih
D: iyo aku tanya, aku iki sopo ?
P: hmm, (dengan sedikit berpikir) Eko ?
D: (hahaha) mas mas, tipu tipu ae sampeyan
P: oo ek*nt*l

Tuut tuuut tuut , telepon mati, siaran ulang yang lagi hits pun iklan. Channel TV diganti ke spongebob the movie. Lucu juga nonton kelakuan spongebob dan patrick, apalagi patrick. Gak kalah lucu dengan siaran ulang yang lagi hits.

10 menit kemudian.

Balik ke siaran ulang yang lagi hits. Dering telpon bunyi lagi. Masih dari orang yang sama.

D: haloo
P: mas sampeyan posisi dimana ?
D: owala mas mas, sampeyan maneh, tobat o po'o mas mas, tobat
P: oo jiyancuk kon

Tuut tuut tuut

Hm, telpon yang kedua hanya untuk misuh misuh ternyata, hahaha. Mungkin pulsanya kepake banyak ya.
Ada ada saja. Dan aku pun balik nonton TV.

Kamis, 12 Januari 2017

Hujan, disambati atau disyukuri ?

Hujan. Satu kata. Lima huruf. Banyak yang suka. Banyak pula yang dongkol. Bagi orang-orang penjual minuman hangat, inilah suasana yang pas. Biasanya banyak pembeli mampir ke kedai atau warung untuk menikmati minuman ini. Bagi petani yang tanamannya lagi butuh air, hujan adalah kondisi yang  penuh rejeki. Tidak butuh pompa untuk mengairi tanaman mereka

Tapi hujan juga bisa menjadi hal yang tidak disukai oleh petani. Ketika tanaman mereka sudah siap panen, hujan yang sangat deras bisa menggagalkan panen mereka. Begitu juga denganku yang kemarin baru saja berkeliling pulau Madura untuk pertama kalinya. Hujan yang sangat deras turun, menghentikan perjalanan sejenak sehingga singgah lebih lama di warung makan.

Kaget ? Mungkin. Gabungan antara pasrah, kaget dan menikmati sih sebenarnya. Waktu yang seharusnya direncanakan untuk perjalanan bermotor, akhirnya harus berhenti sejenak karena hujan. Cukup lama memang. Dan aku tidak tahu kapan hujan akan berhenti karena ku melihat langit di Madura masih sangat gelap.

Saat itu ku berpikir, kok hujan ya ? Kenapa enggak ? Kan langit uda mendung ? Tapi kok deras banget ? Ya udah lah. Toh dengan begitu bisa istirahat sejenak ketika perjalanan berkeliling Madura. Bisa jadi itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkan untuk beristirahat sejenak agar bisa fresh melanjutkan perjalanan.

Dan begitu pula dengan saat ini, karena hujan yang sangat deras in juga aku menulis untuk yg pertama kali di tahun 2017 :D

Jumat, 02 September 2016

Ini Kisah Tiga Dara (review)

Film 'Ini Kisah Tiga Dara' merupakan film yang terinspirasi dari sebuah film drama musikal karya Usmar Ismail di tahun 1956 yang berjudul 'Tiga Dara'. Nia Dinata sebagai sutradara dan penulisan skenario bersama Lucky Kuswandi mampu memasukkan sebuah keadaan yang boleh dibilang memang ada dan benar-benar terjadi di masyarakat kita saat ini dengan sangat halus. Mulai dari keadaan sosial sampai ke hubungan lintas generasi dalam keluarga.

Film musikal adalah film yang ada adegan-adegan pemainnya bernyanyi dan menari ketika mengekspresikan emosi karakter-karakternya.

Film ini bercerita tentang kehidupan tiga orang kakak beradik Gendis(Shanty), Ella (Tara Basro) dan Bebe(Tatyana Akman) yang tinggal  bersama Oma mereka(Titiek Puspa).  Sementara ayah mereka sibuk dengan pekerjaannya.

Terasa musikalnya film ini sudah langsung hadir di adegan pertama ketika Gendis, Ella dan Bebe naik taksi untuk pulang ke rumah mereka. Keadaan Jakarta macet yang tidak bisa bergerak padahal rumah sudah dekat. Daaan, mereka pun bernyanyi dan menari untuk mengekspresikan emosi mereka. Dan juga saat Oma merasa bahwa cucu-cucunya ternyata sudah tidak kecil lagi ketika dia melihat koleksi foto saat mereka masih kecil.

Sebelum pindah ke Maumere untuk menjalankan bisnis hotel, kakak beradik ini menggelar dagangannya di rumah mereka. Disitu aku melihat para perempuan mandiri, mengatur bisnis mereka sendiri. Sebuah hal yang lumrah di jaman sekarang. Tapi mungkin saja keadaan sosial itu berbeda ketika film yang aslinya diputar pada tahun 1956.
Di bagian ini karakter Oma yang ingin terbaik untuk cucu-cucunya menurut versinya mulai terlihat. Mungkin sebuah perasaan gengsi atau iri atau apapun itu ketika Oma bercengkrama dengan teman-teman sebaya Oma dan mendengar bahwa cucu mereka ada yang sudah menikah dan menimang anak. Dan keadaan itulah yang menurutku dijadikan Oma menginginkan cucu pertamanya untuk segera menikah.

Akting dari para artisnya sesuai porsinya masing-masing. Dan karakter tokoh-tokohnya pun dapat.

Konflik antar karakter dan kehidupan sosial yang terjadi saat ini mampu diblend oleh sutradara dengan sangat sangat smooth. Misalnya, saat mereka bernyanyi dan menceritakan bahwa tradisi yang ribet ketika orang akan menikah. Lalu ketika Gendis dan Yudha berpapasan di pasar. Melalui percakapan dua tokoh itu, sutradara menggambarkan bagaimana amannya kondisi di Maumere ketika Gendis tidak mengunci mobilnya ketika parkir.  Atau ketika tiga dara ngobrol bersama Oma, lalu mereka pun bernyanyi untuk menggambarkan bagaimana sosok matriarki Oma. Dan banyak lagi. Hal-hal tersebut yang membuatku menilai kalau film ini sangat-sangat bagus.

Terakhir untuk iklan. Porsi iklannya pas menurutku. Sutradara mampu memasukkannya dengan smooth.

Ini kisah tiga dara bisa jadi jawaban untuk orang-orang yang mencari film Indonesia yang bagus.
4,8/5.