Riuhnya suasana warung kopi ini begitu enak.
Menikmati kopi sambil mendengarkan live musik.
Ketika hujan yang tadinya deras berhenti.
Musik di sini masih menghibur pengunjungnya.
Minggu, 17 Januari 2016
Warkop yang ramai
Minggu, 10 Januari 2016
Memulai Perjalanan ke Jantung Hutan Indonesia
Malam itu di akhir Februari, aku sangat kegirangan. Bukan karena aku akan mendapat uang satu milyar rupiah, atau mendapat pacar yg sangat cantik dan baik, atau pergi melanjutkan studi ke suatu negeri di Eropa Utara. Tetapi karena besoknya, aku akan bertugas ke sebuah pulau di utara Jawa, Kalimantan. Aku akan memasuki wilayah sebuah wilayah pedalaman di Kalimantan. Melihat dengan langsung, bagaimana putaran roda ekonomi bisa bermula dari sebuah pedalaman hutan.
Borneo, begitulah orang-orang bangsa Eropa menyebut pulau tersebut. Karena dulu di sana banyak sekali pohon Borneol. Yg katanya, pohon tersebut mengandung zat terpetin, semacam bahan untuk antiseptik atau kamper.
Banyak sekali cerita tentang Pulau Kalimantan. Mulai dari cerita mistisnya sampai gadis-gadis di sana yang sangat cantik. Cerita mistis klasik tentang Kalimantan, tentu saja cerita alat kelamin pria yang bisa hilang, wew. Cerita tersebut memang bisa jadi benar adanya. Tetapi aku menanggapi bahwa, cerita tersebut memang sengaja dibuat untuk menghormati suatu adat yang ada di daerah tersebut.
Aku memang suka bertualang. Barangkali aku salah satu diantara orang2 yang beruntung, bisa bekerja sesuai passionku, bertualang. Bertualang memang memberi kita sebuah pengalaman baru, pengalaman langsung kurasa. Menjelajah tempat-tempat baru memang memberi rasa senang, tentang bagaimana tempat itu, orang-orangnya, kehidupan di sana, budaya setempat, gadis-gadis lokal, tentang sebuah tempat eksotis yang ada di Indonesia.
Paginya, aku bersiap berangkat ke pulau Kalimantan. Taxi yang kutelepon pun sudah datang. Barang-barang pribadi dan perlengkapan kerja pun masuk taxi. Seberangkatnya aku menuju bandara Juanda. Sambil menghabiskan sebatang rokok, aku membayangkan petualangan apa saja saat di Kalimantan nantinya.
Akhirnya taxi pun sampai di bandara Juanda. Akupun melihat kode booking yang tertera pada HPku, menuju loket pemeriksaan, memasukkan barang-barang ke dalam bagasi pesawat. Tidak lama kemudian, petugas bandara memanggil penumpang pesawat dari SUB-BPN untuk bersiap naik ke pesawat. Akhirnya aku duduk, bersiap untuk memulai sebuah petualangan baru di pulau seberang, Kalimantan.
Senin, 04 Januari 2016
Dari sudut warung, menikmati hujan
Hujan. Sebuah kata yang wow kukira. Berbagai macam karya sudah terinspirasi dari fenomena alam tersebut. Sebut saja puisi, berapa banyak puisi yang sudah dibuat oleh orang dengan beribu macam gaya dan penulisannya. Belum lagi lagu, mulai dari lagu rock, mellow, akustik, keroncong dan aliran musik lainnya yang bertemakan hujan. Ataupun karya-karya yang lain yang terinspirasi atau bertemakan kata tersebut, hujan.
Di sudut warung kopi ini, hujan turun deras sekali. Banjir pun menghiasi halaman warung. Sepeda motor yang diparkirpun tidak luput dari serangan hujan.
Tidak terasa kopi susu yang kupesan tadi sudah habis. Hujan masih belum juga reda. Sepertinya langit masih mengizinkan air terus mengguyur kota ini. Menghapus dosa. Menghapus polusi yang diciptakan oleh manusia melalui kereta-kereta besinya.
Air turun
Pengendara-pengendara bertudung
Lampu-lampu jalan menyala
Begitulah kira-kira suasana hujan yang kurasakan malam ini.
Sabtu, 02 Januari 2016
Revolusi Kasur
Hari ini adalah minggu pertama di tahun 2016, wow (biasa aja keleus).
Gaya gravitasi tempat tidurku rasanya bertambah 100 kali lipat Ketika jam digital hp menunjukkan pukul 6 pagi. Berat boss, mata inipun rasanya ingin kembali ke alam tidur yang menenangkan.
Memang tidur pagi itu rasanya sangat nyaman, terlebih di hari minggu. Bagi mereka yang bekerja dari senin sampai sabtu, tidur pagi di hari bisa jadi merupakan semacam privilages yang hanya bisa didapatkan seminggu sekali.
Tetapi minggu pagi kali ini, aku memilih bangun dari tempat tidurku. Entah mau melakukan apa, yang penting aku harus bangun dulu. Bangun dari tempat nyamanku.
Badanku bangun, kakiku melangkah dan Tanganku bergerak untuk mengambil sebuah buku lama. Novel sih, cerita detektif karya Agatha Christie.
Saat kubuka lagi isi cerita dari karya-karya Agatha Christie, ada rasa yang berbeda dibandingkan saat pertama kali membacanya.
Rasanya lebih cepat dan mudah memahaminya, apakah ceritanya semakin membosankan ? Tentu tidak.
Dulu, aku sulit membayangkan bagaimana setting dari cerita yang ditulis Christie. Cerita tentang tahun 20' dan 30'an di Inggris, pakaian, pesta, jamuan makan, budaya orang-orangnya, psikologis, raut muka.
dulu, meskipun masih bisa dibayangkan, hal hal tersebut terasa sulit.
Ada sesuatu yang miss ketika pertama kali membacanya.
Rasanya seperti menonton filem yang sama untuk kedua kalinya. Rasanya ada yang berbeda. Bukan karena ditonton lagi terus rasanya beda. Bukan itu, tetapi lebih pada sebuah persepsi kita ketika menonton filem itu lagi.
Persepsi yang berbeda dibandingkan ketika pertama kali menonton.
Sama seperti minggu pagi saat ini. Rasanya memang seperti minggu-minggu yang telah lalu. Tetapi aku memilih untuk menikmatinya dengan cara yang berbeda.