Selasa, 13 Maret 2018

Kisah Papan Tulis Putih

Saat-saat yang katanya menggembirakan itu tiba. Bagi Aku yang sebuah bongkahan kayu, bertransformasi dari kayu menjadi sebuah bentuk lain adalah sesuatu yang misterius. Tetapi banyak cerita dari teman-temanku yang sudah memasuki fase tersebut, bahwa dengan bentuk lain mereka dapat melihat dunia dengan pandangan yang berbeda dan menyenangkan. Menyenangkan ? Ah masa sih.

Kamu akan melihat sisi-sisi lain para manusia. Begitu kata sesepuh kayu kepadaku.

Beginilah bentukku sekarang, aku menjadi suatu bentuk baru, kotak persegi yang berukuran tipis, dilapisi melamin di bagian depan lalu digabung dengan logam di bagian rusuk-rusukku. Manusia menyebut bentukku dengan nama papan tulis putih.

Awal aku dipindahkan ke tempat baru. Aku langsung mendapatkan pengalaman buruk. Diletakkan di atas sebuah benda beroda dua, aku kemudian digencet oleh pantat manusia. Aku cukup tersiksa. Belum lagi bau tidak sedap yang keluar dari pantat manusia itu. Apanya yang menyenangkan. Mendingan jadi papan tulis yang ukurannya lebih kecil. Dibawa oleh tangan manusia. Apa bedanya coba bentukku sekarang dengan Si Kursi yang diduduki itu.

Manusia itu bermacam-macam. Coba lihat mereka dengan banyak sisi.

Aku sampai di tempatku yang baru ketika matahari sudah tidak nampak. Begitu sampai, aku langsung dimasukkan ke sebuah ruangan. Singkat. Si Pintu Berbadan Dua menyapa aku dan akupun balik menyapanya. Aku sempat melihat para buku yang berjejer sebuah rak buku biasa bertingkat tiga, sebuah rak dengan  bentuk yang aneh menurutku dan sebuah papan tulis putih kecil sebelum akhirnya manusia menutup pintu dan ruangan menjadi gelap.

"Wah ada anak baru" kata si papan kecil
"Weee anak baru" kata rak buku aneh
"Anak baru, anak baru" kata para buku dengan berisik
"Ha"
"Kenalin, aku Si Papan Tulis Putih"
"Ya ngerti, Aku juga papan tulis putih kali"
"Si besar ini, baru datang sudah nyempit nyempitin ruangan aja" sela Si Rak buku aneh
"Sedang apa kamu di sini ?" Kata Si Papan Tulis Putih Kecil
"Sedang apa sedang apa sedang apa di sini ?" Berisik sekali para buku ini pikirku.
"Ya mana kutahu"
"Ooh, barusan dibentuk ya, kukira kamu sudah lama" Si Papan Tulis Putih Kecil menanggapi.
"Udah ah aku capek, mau tidur dulu, daritadi didudukin manusia"
"Bau yaaa?" Kata Si Rak Buku Aneh dengan nada mengejek.
"Hahahahahahha" berisik sekali Para Buku ini.

Banyak kok yang bisa kamu rasakan nanti, menyenangkan kok. Kalau aku ceritain sekarang jadi enggak seru. Kata Si Papan Tulis Putih Kecil pada malam itu.

Hari berikutnya, seorang manusia membuka pintu ruangan. Silau. Aku tau ini adalah siang hari. Aku juga baru tau kalau ruanganku saat ini berwarna biru. Ada juga sebuah gambar tulisan, kartun manusia dan kata-kata yang digambar di tembok ruangan ini. Gambar tulisan itu berada di atas Si Rak Buku Biasa. Di sisi sampingnya adalah tempat Si Rak Buku Aneh dipasang di tembok dan tepat di belakang Si Rak Buku Aneh, ada gambar kartun manusia. Asik pikirku ruangan ini.  Beberapa jam kemudian aku dibawa keluar ruangan oleh seorang manusia.

Banyak manusia-manusia kecil baik cowok ataupun cewek datang sore hari itu. Ada juga beberapa manusia besar. "Good Afternoon" kata manusia besar. "Good afternoon Mister" jawab manusia-manusia kecil itu. Aku penasaran dengan kegiatan para manusia ini. Manusia besar menulis kata-kata di tubuhku.
Banyak sekali kata-kata yang belum pernah aku dengar, kayaknya berasal dari bahasa asing. "School, House, Park". Ah kata-kata apa ini.  Lalu si manusia besar bertanya kepada para manusia kecil. "Sekolah, Rumah, Taman" jawab para manusia kecil. Ada juga beberapa manusian kecil yang menjawabnya dengan suara keras. Cukup berisik juga kegiatan ini. Berbeda dengan kegiatan manusia saat membuka buku yang dinamakan membaca. Tapi Aku melihat sebuah persamaan dari dua kegiatan tersebut. Para manusia tersebut sama-sama mencari ilmu.

Oh itu namanya kegiatan belajar-mengajar. Manusia membagikan ilmunya kepada manusia-manusia lainnya. Kata Si Papan Tulis Kecil setelah kegiatan sore itu.

Di sore-sore berikutnya. Aku dibawa ke sebuah jalan. Di situ aku diletakkan di sebuah pohon. Badanku sempat ditempeli plester-plester yang kemudian dilepas lagi. Di jalan besar itu, Aku melihat banyak sekali manusia baik yang besar maupun kecil. Ada juga speaker berada di dekatku. Aku bertanya kepada Si Speaker apa nama kegiatan ini. Dia menjawab bahwa kegiatan ini bernama lomba. Hal menarik dari lomba tersebut adalah ada sharing ilmu di sana meskipun bersifat kompetisi. Di kegiatan itu aku melihat para manusia baik yang besar ataupun kecil, sangat menarik.

"Jadi bagaimana kesanmu terhadap para manusia?" Tanya Si Papan Tulis Putih Kecil ketika aku masuk kembali ke ruangan. Malam itu kulihat banyak dari para buku, Si Rak Besar Aneh, dan Si Pintu Berbadan Dua sudah istirahat.
"Cukup Menarik"
"Itu aja ?"
"Ya iya itu aja, aku melihat bahwa masih ada para manusia yang saling belajar dan mengajari"
"Mungkin kamu baru melihat beberapa kegiatan para manusia"
"Aku mau sedikit bercerita tentang sedikit perubahan yang kurasakan di sini. Kalau kamu perhatikan, menurutmu bagaimana para manusia kecil di sini ?"
"Riang, bersemangat, dan terkadang ada beberapa yang sangat berisik"
"Hm, memang. Tetapi ada suatu perasaan yang entah aku tak tau namanya sejak kamu datang ke sini"
"Itu namanya senang, lega, ceria" kata salah satu buku yang masih bangun.
"Hm, Iya seperti itulah, terima kasih Buku"
"Kulihat setelah kamu datang, Ada sebuah aura yang lebih positif yang muncul. Saat mereka masih menggunakanku sebagai media belajar. Memang iya aura positif dan keceriaan itu terlihat. Tetapi setelah kamu datang, aura positif muncul dengan lebih segar dan kurasakan semangat belajar kembali itu lebih besar".
"Hmm"

Setelah obrolanku dengan Si Papan Tulis Putih kecil.
Banyak hal yang akan kamu lihat, sisi manusia itu banyak. Aku kembali teringat kata-kata dari Sesepuh Kayu. Setelah obrolanku dengan Si Papan Tulis Putih Kecil. Aku pun jadi semakin tertarik dan penasaran dengan para manusia. Sebelum istirahat, aku menantikan kegiatan-kegiatan menarik apalagi yang akan dilakukan oleh para manusia.

Minggu, 12 November 2017

Apalah arti sebuah singkatan

Apalah arti sebuah singkatan

Sewaktu sekolah, pasti pernah tau singkatan NKKBS, KMB, BPUPKI, PPKI, (ups dua kali menyebut huruf mutiara), ABRI atau sejenisnya. Kalau enggak ingat singkatan-singkatan di atas, berarti masa sekolah kalian kebangetan.

Sebenarnya makna singkatan sendiri itu apa sih. terus apa bedanya dengan akronim? terus kalau nama orang boleh disingkat-singkat begitu ? (sebentar, kayaknya uda terlalu melebar)
Oke, Kita mulai dari definisi singkatan. Kbbi mendifinisikan bahwa singkatan adalah hasil menyingkat/memendekkan, berupa huruf atau gabungan huruf, misal DPR. Sedangkan akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar, misal sidak (inspeksi mendadak, ini serem kayaknya).

OKE, dari sini sudah tau kan bedanya singkatan dengan akronim.   TAPI, saya tidak akan membahas perbedaan singkatan dengan akronim. Saya justru mencari persamaan diantara keduanya. Mungkin dari penjelasan kbbi di atas. Ada dari kita yang berpikiran, apa sih bedanya singkatan dan akronim kalau sama-sama memendekkan huruf? ya kan, huehehe. Nah makanya itulah persamaannya. Dan maksud singkatan yang ada di judul tulisan ini merujuk pada persamaan antara singkatan dengan akronim. paham ? pinter. sip. seratus.

Terkadang, sebuah frase kata mempunyai sebuah singkatan yang disepakati oleh komunitas masyarakat tertentu.

Ada cerita beberapa tahun yang lalu ketika saya hendak lanjut kuliah (formal banget sih). Waktu itu singkatan dari teknik industri bukan disingkat TI. Tapi tekdus. iya tekdus. bukan teknik kardus. bukan pula teknik dus dus. tekdus adalah singkatan yang disepakati oleh anak SMA waktu itu untuk teknik industri (gk tau sepakatnya kapan). Yang jelas begitu kalian mengucap kata tekdus, berarti artinya adalah teknik industri.

Ketika saya masuk kuliah, mulai terjadi pergantian singkatan tekdus menjadi TI. Bermula dari senior yang mengetahui bahwa MaBa sering menggunakan singkatan tekdus untuk teknik industri. Mereka pun meluruskan bahwa singkatan teknik industri adalah TI, bukan tekdus. Segitunya ya, iya segitunya. Dan sebagai warga minoritas kami pun menuruti apa kemauan mayoritas (maba adalah minoritas, huehuehue). Daan seiring berjalannya waktu, singkatan tekdus pun hilang bagai debu digantikan oleh TI.

Terkadang satu singkatan mempunyai berjuta arti.

Coba sebelum membaca paragraf di bawah ini. Tolong fokus dulu ke paragraf ini. Karena saya memunculkan beberapa singkatan. Tolong jawab menurut persepsi kalian secepat mungkin. DPR, TKP, dan SBY.

1
2
3

Oke, mari saya jelaskan satu-satu singkatan yang saya maksud di atas. jawabannya adalah
1. DPR , Durung payu rabi
2. TKP, tempat khusu panggung
3. SBY, surabaya
Oke, bagi kalian yang menjawab benar saya ucapkan selamat, udah itu aja.

Dan di dunia ini memang ada singkatan yang punya banyak arti. Contoh di atas adalah sebagian kecil saja.

Apa singkatan dari AH ? (Mirip pertanayaan cerdas cermat saat agustusan jadinya, lol)

Ketika orang memilih jawaban, Ahli Hukum, mereka tidak salah. Agus Harimurti, mereka juga tidak salah. Anies Haswedan, mereka salah, eh saya salah, salah ketik, sorry typo. Atau A Hok, mereka juga tidak salah.

Sore-sore di warung kopi, tiba-tiba saya mendengar dua orang bercakap-cakap.

"ayok main ML bareng"

Buset main ML di warkop, dan saya melihat mereka mengeluarkan HP untuk bermain Mobile legends. ooo ternyata.

Selamat sore dari warkop.

Jumat, 21 April 2017

Kiamat itu kita ciptakan

Kiamat itu kita sendiri yang menciptakannya. Begitulah kira-kira lirik lagu yang kudengar semalam dari solois folk asal luar Surabaya. Kita adalah manusia yang tinggal di bumi.

Sekarang Hari Kartini, dan besok adalah Hari Bumi. Mau cocoklogi kedua hari peringatan yang selisihnya sedetik ini nih, soalnya kedua hari peringatan ini ya nyambung dan berhubungan.

Hari ini kita memperingati hari Kartini. Dulu Kartini dan perempuan-perempuan hebat lainnya memperjuangkan salah satunya adalah perempuan mempunyai akses pendidikan yang setara dengan laki-laki. Dan kesetaraan akses pendidikan bukan hanya sebatas masalah gender. Kalau dilihat kondisi jaman sekarang, akses pendidikan masih belum sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.

Hubungannya apa sih dengan hari bumi. Ya kalo setiap manusia di Indonesia atau dunia pada umumnya masih menganggap bumi sebagai tempat tinggal mereka, pengetahuan tentang itu harus merata dong. Akses pendidikan harus terbuka bagi semua orang tanpa memandang golongan ataupun SARA. Jika setiap orang mendapat akses pendidikan, maka mereka bisa berperan menjaga bumi, itu sih.
Entah bumi yang flat atau yang globe. Mending kalo globe, (kalaupun yang terjelek beneran rusak), kita masih bisa ngungsi ke planet lain atau mbuat pesawat angkasa kayak di film Interstellar
Lah kalo flat, sekalinya rusak ya game over.

Udah itu aja.
Selamat Sore

Selasa, 18 April 2017

Bersantai naik perahu nambang

Pernah naik perahu nambang sambil motoran gak ? Kalau pernah, berarti kamu orang yang cukup nekat. Karena gak semua orang berani naik perahu nambang sambil motoran. Enggak perlu jauh-jauh motoran. Ada lho orang yang takut naik perahu nambang, alasannya takut perahunya terbalik. Nah.

(Gambar nyusul) hehehehe

Perahu nambang atau dikenal dengan tambangan merupakan perahu yang digunakan untuk menyebrangi sungai. Kalau dilihat dari desain perahu nambang, perahu ini merupakan modifikasi dari rakit. Dan digunakan untuk menyebrangi sungai.

Kalau di perkotaan, tambangan biasanya digerakkan dengan menggeret perahu. Ada dua kawat besar atau tali tampar yang dibentangkan di kedua sisi sungai. Nah dari situ, nahkoda perahu nambang mengoperasikan perahu dengan menggeretnya. Ada rantai yang mengikatkan kapal dengan kawat, rantai ini fleksibel mengikuti gerakan perahu, fungsinya agar perahu tidak terhanyut aliran sungai.

Pengalaman itu berbeda ketika di luar Surabaya. Aku pernah naik tambangan untuk melewati sungai berantas. Dan itu merupakan pengalaman yang cukup horor. Ya wajar aja kalau ada orang yang takut naik tambangan. Pertama dari sisi safety, tidak ada pagar pengaman perahu seperti tambangan di perkotaan, jadi ya hampir mirip rakit. Kedua, aliran sungainya lebih cepat dari sungai yang di Surabaya. Ketiga, kapal ini digerakkan dengan mesin perahu, jadi saya saranin untuk selalu berdoa supaya mesin tidak rusak atau kehabisan bahan bakar. Karena kalau itu terjadi, berarti siap-siap untuk terhanyut di sungai.

Banyak alasan orang memilih untuk naik tambangan. Bisa jadi alasannya jalanan macet, jarak jembatan yang sangat jauh, panas, enggak mau lama di jalan. Aku memilih perahu nambang adalah biar enggak capek. Daripada motoran di jalan macet yang panas, lebih enak nambang.

Sebenarnya kalau dihitung secara ekonomis banyak opsinya sih. Misalnya gini, jarak untuk ke jembatan sejauh 3 kilometer, dan jalannya macet, perlu waktu setengah jam untuk sampai ke seberang jalan. Maka yang pilihan yang enak ya naik tambangan. Walaupun kita berasumsi bahwa rupiah bensin yang habis untuk menempuh jarak segitu dengan kondisi macet sama dengan rupiah yang dikeluarkan untuk naik tambangan, 1000 rupiah. Tetapi kita tidak akan capek melewati jalanan macet. Dan waktu yang diperlukan juga cepat 10 menit (tergantung ramainya tambangan juga).

Bisa juga orang pengen naik tambangan karena merasa jalannya itu jauh. Atau jalanan udah enggak macet nih, dan enggak panas. Tapi orang memilih naik tambangan karena ingin bersantai sebentar. Menyalakan sebatang udud dan membayangkan kapan Surabaya ada transportasi sungai.