Minggu, 10 Januari 2016

Memulai Perjalanan ke Jantung Hutan Indonesia

Malam itu di akhir Februari, aku sangat kegirangan. Bukan karena aku akan mendapat uang satu milyar rupiah, atau mendapat pacar yg sangat cantik dan baik, atau pergi melanjutkan studi ke suatu negeri di Eropa Utara. Tetapi karena besoknya, aku akan bertugas ke sebuah pulau di utara Jawa, Kalimantan. Aku akan memasuki wilayah sebuah wilayah pedalaman di Kalimantan. Melihat dengan langsung, bagaimana putaran roda ekonomi bisa bermula dari sebuah pedalaman hutan.

Borneo, begitulah orang-orang bangsa Eropa menyebut pulau tersebut. Karena dulu di sana banyak sekali pohon Borneol. Yg katanya, pohon tersebut mengandung zat terpetin, semacam bahan untuk antiseptik atau kamper.

Banyak sekali cerita tentang Pulau Kalimantan. Mulai dari cerita mistisnya sampai gadis-gadis di sana yang sangat cantik. Cerita mistis klasik tentang Kalimantan, tentu saja cerita alat kelamin pria yang bisa hilang, wew. Cerita tersebut memang bisa jadi benar adanya. Tetapi aku menanggapi bahwa, cerita tersebut memang sengaja dibuat untuk menghormati suatu adat yang ada di daerah tersebut.

Aku memang suka bertualang. Barangkali aku salah satu diantara orang2 yang beruntung, bisa bekerja sesuai passionku, bertualang. Bertualang memang memberi kita sebuah pengalaman baru, pengalaman langsung kurasa. Menjelajah tempat-tempat baru memang memberi rasa senang, tentang bagaimana tempat itu, orang-orangnya, kehidupan di sana, budaya setempat, gadis-gadis lokal, tentang sebuah tempat eksotis yang ada di Indonesia.

Paginya, aku bersiap berangkat ke pulau Kalimantan. Taxi yang kutelepon pun sudah datang. Barang-barang pribadi dan perlengkapan kerja pun masuk taxi. Seberangkatnya aku menuju bandara Juanda. Sambil menghabiskan sebatang rokok, aku membayangkan petualangan apa saja saat di Kalimantan nantinya.

Akhirnya taxi pun sampai di bandara Juanda. Akupun melihat kode booking yang tertera pada HPku, menuju loket pemeriksaan, memasukkan barang-barang ke dalam bagasi pesawat. Tidak lama kemudian, petugas bandara memanggil penumpang pesawat dari SUB-BPN untuk bersiap naik ke pesawat. Akhirnya aku duduk, bersiap untuk memulai sebuah petualangan baru di pulau seberang, Kalimantan. 

Senin, 04 Januari 2016

Dari sudut warung, menikmati hujan

Hujan. Sebuah kata yang wow kukira. Berbagai macam karya sudah terinspirasi dari fenomena alam tersebut. Sebut saja puisi, berapa banyak puisi yang sudah dibuat oleh orang dengan beribu macam gaya dan penulisannya. Belum lagi lagu, mulai dari lagu rock, mellow, akustik, keroncong dan aliran musik lainnya yang bertemakan hujan. Ataupun karya-karya yang lain yang terinspirasi atau bertemakan kata tersebut, hujan.

Di sudut warung kopi ini, hujan turun deras sekali. Banjir pun menghiasi halaman warung. Sepeda motor yang diparkirpun tidak luput dari serangan hujan.

Tidak terasa kopi susu yang kupesan tadi sudah habis. Hujan masih belum juga reda. Sepertinya langit masih mengizinkan air terus mengguyur kota ini. Menghapus dosa. Menghapus polusi yang diciptakan oleh manusia melalui kereta-kereta besinya.

Air turun
Pengendara-pengendara bertudung
Lampu-lampu jalan menyala

Begitulah kira-kira suasana hujan yang kurasakan malam ini.

Sabtu, 02 Januari 2016

Revolusi Kasur

Hari ini adalah minggu pertama di tahun 2016, wow (biasa aja keleus).
Gaya gravitasi tempat tidurku rasanya bertambah 100 kali lipat Ketika jam digital hp menunjukkan pukul 6 pagi. Berat boss, mata inipun rasanya ingin kembali ke alam tidur yang menenangkan.

Memang tidur pagi itu rasanya sangat nyaman, terlebih di hari minggu. Bagi mereka yang bekerja dari senin sampai sabtu, tidur pagi di hari bisa jadi merupakan semacam privilages yang hanya bisa didapatkan seminggu sekali.

Tetapi minggu pagi kali ini, aku memilih bangun dari tempat tidurku. Entah mau melakukan apa, yang penting aku harus bangun dulu. Bangun dari tempat nyamanku.

Badanku bangun, kakiku melangkah dan Tanganku bergerak untuk mengambil sebuah buku lama. Novel sih, cerita detektif karya Agatha Christie.
Saat kubuka lagi isi cerita dari karya-karya Agatha Christie, ada rasa yang berbeda dibandingkan saat pertama kali membacanya.
Rasanya lebih cepat dan mudah memahaminya, apakah ceritanya semakin membosankan ? Tentu tidak.

Dulu, aku sulit membayangkan bagaimana setting dari cerita yang ditulis Christie. Cerita tentang tahun 20' dan 30'an di Inggris, pakaian, pesta, jamuan makan, budaya orang-orangnya, psikologis, raut muka.
dulu, meskipun masih bisa dibayangkan, hal hal tersebut terasa sulit.
Ada sesuatu yang miss ketika pertama kali membacanya.

Rasanya seperti menonton filem yang sama untuk kedua kalinya. Rasanya ada yang berbeda. Bukan karena ditonton lagi terus rasanya beda. Bukan itu, tetapi lebih pada sebuah persepsi kita ketika menonton filem itu lagi.
Persepsi yang berbeda dibandingkan ketika pertama kali menonton.

Sama seperti minggu pagi saat ini. Rasanya memang seperti minggu-minggu yang telah lalu. Tetapi aku memilih untuk menikmatinya dengan cara yang berbeda.

Kamis, 31 Desember 2015

Selamat Datang 2016 ?

Sunrise terakhir 2015, Sunset terakhir 2015, breakfast terakhir 2015, dinner terakhir 2015, dan berbagai apapun yang dipost oleh beberapa teman di media sosial pada akhir 2015.

Pergantian tahun memang menjadi sebuah momen bagi banyak orang untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan di akhir tahun ini dan tahun depan tentunya. Ada yang bakar-bakar, ada yang melihat pesta kembang api, ada yang nongkrong, ada yang konvoi, ada yang ngopi sambil ngobrol ditemani sebungkus rokok, dan banyak kegiatan lainnya.

Langit biru berubah menjadi merah. Surabaya maghrib ini berbeda dengan tahun lalu, suara rong-rongan konvoi motor itu sudah tidak banyak lagi karena memang sudah ditindak oleh polisi. Jalan pun serasa lebih lenggang ketika berangkat ke rumah seorang kawan. Banyak yang berubah di Surabaya tahun ini, suara terompet di jalan pun tidaklah seramai dulu. Yang ada di magrib itu hanyalah seperti keramaian kendaraan bermotor pada hari-hari kerja biasa.

Di halaman facebook dan instagram, terlihat banyak sekali meme yang bertemakan resolusi 2016,
New me in 2016, bla bla bla
I hope 2016 , bla bla bla
In 2016 i will, bla bla
Ada pula yang antitesis dari meme-meme tersebut misalnya,
Bla bla bla in 2016, bullshit
Ada juga meme-meme lelucon tentang 2016,
Kapan kawin ?
Ini 2016, lu masih jomblo aja ?
Hahaha,  😅

Tahun baru adalah momen untuk perubahan menjadi lebih baik ?
Mungkin banyak diantara kita yang memang berdoa, berharap agar tahun 2016 bisa menjadi lebih baik, rejeki lancar, tetap sehat, dapat jodoh, dapat kerja, dapat sekolah lagi, dan banyak harapan baik lainnya.

Tetapi apakah sebuah perubahan harus menunggu tahun baru ? Menunggu sebuah momen yang pas untuk berubah ?
Bukannya tahun baru sama seperti hari-hari lainnya?

Manusia memang memerlukan momen untuk mengingat, disadari atau tidak
Sama seperti hari ini, 1 Januari 2016, dimana bumi berada di titik tertentu pada orbit matahari.
Sebagai akhiran untuk masa yang lalu, dan sebagai awalan untuk masa yang baru.

Jadi, bagaimana acara tahun baru mu ?
Kalau saya sih, ngopi sambil nyangkruk, lalu melihat kembang api di langit Kota Surabaya.
kemudian nyangkruk lagi menunggu pagi untuk melihat matahari terbit pertama kali di tahun 2016.