Senin, 24 September 2012

Pengerjaan Research dan Penentuan Supervisor untuk Research


                Penelitian (Research) atau dalam bahasa mahasiswa sering disebut Tugas Akhir merupakan sebuah karya atau tugas mahasiswa sebelum menyelesaikan studinya. Tugas akhir ini memang mutlak dibuat oleh mahasiswa ketika ingin lulus dari bangku perkuliahan. Tugas akhir yang dibuat oleh mahasiswa ini seharusnya bisa bermanfaat baik untuk ilmu pengetahuan ataupun aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. 

                Dalam perkembangannya, penelitian bisa dibedakan menjadi beberapa kategori, antara lain, Eksplorasi, deskriptif dan praktitif. Penelitian yang bersifat eksplorasi berarti mencari sesuatu yang baru untuk ditemukan baik berupa metode, hal yang baru, ataupun sesuatu yang baru lainnya. Penelitian eksplorasi ini tidak harus menyelesaikan suatu masalah, tetapi berfokus untuk menemukan sesuatu yang baru. Penelitian Deskriptif mengarah untuk memaparkan sesuatu yang sudah ada, ataupun untuk mengembangkan sesuatu yang telah dipelajari. Dan penelitian praktitif lebih mengarah pada aplikasi dari sebuah tools atau metode untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Tipe-tipe penelitian tersebut juga bisa dikategorikan menjadi kuantitatif ataupun kualitatif, hal yang bersifat aplikasi ataupun ilmu pengetahuan, tergantung dari masalah yang dibawa dan yang melatarbelakangi.
  

              Di perguruan tinggi, penelitian untuk mahasiswa pun mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda, tergantung dari tingkat pendidikan yang diambilnya baik itu S1, S2 atau S3. Tingkat S1 biasanya mempunyai jenis tugas akhir yang bersifat aplikatif dan exercising knowledge. Tingkat S1 lebih ditekankan untuk mencoba pengetahuan yang telah didapatkan selama perkuliahan. Biasanya berupa menyelasaikan suatu masalah dengan tools dan metode-metode tertentu. Tingkat S2 lebih ke arah pengembangan dari suatu ilmu. Mahasiswa S2 ketika tesis mengembangkan suatu ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. sedangkaan untuk disertasi S3, lebih ke arah penemuan baru, baik metode, hal, ataupun lainnya. 

                Penelitian dimulai setelah adanya topik penelitian. Dalam tahap ini, mahasiswa seringkali salah menerjemahkan antara masalah apa yang akan diselesaikan dengan tools apa yang akan digunakan. Tidak sedikit mahasiswa yang menerjemahkan bahwa tools merupakan hal yang akan dikerjakan untuk dijadikan topik. Sebenarnya bukan tool-nya yang dijadikan topik, tetapi bagaimana cara menyelasaikan masalah dengan tools yang ada. Ada perbedaan mendasar antara tools dengan objek yang akan diteliti, objek merupakan sesuatu yang akan diteliti, baik itu dengan mendeskripsikan ataupun menyelesaikan dengan tools. Sedangkan tools lebih mengarah pada metode ataupun cara untuk menyelasaikan objek penelitian. 

                Penentuan topik penelitian yang baik hendaknya ada studi pendahuluan dulu untuk topik tersebut. Tujuannya untuk penelitian bisa dikerjakan dengan maksimal. Penentuan topik berarti kita juga menentukan masalah yang akan dibawa ke dalam penelitian kita. Ada baiknya masalah yang melatarabelakangi penulisan penelitian tersebut merupakan masalah yang sedang terkini, ataupun jika tidak mempunyai suatu macam perbaikan untuk cara penelitian-penelitian sebelumnya. jika mahasiswa sudah menjalankan dua agenda ini maka dia sudah menyelasaikan separuh dari penelitiannya. Karena hal-hal lain seperti metodologi, pengumpulan data, analisis dan interpretasi data merupakan hal yang akan mengikuti ketika topik dan masalah sudah tergambar.



                Setelah penentuan topik, mahasiswa mengajukan supervisor atau dosen pembimbing untuk penelitiannya. Tujuan dari supervisor ini adalah untuk mengarahkan bagaimana pengerjaan penelitian dan bertanya seputar masalah pengerjaan tugas akhir. Pemilihan dosen pembimbing sebaiknya disesuaikan dengan topik yang kita bawa, suatu dosen mempunyai bidang masing-masing yang dikuasai, jadi dosen pembimbing yang kita seharusnya orang yang menguasai bidang yang kita ajukan dan mempunyai ketertarikan dengan penelitian kita. Kita bisa melihat ketertarikan dosen pembimbing dalam suatu hal dengan melihat jurnal-jurnal yang telah beliau buat, ataupun hal-hal yang sudah dikerjakan oleh beliau. 

                Ketika topik dan permasalahan sudah tergambar dan dosen pembimbing pun sudah ada, ada kalanya memanage waktu dengan baik ketika mengerjakan tugas akhir. Hal ini dilakukan agar tugas akhir bisa selesai dengan teratur. Mahasiswa mungkin bisa saja mengerjakan tugas akhir ini seenaknya, tetepi bertemu dengan dosen pembimbing tidak bisa sewaktu-waktu. Ada progres yang harus dilaporkan ataupun masalah yang akan ditanyakan dalam jangka waktu tertentu, bisa 2-3 minggu sekali. Dan hal tersebut tidak bisa dilakukan jika kita tidak memanage waktu dengan dosen pembimbing kita. Hal lain yang harus dipersiapkan ketika bertemu dosen pembimbing adalah membawa sesuatu untuk dibaca atau ditanyakan, jadi kita tidak kosongan ketika datang ke dosen pembimbing. Alangkah baiknya jika kita sudah menyiapkan agenda dan progres yang akan kita bawa jauh hari sebelumnya. dan kalau kita sudah mentok dalam pengerjaan penelitian, kita bisa bertanya ke dosen pembimbing bagaimana yang mesti dilakukan. 

                Penelitian nampaknya akan menyita banyak waktu kita dalam satu semester, apalagi jika kita juga masih ada perkuliahan dalam semester tersebut. Banyak cara agar penelitian bisa selesai dengan baik, salah satunya yang simpel tetapi harus konsisten untuk dilakukan adalah memanage waktu untuk pengerjaan tugas akhir tersebut. Dalam sehari memang tidak harus banyak yang dikerjakan tetapi bagaimana bisa konsisten mengerjakan tugas akhir tersebut. Mengerjakan tugas akhir tidak berarti kita harus selalu berkutat dengan laptop dan buku. Bersosialisasi seperti keluar, kumpul ataupun sekadar ngobrol bersama teman, pacar, rekan ataupun keluarga. Dan yang penting jangan lupa menjaga kesehatan, bisa dilakukan dengan olahraga, makan teratur atau istirahat yang cukup. Bukannya kalau sakit nanti pengerjaan tugas akhir bakal tertunda ?

Senin, 10 September 2012

kapita selekta week #2 (part II)


                Tugas akhir merupakan tugas terakhir mahasiswa sebelum dia lulus untuk di wisuda. Tugas akhir mempunyai tahapan-tahapan yang harus dikerjakan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tersebut. Tahapan-tahapan tugas akhir antara lain adalah penentuan judul tugas akhir, tinjauan pustaka, penggalian data, pengolahan data, analisis data dan penulisan laporan penelitian. Baik itu tugas akhir yang bersifat Research and Development, penelitian lapangan ataupun penelitian literatur (kepustakaan), mungkin tahapan-tahapan dalam tugas akhir tidak harus seperti itu, tetapi pembuatan tugas akhir sekurang-kurangnya melewati tahapan-tahapan di atas. 



                Penentuan judul merupakan tahapan pertama, mahasiswa memilih topik apa yang sesuai dengan tugasnya, penentuan topik ini bisa dari ide sendiri ataupun disarankan dari dosen. Tinjuan pustakan kurang lebih seperti referensi tugas akhir tersebut darimana saja, dan kajian-kajian yang sejenis dengan tugas akhir tersebut. Penggalian data merupakan tahapan mengumpulkan data sebelum diolah. Pengolahan data merupakan tahapan untuk mengolah data agar bisa disajikan. Analisis data bertujuan untuk menganalisis apa yang terjadi setelah data tersebut diketahui hasilnya setelah diolah. 

                Penggalian data biasanya dirasakan hal yang paling sulit dalam pengerjaan tugas akhir. Hal ini wajar karena semua hal yang berhubungan dengan tugas harus dicari, baik itu berupa data primer ataupun sekunder. Seringkali tugas akhir yang datanya kurang lengkap akan berujung pada kurang lengkapnya analisis, kurang tepatnya data yang disajikan atau tidak ditemukannya kesimpulan dari tujuan tugas akhir itu sendiri. 



                Menurut saya, hal yang paling sulit adalah justru penentuan judul tugas akhir. Penentuan judul seharusnya didahului dengan pre-research,hal ini dilakukan judul agar tugas akhir tidak sama dengan tugas akhir yang pernah ada sebelumnya. Penentuan judul tugas akhir juga akan berpengaruh terhadap tahapan-tahapan selanjutnya, data apa yang akan diambil, bagaimana data diolah, bagaimana dianalisis, sumber referensi darimana saja dan tahapan lainnya yang bergantung pada penentuan judul ini. Meskipun sebenarnya penelitian pendahuluan juga memerlukan data untuk dijadikan referensi penentuan judul tugas akhir. 

Minggu, 09 September 2012

Social Media, media untuk berantisosial ?



                Hari gene gak punya fesbuk, kemana aja lo ? Dari imajinasi saya, mungkin itulah kata-kata yang keluar ketika anak-anak SMP atau bahkan SD bergaul dengan sesamanya ketika salah seorang dari mereka tidak pernah memakai sosial media sama sekali. Atau dalam bahasa Suroboyoan bisa begini “Cuk nangdi ae kon, fesbuk ae gak nduwe”.  Hahaha, oke cukup, serius sekarang. 

Sebenarnya ilustrasi di atas merupakan salah satu gambaran bahwa media sosial (facebook, twitter, youtube, myspace, BBM, catfish, Line ataupun yang lainnya) telah merangkul semua golongan manusia, tidak peduli dia berusia 70 tahun atau 17 tahun, politikus ataupun rakyat jelata, guru atau murid, orang terkenal ataupun orang yang tidak terkenal sekalipun. Di zaman sekarang keberadaan media sosial seakan menjadi sebuah kebutuhan layaknya makan minum setiap hari. Bagi anda yang sudah terbiasa melakukan aktifitas sosial dengan media sosial, coba sehari dua hari tidak memakainya sama sekali, pasti ada semacam perasaan aneh yang timbul di pikiran kita. 
 

                Coba kita melihat sekilas beberapa dekade ke belakang, sebenarnya apa sih yang melatarbelakangi berkembangnya sebuah media sosial ? Jika ada pertanyaan seperti itu muncul maka jawabannya bisa bermacam-macam. Menurut saya, ada dua faktor yang sangat penting dari berkembangnya sebuah media sosial. Pertama faktor teknologi, kemajuan teknologi terutama teknologi informasi berkembang dengan sangat cepat akhir-akhir ini seperti internet, selain itu teknologi peranti lunak juga semakin berkembang. Faktor kedua yaitu manusia, bersosialisasi adalah sebuah kebutuhan manusia yang mendasar selain makan, tidak salah jika Bapak filosofi Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dan jika ditinjau dari agama(Islam) bahwa sekitar 70% isi Al-Quran merupakan hal yang mengatur hal yang berhubungan dengan manusia.

                Jika melihat dari dua faktor tersebut saya lebih tertarik yang kedua, kenapa karena faktor manusia merupakan faktor yang variabelnya bisa berubah-ubah dan tidak tetap. Bersosialisasi pada dasarnya adalah hubungan komunikasi antara dua orang atau lebih. Bisa menggunakan media komunikasi sederhana seperti bicara(ngomong), telefon, dan banyak lagi.  Manusia juga mempunyai sifat yang keinginannya tidak terbatas, semakin dibatasi manusia maka semakin ingin besar pula keingingan untuk melawan keterbatasan tersebut. 

                Mari kita lihat sejenak fenomena awal-awal tahun 2004. Seorang mahasiswa bernama Zuckerberg mempunyai ide bahwa ingin mengakomodasi aktifitas sosial di kampusnya ke dalam sebuah situs jejaring sosial. Dia melihat sebuah fenomena aktifitas sosial di kampus seperti perkumpulan atau semacam himpunan disana hanya melakukan aktifitas sosial ketika para anggotanya bertemu saja. Ketika tidak ada jadwal, maka perkumpulan tersebut ya tidak beraktifitas sosial. Zuckerberg melihat fenomena tersebut, dia mempunyai ide bahwa aktifitas sosial tidak seharusnya dibatasi tempat dan waktu berkumpul, tetapi dimanapun dan kapanpun. Ide itulah yang kita kenal sekarang sebagai Facebook. 

                Beberapa minggu lalu saya sempat membaca artikel di koran Jawa Pos yang berisikan tentang fenomena lebaran. Penulis bercerita bahwa ketika lebaran yang seharusnya dijadikan ajang kumpul keluarga, malah serasa seperti bukan kumpul keluarga. Para anggota keluarga tersebut memang secara fisik berkumpul disuatu tempat dan waktu yang sama, tetapi secara pikiran, mereka sibuk dengan akftifitas sosial masing-masing dengan handphone mereka, entah itu dari rekan bisnis, teman kampus, pacar atau yang lainnnya. Jika memang kondisinya demikian maka media sosial bukan lagi seperti media bersosialisasi tetapi beralihfungsi sebagai media anti bersosialisasi. Ada suatu anekdot tentang teknologi dari teman dekat saya yang di publish di twitter beberapa waktu lalu, isinya kira-kira begini, “BBM menjauhkan yang dekat”. Saya pun juga terkadang kesal dengan teman saya jika dia sibuk sendiri dengan gadgetnya ketika ada suatu kumpul bersama, entah itu cangkrukan, rapat, kumpul bareng, atau lainnya.

                Well, perkembangan teknologi memang sangat membantu banyak manusia dalam berbagai hal salah satunya adalah aktifitas sosial, manusia tidak perlu repot menemui kolega bisnis atau kerja ketika dia berada sejauh puluhan mil, hanya dengan monitor dan CPU mereka bisa berkomunikasi dan mendiskusikan kepentingan mereka. Tetapi di lain hal teknologi bisa menjadi hal yang menjerumuskan kita bila kita menggunakannya dengan kurang bijak. Bagaimana dengan anda? 


Quote of the day: 
"Orang bisa saja mati, tetapi tekadnya mungkin masih hidup sampai sekarang" 


Selasa, 27 Desember 2011

Petualangan ke Pulau Sempu

Cerita ini berawal ketika aku memasuki pertengahan semester 4, aku dan teman-temanku yang lagi suntuk oleh tugas kuliah dan tetek bengek kampus yang lainnya merencanakan refreshing ke suatu tempat(duh kok kayak cerita apa gitu ya, hahaha) udah langsung to the topic aja. Saat setelah UTS, Ujian tidak serius eh salah Ujian tengah semester maksudnya hehe (udah udah serius kali ini), kami mempunyai beberapa tujuan refreshing kalo gk gunung ya pantai lah. Setelah browsing dan cari-cari info tentang tujuan, akhirnya kami pun menetapkan Pulau Sempu sebagai tujuan refreshing kami.

Sebelum berangkat kesana, kami cari info dulu tentang keadaan Pulau Sempu, ya info dari temen, browsing internet, yang pernah kesana, sampai nanya paranormal (eh yang terakhir gak ding). Setelah mendapat info tentang keadaan di sana, kami pun mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk dibawa kesana, seperti air minum, kamera, teropong, tas, makanan dan banyak deh, males nyebutin satu-satu, intinya seperti keperluan dan alat buat naik gunung, soalnya medan di Pulau Sempu hampir mirip kayak gunung. Katanya sih pemandangan di sana sangat bagus, karena emang medannya terjal jadi sedikit orang yang mau melewati medan terjal untuk bisa menikmati pemandangan yang bagus itu. Kami pun jadi makin penasaran.

Akhirnya persiapan selesai dan kami pun siap berangkat ke Pulau Sempu, oh iya kami rencana berangkat sekitar jam 1 pagi, dengan memperkirakan perjalanan dari Surabaya ke Malang 2 jam, kemudian Malang ke Sempu sekitar 2 jam juga, total Surabaya ke Sempu sekitar 4 jam. Sebelum berangkat kami makan nasi goreng dulu buat isi perut di daerah Gebang, kami berenam memutuskan untuk makan dulu ya karena emang belum makan, --“ . Oh iya kami berenam itu aku dan temen-temenku, Alvin, Dedi, Aryo, Azizil dan Abid. Sebenarnya yang direncenakan buat ke Pulau Sempu sekitar 11 orang, ketambahan Rangga, SM, Yoma, Andres dan Kukuh. Tapi mereka gak bisa karena alasan masing-masing. si Rangga ini tadinya mau ikut bareng dari Malang soalnya abis dari pacarnya, tapi tiba-tiba gak bisa. Terus kalo SM pulang ke Sidoarjo. Yoma ehm, apa ya kalo gak salah pulang juga deh, Andres sakit, kalo Kukuh kakinya masih sakit waktu itu.

Oke, back to the topic, setelah makan kami pun berangkat sekitar pukul 01.45 WIB, wah molor 45 menit --“ . Kami memakai tiga sepeda motor (iya lah 3 masa’ pake 2), aku sama Aryo, Azizil sama Dedi dan Abid sama Alvin. Kami mengisi bensin dulu di pom Gebang, setelah mengisi bensin dan brum brum akhirnya kami pun berangkat. Jalanan kota Surabaya waktu itu sangat sepi dan hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang yang menemani kami selain udara dingin, keadaan tersebut menambah rasa ingin buru-buru kami agar cepat sampai ke tempat tujuan.

Memasuki kota Sidoarjo kami lewat Porong, di sini jalanan sedikit macet karena banyak truk-truk besar yang lewat, sekitar jam setengah 4 pagi kami pun sampai di kabupaten Malang, oh iya waktu itu ada pertandingan liga champions antara Barca dan Madrid, kami sempet berhenti di warkop buat tanya jalan ke daerah Sempu, soalnya dari kami berenam emang belum pernah ada yang ke sana sebelumnya. Akhirnya setelah tanya orang-orang di warkop kami akhirnya tau jalan mana yang harus dilewati biar sampai ke Sempu. Agar bisa ke pulau sempu kami harus sampai dahulu di daerah pantai yang bernama pantai sendang biru.

Jam setengah lima pagi, kami memutuskan untuk berhenti di masjid untuk istirahat dan solat subuh. Setelah solat kami melanjutkan perjalanan, waduh kok hujan ya, ya waktu itu sempat gerimis sedikit, tapi akhirnya reda juga kok. Jalanan menuju pantai sendang biru berkelok-kelok, seperti pembalap motoGP kami pun melewati jalanan tersebut dengan cepat dan hati-hati. Memang untuk mencapai pantai sendang biru harus melewati dataran tinggi di daerah Malang, karena letak dari pantai sendang biru di selatan kabupaten Malang. Di sepanjang jalan menuju pantai sendang biru pemandangan lembah dan sawah di pinggir jalan sangat bagus, tapi ada satu pemandangan yang menurutku sangat bagus, wow, that’s a great view. Kamipun menyempatkan foto-foto narsis bentar di salah satu pemandangan lembah tersebut, hehehe.



Sekitar jam setengah 7 pagi kami pun sampai di pantai sendang biru, membayar tiket masuk dan parkir motor. Kami pun lalu bertanya cara untuk sampai ke pulau sempu ke orang lokal, dia pun memberitahu untuk datang ke tempat milik departemen kehutanan di balik parkiran motor. Kalo pulau sempu sendiri sudah keliatan dari parkiran motor, selat yang memisahkan sebenarnya tidak terlalu jauh kok, cukup deket malah. Di kantor milik departemen kehutanan, salah seorang dari kami pun, Abid, bertanya ke orang yang berada di sana cara untuk pergi ke pulau sempu. Lalu Abid keluar dengan raut muka sedikit kecewa, dia pun menjelaskan untuk pergi ke Pulau Sempu haruslah ada sebuah prosedur untuk pergi kesana, karena memang Pulau Sempu sebenarnya adalah sebuah cagar alam milik negara. Prosedur itu antara lain adalah izin dari Balai Besar KSDA Jawa Timur yang terletak di Juanda, kemudian KSDA Jember, yang ada di Jember, dan bla bla. Wah ribet banget.

Akhirnya kami berdiskusi, bagaimana caranya supaya bisa ke pulau sempu, Aryo pun nyeletuk, ‘moso’ wes teko kene mek gara-gara izin tok gk isok melbu rek,” , “Lha iyo moso’ balik nag Suroboyo, terus merene maneh, seng genah ae,” . Kami lalu telepon teman-teman kami yang pernah kesana, katanya ya emang ada ijin, tapi gak perlu izin sebenarnya bisa kok, karena sinyal di pantai sendang biru tidak terlalu bagus alhasil pembicaraan tidak terlalu bagus. Kami pun menganggap bahwa untuk pergi ke pulau sempu adalah calo di kantor tersebut (wah wah). Atas dasar itulah Abid, kali ini ditemani Dedi kembali masuk ke kantor tersebut untuk apakah bisa diizinkan masuk meskipun tidak ada suatu izin, dan jawabannya tetap tidak boleh. Dan Aryo pun, karena kurang puas ikut masuk dan mencoba melobi, sementara Azizil dan Alvin mencoba menelepon teman yang pernah kesana, sementara aku sambil mencuri dengar pendengaran di dalam, memotret keadaan sekitar.

Setengah jam kami stuck di kantor tersebut dan hasil yang didapatkan pun kembali mengecewakan, kami pun tetap belum bisa pergi ke pulau sempu, sebenarnya dalam hati aku berpikir, di sini lho banyak kapal, masa’ sih harus seribet itu buat pergi kesana, lha orang lokal di sini bagaimana, masa’ ya harus repot-repot izin, dan birokrasi ala tetek bengek gitu, apalagi banyak. Ternyata teman-temanku juga berpikir demikian, karena kurang puas lalu akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada orang lokal, yang kami tanyai adalah penjaga parkir motor pantai. Karena malas ikut bertanya aku dan Dedi menunggu di luar, lama banget seh ini tanya gitu aja kok, lalu ada pengunjung yang baru datang dengan menggunakan mobil dan parkir, mereka datang bertiga, laki-laki semua. Karena berplat L, mereka pasti dari Surabaya, aku pun coba tanya ke mereka mau kemana. Ternyata mereka mau ke Sempu, wah kebetulan sekali.

Aku coba menggali info bagaimana cara kesana, ternyata mereka menjawab di luar dugaanku, “wes langsung ae mas, gak usah ijin-ijinan barang, gae opo, wong iku mek gae ben lek onok opo-opo ditulungi” maksudnya gk perlu izin segala, karena hanya buat kalo ada apa-apa misalnya hilang atau apa-apa yang lain bisa ditolongin tim sar. “mas e teko ITS ta ?” salah dari seorang mereka bertanya apakah saya dari ITS, mungkin melihat aku membawa jaket Hima. Aku jawab ya. “woalah mas e yo teko ITS pisan ta?”tanyaku. " iyo, tp wes lulus” jawabnya diiringi suara tawa temannya. Kalo gak salah mereka dari jurusan sipil angkatan berapa lupa. Lalu mereka mengajak bareng bersama 10 orang teman mereka yang sudah dahulu naik kapal, aku jawab “yo wes duluan ae mas, iki karo konco-koncoku soale” owalah yo wes”. Bertepatan dengan itu temen-temenku pun selesai pembicaraan dengan tukang parkir tadi, ternyata hasil yang mereka dapatkan kurang lebih sama dengan apa yang kutanyakan ke alumni ITS tadi, ealah, rupanya tidak perlu repot-repot ngurusin birokrasi tetek bengek, tapi resikonya kalo ada apa-apa ya ditanggung sendiri. Ya sudah berangkat.

Sebelum menyebrang kami makan dulu di warung terdekat. Akhirnya dengan bantuan tukang parkir tadi kami mendapat tumpangan perahu dengan membayar 85ribu, kami naik perahu untuk sampai ke pulau tersebut, biaya tersebut sudah termasuk dijemput kembali, kalo mau dijemput kami tinggal menelpon atau sms, nanti dijemput. Tapi gak boleh lebih dari jam 5, soalnya ombak pantai selatan kenceng banget. Lalu kami pun naik perahu, sambil menikmati panorama hutan pulau sempu dan lautan yang luas, kami pun menyempatkan untuk mengambil gambar.

Sekitar jam 9 pagi, akhirnya sampai juga di Pulau Sempu, sebelum mendarat terdapat mangrove yang menjalar di air, ada pula karang-karang besar yang terlihat dari atas, tukang perahu mengemudikan perahunya supaya tidak menabrak karang. di awal masuk kami melihat bekas bakar-bakar sampah. Kami berhenti sebentar untuk mempersiapkan lewat medan yang diluar dugaan ternyata jembrot, berlumpur. Tidak lama kemudian dari arah pantai ada rombongan lagi yang datang, mereka datang sekitar 12an orang. Tidak tau pastinya yang jelas banyak. Mereka tampaknya sudah siap dan langsung masuk. Karena tidak tahu jalan maka kami pun mengekor rombongan tadi, ternyata mereka juga dari Surabaya, mereka ternyata teman-teman dari mas-mas yang kutanyai tadi. Ada yang dari Unair, tp kebanyakan dari ITS.

Medan di pulau sempu ini ya bisa dikategorikan tidak terlalu ekstrem banget tapi juga tidak terlalu gampang, moderate lah. Di jalan kami berpapasan dengan orang-orang yang pulang, kami tanya apakah masih jauh untuk sampai ke pantai, mereka menjawab kurang lebih ada sekitar 3 tanjakan dan turunan agar kami bisa sampai ke pantainya yang bisa ditempuh dengan 1 jam perjalanan, tapi karena jembrot kami pun terpaksa harus melaluinya sekitar 2 jam perjalanan. Tapi yang dirasakan benar-benar susah, mungkin karena lumpur dan banyak karang yang bisa menyebabkan berdarah. Temanku, Aryo, berkali-kali terpeleset dan Abid karena tidak mau melepaskan celana 3/4nya terpaksa harus sobek celananya. Di sekitar jalan ini kami memang tidak melihat adanya hewan seperti ular atau hewan lainnya, mungkin karena sering dilewati manusia.

Akhirnya setelah perjalanan yang berdarah-darah, (halah lebay), kami pun sampai di pantai sekitar pukul setengah 12. Perjalanan yang menyusahkan pun terbayar dengan pemandangan pantai yang cukup indah, nama pantai ini adalah segoro anakan, yaitu seperti teluk yang dikelilingi bukit jadi tidak langsung mengarah ke samudra Hindia. Sebenarnya ada 2 pantai kalo gk salah, karena tadi ada rombongan lagi yang lainnya dari belakang yang tidak berada di satu pantai dengan kami, berarti ada satu pantai lagi di Pulau Sempu. Kami pun menyempatkan foto-foto dan menikmati pasir putih di sana. di sana juga ada hewan ternyata, kawanan kera yang sedan mencari makan. Kami pun sempat bermain-main dan istirahat untuk perjalanan kembali. Hanya Aryo yang tidak beristrahat.

Sekitar jam 3 sore kami pun bergegas untuk kembali, karena waktu sebelumnya rombongan lain juga telah meninggalkan pantai segoro anakan, hanya tinggal kami yang di sana. Di perjalanan pulang kami sempat berpapasan dengan rombongan yang mau ke pantai, mereka membawa peralatan berkemah seperti minyak gas, ada yang membawa kayu, dan banyak deh. Aryo karena tadi tidak beristirahat maka dia terlihat terhuyung-huyung saat perjalanan kembali, dia pun sering terpeleset. Kami pun sampai di tempat awal jam 5 sore, kami melihat air pantai sudah surut. Olehnya kamipun harus berkecek-kecek melewati air supaya bisa sampai ke perahu. Ombak pada jam segitu memang gak seberapa tinggi tetapi cukup bergelombang.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya, mampir dulu ke Malang untuk makan, di perjalanan ke Malang kami banyak sekali yang capek. Setelah muter-muter daerah Malang kami pun akhirnya menemukan tempat makan yang sekiranya enak tapi murah, hehe. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di Porong kami mengisi bensin dulu. Ada kejadian konyol ketika kami mengisi bensin disitu. Setelah mengisi bensin, Aryo dengan santainya menyalakan korek api untuk merokok. Untung petugas pom langsung tau dan menegurnya, Aryo menjawab,”Oh iyo pak lali, ngantuk e pak.” Hahaha. Wah wah untung gak meledak tuh pom bensin.
Akhirnya sampai juga di Surabaya, kami sampai sekitar jam 11 malam. Azizil pun pulang ke kosnya, dan aryo pulang ke rumah, aku dan Dedi istirahat di tempatnya Alvin, sebelum tidur aku disuruh mengoleskan balsem sama Dedi dan Alvin, biar kalo bangun tidak keram atau pegel. Tapi aku gak mengoleskan karena ngantuk banget. Dan paginya walaupun dikasih balsem atau gak, kaki kami tetap saja capek. Hahaha.

Thats’s my story, yours ?

Quote of the day:
'Home is a place where we always find a love'