"He ayo ukam, kamu ngapain? malah elus kucing, nanti telat sekolah lho"
"Hadee, kak Akam buru2 sekali sih. Iya kak bentar, ambil helm dulu, hehe, lagian masuknya masih lama kali kak"
"Heee, kalo macet gimana?"
.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah tahun baru. Ughh rasanya malas sekali, aku harap semoga gak ada pelajaran di hari pertama sekolah
.
"Bentar ya, kakak mau mampir Supermarket bentar"
"Jangan lama-lama, nanti Ukam bisa telat tau"
"Katanya masih lama, iya iya, selo dong"
.
Saat sedang menunggu kakakku, aku melihat teman lamaku. Sepertinya aku kenal. Dia menggendong anak kecil, tapi siapa ya, adiknya mungkin. Tak lama kemudian dia melihatku.
.
"Rini, ya?"
"Ukam?"
.
Rini kaget saat melihatku. Wajahnya lelah dan dia sepertinya juga belum mandi. Lalu dia mendekat.
.
"Lama gak ketemu ya, Rin, kamu kemana aja?"
"Aku ikut keluargaku ke luar kota dua tahun lalu, Kam, hehe"
"Lucu banget ya adikmuu. Btw, kamu sekarang sekolah dimana Rin?"
.
Rini diam sebentar. Sesaat aku melihat matanya seperti mau menangis.
.
"Aku uda gak sekolah Kam, hahaha"
"Ha, beneran?"
"Iya, dua tahun lalu aku menikah, ini anakku, lalu aku pun sudah gak sekolah lagi, aku duluan ya Kam, mau ke pasar dulu" Rini pamit dengan buru2.
"Oh, iya hati2 Rin"
Aku kaget sampai tidak bisa bereaksi apa-apa kecuali berkata "Oh".
.
"Jangan bengong nanti kesambet"
Kak Akam mengagetkan aku.
"Siapa tadi? temenmu? lucu ya adiknya"
"Iya kak, itu anaknya, bukan adiknya"
.
Di motor, aku cukup lama terdiam. Aku masih kaget melihat temanku yang sudah tidak sekolah, apalagi ditambah sudah menikah dan punya anak.
"Itu tadi temenmu siapa? SMA?"
"Dulu temen SMP, terus pindah ke luar kota"
"Oh"
"Kok bisa ya kak, temenku tadi menikah dan gak lanjut sekolah?"
"Ya mana kakak tau, tapi setauku kalau pernikahan anak di bawah umur 18 tahun rasionya 1: 9 anak perempuan"
"Kok bisa ya?"
"Ya faktornya banyak Kam" Lalu aku pun diam saja di perjalanan ke sekolahan.
.
Sepeda motor sudah sampai di depan sekolah. Beberapa siswa
"Nanti pulang jam berapa?"
"Ya belum tau, nanti aku kabarin kalau pulang"
"Oke adikku yang paling cantik"
"Wee, adikmu kan cuma aku"
"Hahahaha, ya itu"
.
Saat aku mau masuk sekolah, aku melihat kakakku menyapa temannya yang berada di seberang jalan. Dan saat aku masuk gerbang sekolah, aku pun bersyukur masih bisa untuk bersekolah.
Kamis, 10 Januari 2019
Ukam kaget melihat temannya yang sudah menikah
Selasa, 08 Januari 2019
Indahnya tidur di bawah sinar mentari pagi
Hari ini aku pengen tidur saja. Capek karena semalaman bermain-main dengan temanku. Sinar Matahari pagi yang langsung menyinariku pun tidak kugubris. Aku malah menikmatinya. Oh indahnya dunia. Bisa tidur di bawah sinar mentari. Tetapi tidur nyenyakku diganggu oleh sesuatu.
.
"Hai Miu, bisa diam gak, ngganggu tau"
"Iya Moe ada apa?" Miu menjawab dengan ngelantur.
Oh jadi bukan Miu yang mengganggu tidurku. Terus siapa dong? Aku membuka mata dengan malas. Ini sih bukan temanku Miu yang mengganggu tidurku. Tetapi manusia besar. Pake mengusap kepala lagi.
.
"Dasar orang, Manusia kalian semua!" Aku mengumpat dalam hati karena malas untuk mengeong.
.
Untungnya gangguan dari manusia tidak lama. Dia langsung pergi setelah mengambil helm yang ada di sampingku. Aku pun bisa melanjutkan tidur dengan nyenyak di bawah sinar mentari.
Minggu, 06 Januari 2019
Apa ya, ya gitu deh
Mungkin bagi beberapa orang konsisten itu susah. Mungkin kita adalah salah satunya. Termasuk aku.
.
Definisi konsisten adalah selaras, tetap, taat asas.
.
Aku merasa konsisten itu bersahabat dengan kebiasaan. Iya.
Konsisten: "Halo Kebi, sudah makan hari ini?".
Kebiasaan: "Sudah Kons, kamu gimana, sudah berak?"
.
Hiyaa
.
Aku mengetahui @30haribercerita dari beberapa temanku yg posting di instagram. Lalu aku kepo. Kegiatan apa sih itu?
Setelah searching dengan tidak susah payah. Aku akhirnya nemu.
Jadi kegiatan #30haribercerita awalnya dari blog toh. (Kemana aja tong). Dimulai sekitar 4 tahun yang lalu. Kegiatan menulis di awal tahun selama 30 hari penuh. Jadi mirip-mirip #inktober tapi ini versi cerita dan hanya di Indonesia. Gituu. Btw, aku mulai bercerita pada hari kelima, hahaha.
.
Aku berharap bisa menulis cerita seperti ini dengan konsisten agar bisa terbiasa menulis. Tetapi bukan sekadar rutinitas tanpa improvisasi.
.
Begitulah kuda-kuda nil.
Jumat, 04 Januari 2019
Aceb dan Akam ngomongin program Legalisasi ganja halal
"Mas kopi hitam satu ya" Setelah memesan kopi, Aceb menyapa Akam yang sudah ada lebih dulu berada di warkop.
.
"Ngapain kamu tertawa sendirian Kam? Kayak orang gila"
"Ini lho Ceb, lihat fanspage Nurhadi-Aldo, hahaha, juancuk sekali"
"Owala Dildo toh, sejak ada Dildo, pertengkaran cebong vs kampret jadi hilang setengah ya, seperti dihilangin Thanos. Ada postingan nyeleneh apalagi emang?"
"Ini lho program kerjanya, Legalisasi Ganja Halal. Masa jargonnya menuju Indonesia Terbang. Hahaha"
"Hah? Apa? Beneran?"
"Yah bohongan lah Ceb, namanya juga paslon fiktif, hahaha"
.
.
Kopi yang dipesan Aceb pun datang.
"Heee, ya tahu. Maksudku, kalau program ganja halal ada beneran, kamu setuju, Kam?"
"Jelas setuju dong. Kapan lagi bisa ngefly secara legal?"
"Oohh, jadi biar bisa ngefly legal ya, Kam?" Aceb bertanya dengan nada menantang.
.
Akam memandang Aceb dengan tajam sesaat kemudian dia tertawa.
"Ya enggak lah, aku kan gak make cuk, hahaha. Tapi gak ada salahnya kan di legalisasi?"
"Ya salah lah"
"Cannabis sativa kan banyak manfaatnya, buat kesehatan banyak tuh. Lagian aku juga gak nemuin berita tentang orang mati karena make ganja, yang ada malah ngefly. hahaha"
"Ya kalau disalahgunain gimana? Kayak gak tahu orang Indonesia aja Kam, jangan disamain kayak orang Kanada lah, di sini tuh beda kondisinya hee "
"Disalahgunain gimana, Ceb? ngomong pake data dong, hahaha"
.
Pemilik warung menyalakan TVnya, sepertinya dia malas mendengarkan obrolan Aceb dan Akam.
Aceb, mulai menyeruput kopinya.
"Kamu lihat anak kecil yang dibawa ortunya ke bioskop kemarin gak? padahal sudah jelas filmnya untuk 13+, tapi malah diajak nonton"
"Ya itu salahnya penjual tiket Ceb, hahaha"
"Ya itu maksudku Kam"
"Ya makanya di program Dildo tuh ada yang namanya sosialisasi penggunaan ganja dengan baik dan benar, Ceb hahaha"
"Ah paslon ngaco diladenin, buat lucu-lucuan aja itu"
"Nah itu ngerti, hahaha"
Obrolan Aceb dan Akam pun berhenti saat Chelsea Islan muncul di TV.
Minggu, 09 Desember 2018
Mumet ndasku, piye iki cuk? (Pusing kepalaku, Bagaimana ini cuk?)
"Piye ujianmu?" (Bagaimana ujianmu?")
"Mbuh Cuk, nggarai ngelu, koen gk ngelu ta ngerjakno ujiane mau iku?" (Tidak tahu lah, membuat pusing, kamu tidak pusing apa mengerjakan ujian tadi itu?")
"yo gak lah" (ya tidak lah)
"enak yo arek pinter koyok awakmu" (enak ya anak pintar seperti dirimu)
"Lah prasamu cuk, aku yo ngelu pas sinau. Koen wingi tak jak sinau bareng malah gk gelem" (Lah cuk, aku juga pusing saat belajar. Kamu kemarin aku ajak belajar bareng tidak mau")
"Sibuk push ranked cuk" ("Sibuk push ranked cuk")
"Wes ta lek sik ngelu nang dokter kunu, hahaha" (Sudahlah kalau masih pusing pergi ke dokter sana, hahaha")
"Hancok, wes wes ayo ngegame ae, ben ilang ngeluku" ("Hancok, sudah sudah ayo main game saja, biar hilang pusingku")
"ngelu malah ngegame, lek kalah ngelu pindo koen, hahaha" (pusing malah main game, kalau kalah malah lebih pusing kamu")
"Cuk"
Cerita di atas sepenggal percakapan selesai ujian. Mungkin banyak percakapan yang mirip seperti itu tentang bagaimana ada teman yang pusing setelah ujian, tetapi ada hal yang unik. Pusing yang dimaksud dalam orang-orang seperti percakapan tadi adalah pusing dalam hal bingung bukan sakit kepala.
Sering kita menyebut pusing dalam artian berpikir karena sedang bingung adalah pusing. Hal tersebut tidak salah karena dalam kbbi pun, pusing adalah sakit kepala, pening. Tetapi ada definisi lainnya yaitu pusing adalah tidak dapat berpikir(karena bingung, tidak keruan, sedih dan sebagainya).
Pernah tidak kita merasakan pusing karena belajar suatu hal yang baru? Pasti pernah dong, masa enggak.
Aku mau memberi pengalaman pusingku. Jadi gini. Aku pernah pusing saat pertama kali belajar fotografi. Aku tidak pernah punya kamera sebelumnya. Kamera yang kubeli saat itu adalah dslr yang cukup canggih. Aku belajar fotografi karena ingin menghasilkan gambar bagus seperti contributor national geographic itu lho.
Setelah jeprat-jepret percobaan. Aku baru sadar kalau fotografi itu bukan hal mudah seperti memasak air rebus. Teknis kamera seperti segitiga pencahayaan, iso, diafragma, kecepatan shutter dan lain sebagai-bagainya. Itu ribet b*ngs*d. Belum lagi soal teknik foto, mulai angel (malaikat) eh sudut foto maksudku, komposisi, pencahayaan luar, pola gerakan. Belum lagi soul(jiwa) bisa ada di foto itu sendiri. Itu semua sangat membuat kepala mendidih wahai para cebong dan kampret. Jadi yang bisa tersulut emosi bukan hanya kalian woi.
Lho kok sampai cebong kampret. Oke sebelum pembahasan melebar ke mana-mana balik ke topik. Aku mau menggarisbawahi dan menebalkan bahwa belajar hal baru itu membuat pusing tau. Bersyukurlah kita yang masih bisa pusing karena itulah tanda kita belajar suatu hal yang baru.
Jadi kalau kita bertemu teman yang sambat pusing, ajaklah ke dokter, kalau dia tidak mau berarti bukan pusing karena sakit kepala. Itu.
(judul sengaja dibuat clickbait)
Minggu, 01 Juli 2018
Kamu ndukung apa wahai penonton abadi ?
Kamu ndukung apa wahai penonton abadi ?
Hari ini saya sedikit sedih karena Messi dan Ronaldo tidak bisa bersalaman di perempat final piala dunia 2018. Tapi mereka mungkin salaman di bandara.
Saya juga sedikit lega karena gontok-gontokan pendukung Messi dan Ronaldo asal INDONESIA di medsos juga sedikit mereda. Sedikit.
Kalau bicara soal dukung mendukung, Indonesia minggu ini tidak hanya soal sepak bola tapi juga "itu". Iya "itu" , yang terjadi 27 Juni 2018 itu, masa' lupa, atau jangan-jangan gak tau ? Ya sudah, toh saya juga tidak akan terlalu membahas "itu". "Itu" itu maksudnya pesta demokrasi, gitu aja diberitahu.
Mulai dari si A mendukung si B. Si C mendukung si D. Begitu seterusnya sampai si ZY mendukung si ZZ dan si ZZ mendukung si A. MBULET. Ada yang senang, sedih, B aja (biasa aja), numpang ngakak, sedih campur ngakak dan banyak lagi ekspresinya. Tapi untungnya dukung mendukung mereka tidak sampai ke ranah hiburan piala dunia. Kalau iya bisa repot, kok bisa ?
Saya akan mengajak anda-anda sekalian berandai-andai. Begini.
Jika Jokowi mendukung tim Argentina. Bagaimana perasaan "pendukung Argentina asal Indonesia yang pro Prabowo"?
Di medsos kira-kira bakal keluar kata2 begini: Dasar presiden tidak nasionalis, Ganti ! (mereka mungkin malu kalau harus mendukung satu tim yang sama dengan pak presiden)
Atau sebaliknya
Jika Prabowo mendukung tim Portugal. Bagaimana perasaan "pendukung Portugal asal Indonesia yang pro Jokowi"?
Di medsos kira-kira bakal keluar kata-kata begini: anti asing kok mendukung tim asing !
Yang bikin rusuh adalah jika Amin Rais dan Fadeli Zon tiba-tiba mengadakan konferensi pers.
Di depan media mereka mengatakan bahwa Amin adalah fans berat Ronaldo dan Fadeli adalah fans berat Messi.
Nah ini repot, masa' iya fans Ronaldo dan Messi yang kontra Amin dan Fadeli gak bakal nonton piala dunia lagi ? 😂
Gimana ? mbulet ? 😂
Mong omong saya punya prediksi bola, ntar malam Spanyol pulang, penyebabnya: De Gea kartu merah !
Rabu, 13 Juni 2018
Lembaran Baru
Hari yang indah. Aku berada di tengah taman kota. Dikelilingi oleh pepohonan dan bunga-bunga, aku rasa tempat ini sangat istimewa. Banyak juga orang-orang yang datang ke taman ini.
Udara terasa sejuk saat angin berhempus. wuuss. Di langit, warna biru sangat dominan karena awan terlihat sangat sedikit sekali. Di dekatku ada tiga orang laki-laki asik ngobrol. Sepertinya mereka selesai makan-makan.
"Yang kanan atau yang kiri bro menurutmu ?" tanya orang yang bertopi kepada teman2nya
"yo seng kiri lah, 85 itu" kata yang berambut gondrong
"aku yo setuju, tapi 85 terlalu tinggi, 80 lah" si botak menanggapi.
"arah jam 8, muasuk pol" kata rambut gondrong. Laki-laki bertopi buru-buru menengok ke belakang.
"yo biasa ae, gak usa ngegas ngunu"
"hancuk, arek cilik iku, pendek gitu, masuk apanya, masih blm punya ktp itu" balas laki-laki bertopi.
"kok tau kalo dia belum punya ktp. liat tampilannya, udah dewasa itu"
"sek cilik iku" si botak memotong
"hahahaha" laki-laki bertopi tertawa lepas
"asu"
Obrolan mereka seru. Asik punya teman yang seperti itu. Aku punya banyak teman. Tapi kebanyakan dari mereka sudah berada di luar kota. Banyak yang ke laut dan gunung. Banyak yang pulang membawa cerita-cerita fantastis. Tapi tidak sedikit dari teman-temanku yang terkena musibah. Yang pergi ke laut, ada yang tidak kembali. Ada juga yang berkahir dengan terkubur entah dimana.
Aku bersyukur masih bisa berada di tempat seperti ini. Meskipun tadi pagi ada kejadian yang tidak mengenakkan. Aku sangat ingin pergi ke tempat-tempat baru tapi apa daya. Perempuan yang berkeliling car free day bersamaku tadi pagi meninggalkan aku sendirian di sini. Sedih ? enggak juga.
Sudah lama aku berada di tengah taman ini. Mengamati berbagai macam orang yang berlalu-lalang. Tidak sedikit yang mengamatiku. Tidak terasa hari sudah mau magrib langit jadi mendung, padahal tadi pagi sampai siang cerah.
"srek srek srek srek" suara sandal digesek-gesekkan ke tanah. di dekatku ada dua orang perempuan.
"kamu ngapain Na ?"
"ini, nginjek tai ayam sepertinya La"
"hahaha, ya ke wc la bersih-bersih"
"ngapain, gini doang aja"
"seterah mu wes, ayok cepetan kayaknya mau hujan nih Na"
Tidak lama kemudian hujan deras datang. Orang-orang pun sibuk dengan dirinya masing-masing. Mencari perlindungan sendiri-sendiri. Ada yang ke tenda, di bawah pohon, dan gazebo.
Aku masih di sini. Di tengah taman. Ku nikmati derasnya air hujan yang turun ini. Dari samping banyak anak-anak abg hujan-hujan sambil bawa bola. Satu orang anak menendang bola kearahku. Aku terhuyung-huyung. Terjatuh.
Sampai anak-anak itu bermain bola dan hujan selesai. Aku masih terjatuh. Kemudian ada orang yang memegangku. Lalu gelap.
Aku tidak tau sudah berapa lama keadaan gelap ini. Ketika sudah tidak gelap, aku berada di sebuah tempat baru yang banyak meja dan kursi. Diguntingi oleh seorang laki-laki, dicat warna-warni lalu ditempel mengelilingi ke lampu. Kemudian bersama lampu digantung di atap untuk menerangi ruangan penuh kursi dan meja.
Kamis, 07 Juni 2018
Menggulai kurma manis
"Jancook !! Dasar orang munafik, asuu !" Lukman marah. Dilemparkannya peci hitam yang sedang dipakainya dengan keras ke kursi. Tak lama kemudian kursi itu didudukinya.
"Ada apa ada apa ? yang tenang dong. Surya dulu lah" kutawarkan rokok ke Lukman sambil kunyalakan batang rokokku sendiri. Kutaruh bungkus rokok di meja. Sepertinya Lukman masih belum mood.
"Kamu gak sadar ta dia ceramah apa tadi ? cok !"
"Iya ngerti, sudah lah. Buat apa juga marah-marah"
Lukman diam sebentar. Diambilnya gelas lalu diisi dengan air dari galon. Sepertinya dia sudah agak tenang.
"Isi yang banyak sekalian. Aku juga haus"
Hari ini adalah hari pertama tarawih yang kulakukan di luar tempat tinggalku, begitu juga dengan Lukman. Aku dan sahabatku Lukman adalah perantau dari kota kecil, disebut desa tidak begitu jadul disebut kota juga tidak begitu modern, maka kusebut tempat tinggalku kota kecil. Kami bekerja di kota besar dengan harapan besar layaknya kisah perantauan dramatis pemuda desa yang diceritakan di buku-buku pelajaran sekolah. Pergi merantau, kerja keras di kota, mudik, membahagiakan orang tua, adalah rencana kami, tetapi rencana manusia tidak selalu mulus.
Bulan ini adalah tepat enam bulan kami bekerja di kota besar ini.
Kami bekerja sebagai buruh di pabrik yang sama melalui agen tenaga kerja. Awal bekerja di pabrik ini semua berjalan lancar. Tiga bulan terakhir ada yang ganjil. Gaji belum dibayarkan, tetapi kami tetap disuruh bekerja. Ada isu kalau pabrik akan bangkrut, ada yang bilang bahwa pabrik akan digabung dengan pabrik lain. Entah mana yang benar yang jelas kami dijanjikan bahwa setelah hari raya idul fitri, gaji akan dibayar semua beserta THRnya. Semoga bukan janji palsu.
Bekerja tanpa dibayar selama tiga bulan adalah hal yang berat. Kecewa sudah pasti. Dan yang paling kecewa diantara kami berdua adalah Lukman. Demi mudik, dua bulan yang lalu Lukman bertemu Pak Burhan, bapak kos kami, untuk memohon ditangguhkan dulu biaya kos kami sampai setelah lebaran. Lukman pun bercerita tentang kesusahan kami. Walaupun, permintaan itu ditolak Pak Burhan dengan alasan tidak ada jaminan bahwa setelah lebaran, kos akan dibayar. Dia juga bilang kalau kami tidak bisa bayar kos, lebih baik pulang kampung saja. Oke Baik.
"Bisa ngaji juga kalian ya. Kukira hanya ktp. Haha" Pak Burhan bicara di pintu masuk. Kuhentikan ngajiku, tetapi tidak kujawab basa-basi Pak Burhan. Kulihat senyumnya sinis.
Pak Burhan menuju meja. diambilnya koran di bawah meja. Koran yang diambilnya itu sudah basi, berita seminggu yang lalu mungkin. Ada juga ya manusia yang suka berita basi.
"dasar sampah masyarakat" gumaman Pak Burhan itu membuat mukaku merah panas. Ingin rasanya kulemparkan asbak kaleng di atas meja ini ke kepalanya.
"Iya Pak ?" Lukman yang daritadi hape-an sambil tiduran dan menggunakan kakiku sebagai bantal pun bangun.
"Sampahnya kalau sudah selesai dibersihkan !" jawab Pak Burhan sambil melengos masuk ke dalam rumah.
"ustad sampah, kok bisa orang seperti dia jadi ustad, sok ngomong berlomba-lomba dalam kebaikan tapi kelakuan sendiri seperti kotoran" Lukman bicara pelan sambil melihat Pak Burhan dari belakang.
Hari ini kami baru mengetahui bahwa Pak Burhan adalah seorang ustad.
-------- ======= --------
"Jualan sore Pak Pardi ? kok baru nggoreng ?" tanyaku basa-basi ketika pulang kerja.
"iya mas Bintang, kalau jualan di pagi hari gak ada yang beli, masa orang puasa beli gorengan di pagi hari, warung-warung juga banyak yang tutup mas, hahaha" jawab Pak Pardi dengan bercanda.
Pak Pardi adalah penjual gorengan di depan kos kami. Gorengan yang dibuatnya enak, karena itu setiap pulang kerja kami selalu membeli dagangannya. Saat gaji kami ditahan pabrik, kami jadi jarang membeli gorengannya demi penghematan. Walaupun begitu, setiap dua atau tiga hari sekali Pak Pardi selalu memberi kami gorengan gratis.
Kami cukup akrab dengan Pak Pardi setelah kejadian itu. Setiap malam kami cerita banyak hal tentang kehidupan kami dan tempat tinggal kami. Demikian juga Pak Pardi. Kami mengetahui bahwa Pak Pardi mempunyai dua orang anak, SMP kelas 1 dan SD kelas 3. Dari sisi ekonomi, penghasilan yang dia dapatkan sedikit di bawah kami kadang juga tidak sampai setengah kami. Tetapi dia selalu berkecukupan.
Pak Pardi juga terkadang mengingatkan bahwa kehidupan di tempat kami mungkin berbeda dengan di kota ini. Kebiasaan, orang-orangnya ataupun lainnya bisa berbeda. Dia menyarankan agar kami menyesuaikan lingkungan di sini.
Kami masuk kosan, sebelumnya aku melihat Pak Burhan menyuruh anak laki-lakinya untuk mengantar makanan kotakan, entah kemana.
Kami buka puasa di kosan. lalu pergi ke masjid untuk solat magrib. Setelah solat magrib kami diberi makanan kotakan, di tempat kami, takjil gratis yang mewah seperti ini jarang. Aku diberi satu oleh pengurus masjid, kuterima, tetapi Lukman tidak mau. Ketika kami keluar masjid, di halaman masjid sudah banyak anak kecil bermain-main, sepertinya mereka menunggu sesuatu.
"Kenapa gak ambil kotakan di masjid ? kan gratis" tanyaku ketika sampai kosan.
"kamu tau nggak itu kotakan dari siapa ?"
"Pak Burhan kan"
"Makanya itu aku gak mau"
"Wih ayam bakar, mantap nih" kotakan kubuka. "kamu sih nggak mau nerima kotakan mayan ayam bakar, malah beli makan sendiri hmm"
"Orang kayak Pak Burhan baiknya pas ramadan aja, dapat pahala berkali-kali lipat gitu. Di luar ramadan, ya pelit lagi"
Kudengarkan kekesalan Lukman sambil makan, menurutku makanan dari siapapun adalah berkah.
"Mungkin kalau ramadan tidak memberikan pahala berkali-kali lipat, dia juga males buat nyumbang kotakan gitu"
"daripada dia buat kotakan mewah pas ramadan doang, kan mending dia buat nasi bungkusan aja, jadi di luar ramadan bisa ngasih terus"
"lagian di daerah sini orangnya juga banyak yang mampu secara ekonomi, jadi buat apa, mubadzir makanan kayak gini"
"kalau surga neraka gak ada, dia pasti gak bakal berbuat baik"
"Hus, nyocot ae koyok emak-emak, nasimu keburu basi" sambil kujejalkan semangka ke mulutnya.
"cok"
Sepertiga buat makanan, sepertiga buat air, sepertiga buat udara. makanan dan air sudah masuk, yang terakhir tentu rokok.
"aku mau tarawih di masjid sebelah aja" Lukman membuka omongan
"kenapa ?"
"tanya lagi, orang munafik kamu dengerin, mau jadi apa ?"
kali ini aku sepakat dengan Lukman, akhirnya kami memilih tarawih di masjid sebelah. Di sini penceramahnya bukan Pak Burhan.
------ ======== ---------
Hari ini adalah hari keempat puasa. pas hari libur kerja juga. Hari ini terasa sangat panas sekali. Kami punya rencana untuk buka puasa di tengah kota, mencari suasana, cuci mata sekalian. Setelah Asharan, kami bersiap untuk ngabuburit. Jam setengah lima berangkat. Ketika akan berangkat, kami berpapasan dengan Pak Pardi.
"Itu apa Pak ?" tanyaku
"kotakan gini lho"
"nasi kotak ?"
"bukan, nasi kaleng"
"Hahahaha"
"nasi kuning isinya"
"punya siapa Pak ?"
"ya punya saya, mau dibawa ke mesjid"
"owala"
"ngapain sih Pak nganterin gitu-gituan ?" Lukman yang selesai mengeluarkan motor ikutan nimbrung.
"lho mas Lukman ini gimana, di bulan ramadan ini kita harus berbuat kebaikan mas, bener gak mas Bintang ?" Pak Pardi mencari teman untuk pendapatnya.
"tapi kan pak, orang-orang di sini juga banyak yang mampu, mereka beli sendiri kan bisa" Lukman buru-buru menjawab
"saya taunya berbuat baik ya begini ini mas, hahaha"
"yah, kan sudah banyak Pak orang yang ngasih makanan kotakan ke masjid, daripada mubadzir lho gak ada orang yang makan, ini ibarat menggarami air laut Pak, eman"
"sampeyan ini ngomong apa sih mas, gak paham saya, yang makan bukan orang dewasa mas, tapi anak-anak, hahaha"
"hah ?"
"banyak anak kecil yang gak dapat kotakan soalnya mas, kasihan kan mereka juga puasa lho, masak yang orang gede-gede aja yang dikasih"
Lukman diam.
"Ya sudah mas, saya mau nganterin kotakan dulu ya"
"iya Pak, monggo silakan, kami juga mau ngabuburit" jawabku
"hati-hati mas"
Ketika duduk-duduk di taman tengah kota aku memikiran percakapan kami dengan Pak Pardi. Ketika melihat perilakunya, aku malu kepada diriku sendiri. Lukman juga sepertinya iya, terlihat dia lebih banyak diam. Sore ini, kami menunggu azan magrib sambil dengan tidak banyak bicara.
Selasa, 13 Maret 2018
Kisah Papan Tulis Putih
Saat-saat yang katanya menggembirakan itu tiba. Bagi Aku yang sebuah bongkahan kayu, bertransformasi dari kayu menjadi sebuah bentuk lain adalah sesuatu yang misterius. Tetapi banyak cerita dari teman-temanku yang sudah memasuki fase tersebut, bahwa dengan bentuk lain mereka dapat melihat dunia dengan pandangan yang berbeda dan menyenangkan. Menyenangkan ? Ah masa sih.
Kamu akan melihat sisi-sisi lain para manusia. Begitu kata sesepuh kayu kepadaku.
Beginilah bentukku sekarang, aku menjadi suatu bentuk baru, kotak persegi yang berukuran tipis, dilapisi melamin di bagian depan lalu digabung dengan logam di bagian rusuk-rusukku. Manusia menyebut bentukku dengan nama papan tulis putih.
Awal aku dipindahkan ke tempat baru. Aku langsung mendapatkan pengalaman buruk. Diletakkan di atas sebuah benda beroda dua, aku kemudian digencet oleh pantat manusia. Aku cukup tersiksa. Belum lagi bau tidak sedap yang keluar dari pantat manusia itu. Apanya yang menyenangkan. Mendingan jadi papan tulis yang ukurannya lebih kecil. Dibawa oleh tangan manusia. Apa bedanya coba bentukku sekarang dengan Si Kursi yang diduduki itu.
Manusia itu bermacam-macam. Coba lihat mereka dengan banyak sisi.
Aku sampai di tempatku yang baru ketika matahari sudah tidak nampak. Begitu sampai, aku langsung dimasukkan ke sebuah ruangan. Singkat. Si Pintu Berbadan Dua menyapa aku dan akupun balik menyapanya. Aku sempat melihat para buku yang berjejer sebuah rak buku biasa bertingkat tiga, sebuah rak dengan bentuk yang aneh menurutku dan sebuah papan tulis putih kecil sebelum akhirnya manusia menutup pintu dan ruangan menjadi gelap.
"Wah ada anak baru" kata si papan kecil
"Weee anak baru" kata rak buku aneh
"Anak baru, anak baru" kata para buku dengan berisik
"Ha"
"Kenalin, aku Si Papan Tulis Putih"
"Ya ngerti, Aku juga papan tulis putih kali"
"Si besar ini, baru datang sudah nyempit nyempitin ruangan aja" sela Si Rak buku aneh
"Sedang apa kamu di sini ?" Kata Si Papan Tulis Putih Kecil
"Sedang apa sedang apa sedang apa di sini ?" Berisik sekali para buku ini pikirku.
"Ya mana kutahu"
"Ooh, barusan dibentuk ya, kukira kamu sudah lama" Si Papan Tulis Putih Kecil menanggapi.
"Udah ah aku capek, mau tidur dulu, daritadi didudukin manusia"
"Bau yaaa?" Kata Si Rak Buku Aneh dengan nada mengejek.
"Hahahahahahha" berisik sekali Para Buku ini.
Banyak kok yang bisa kamu rasakan nanti, menyenangkan kok. Kalau aku ceritain sekarang jadi enggak seru. Kata Si Papan Tulis Putih Kecil pada malam itu.
Hari berikutnya, seorang manusia membuka pintu ruangan. Silau. Aku tau ini adalah siang hari. Aku juga baru tau kalau ruanganku saat ini berwarna biru. Ada juga sebuah gambar tulisan, kartun manusia dan kata-kata yang digambar di tembok ruangan ini. Gambar tulisan itu berada di atas Si Rak Buku Biasa. Di sisi sampingnya adalah tempat Si Rak Buku Aneh dipasang di tembok dan tepat di belakang Si Rak Buku Aneh, ada gambar kartun manusia. Asik pikirku ruangan ini. Beberapa jam kemudian aku dibawa keluar ruangan oleh seorang manusia.
Banyak manusia-manusia kecil baik cowok ataupun cewek datang sore hari itu. Ada juga beberapa manusia besar. "Good Afternoon" kata manusia besar. "Good afternoon Mister" jawab manusia-manusia kecil itu. Aku penasaran dengan kegiatan para manusia ini. Manusia besar menulis kata-kata di tubuhku.
Banyak sekali kata-kata yang belum pernah aku dengar, kayaknya berasal dari bahasa asing. "School, House, Park". Ah kata-kata apa ini. Lalu si manusia besar bertanya kepada para manusia kecil. "Sekolah, Rumah, Taman" jawab para manusia kecil. Ada juga beberapa manusian kecil yang menjawabnya dengan suara keras. Cukup berisik juga kegiatan ini. Berbeda dengan kegiatan manusia saat membuka buku yang dinamakan membaca. Tapi Aku melihat sebuah persamaan dari dua kegiatan tersebut. Para manusia tersebut sama-sama mencari ilmu.
Oh itu namanya kegiatan belajar-mengajar. Manusia membagikan ilmunya kepada manusia-manusia lainnya. Kata Si Papan Tulis Kecil setelah kegiatan sore itu.
Di sore-sore berikutnya. Aku dibawa ke sebuah jalan. Di situ aku diletakkan di sebuah pohon. Badanku sempat ditempeli plester-plester yang kemudian dilepas lagi. Di jalan besar itu, Aku melihat banyak sekali manusia baik yang besar maupun kecil. Ada juga speaker berada di dekatku. Aku bertanya kepada Si Speaker apa nama kegiatan ini. Dia menjawab bahwa kegiatan ini bernama lomba. Hal menarik dari lomba tersebut adalah ada sharing ilmu di sana meskipun bersifat kompetisi. Di kegiatan itu aku melihat para manusia baik yang besar ataupun kecil, sangat menarik.
"Jadi bagaimana kesanmu terhadap para manusia?" Tanya Si Papan Tulis Putih Kecil ketika aku masuk kembali ke ruangan. Malam itu kulihat banyak dari para buku, Si Rak Besar Aneh, dan Si Pintu Berbadan Dua sudah istirahat.
"Cukup Menarik"
"Itu aja ?"
"Ya iya itu aja, aku melihat bahwa masih ada para manusia yang saling belajar dan mengajari"
"Mungkin kamu baru melihat beberapa kegiatan para manusia"
"Aku mau sedikit bercerita tentang sedikit perubahan yang kurasakan di sini. Kalau kamu perhatikan, menurutmu bagaimana para manusia kecil di sini ?"
"Riang, bersemangat, dan terkadang ada beberapa yang sangat berisik"
"Hm, memang. Tetapi ada suatu perasaan yang entah aku tak tau namanya sejak kamu datang ke sini"
"Itu namanya senang, lega, ceria" kata salah satu buku yang masih bangun.
"Hm, Iya seperti itulah, terima kasih Buku"
"Kulihat setelah kamu datang, Ada sebuah aura yang lebih positif yang muncul. Saat mereka masih menggunakanku sebagai media belajar. Memang iya aura positif dan keceriaan itu terlihat. Tetapi setelah kamu datang, aura positif muncul dengan lebih segar dan kurasakan semangat belajar kembali itu lebih besar".
"Hmm"
Setelah obrolanku dengan Si Papan Tulis Putih kecil.
Banyak hal yang akan kamu lihat, sisi manusia itu banyak. Aku kembali teringat kata-kata dari Sesepuh Kayu. Setelah obrolanku dengan Si Papan Tulis Putih Kecil. Aku pun jadi semakin tertarik dan penasaran dengan para manusia. Sebelum istirahat, aku menantikan kegiatan-kegiatan menarik apalagi yang akan dilakukan oleh para manusia.
Minggu, 12 November 2017
Apalah arti sebuah singkatan
Apalah arti sebuah singkatan
Sewaktu sekolah, pasti pernah tau singkatan NKKBS, KMB, BPUPKI, PPKI, (ups dua kali menyebut huruf mutiara), ABRI atau sejenisnya. Kalau enggak ingat singkatan-singkatan di atas, berarti masa sekolah kalian kebangetan.
Sebenarnya makna singkatan sendiri itu apa sih. terus apa bedanya dengan akronim? terus kalau nama orang boleh disingkat-singkat begitu ? (sebentar, kayaknya uda terlalu melebar)
Oke, Kita mulai dari definisi singkatan. Kbbi mendifinisikan bahwa singkatan adalah hasil menyingkat/memendekkan, berupa huruf atau gabungan huruf, misal DPR. Sedangkan akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar, misal sidak (inspeksi mendadak, ini serem kayaknya).
OKE, dari sini sudah tau kan bedanya singkatan dengan akronim. TAPI, saya tidak akan membahas perbedaan singkatan dengan akronim. Saya justru mencari persamaan diantara keduanya. Mungkin dari penjelasan kbbi di atas. Ada dari kita yang berpikiran, apa sih bedanya singkatan dan akronim kalau sama-sama memendekkan huruf? ya kan, huehehe. Nah makanya itulah persamaannya. Dan maksud singkatan yang ada di judul tulisan ini merujuk pada persamaan antara singkatan dengan akronim. paham ? pinter. sip. seratus.
Terkadang, sebuah frase kata mempunyai sebuah singkatan yang disepakati oleh komunitas masyarakat tertentu.
Ada cerita beberapa tahun yang lalu ketika saya hendak lanjut kuliah (formal banget sih). Waktu itu singkatan dari teknik industri bukan disingkat TI. Tapi tekdus. iya tekdus. bukan teknik kardus. bukan pula teknik dus dus. tekdus adalah singkatan yang disepakati oleh anak SMA waktu itu untuk teknik industri (gk tau sepakatnya kapan). Yang jelas begitu kalian mengucap kata tekdus, berarti artinya adalah teknik industri.
Ketika saya masuk kuliah, mulai terjadi pergantian singkatan tekdus menjadi TI. Bermula dari senior yang mengetahui bahwa MaBa sering menggunakan singkatan tekdus untuk teknik industri. Mereka pun meluruskan bahwa singkatan teknik industri adalah TI, bukan tekdus. Segitunya ya, iya segitunya. Dan sebagai warga minoritas kami pun menuruti apa kemauan mayoritas (maba adalah minoritas, huehuehue). Daan seiring berjalannya waktu, singkatan tekdus pun hilang bagai debu digantikan oleh TI.
Terkadang satu singkatan mempunyai berjuta arti.
Coba sebelum membaca paragraf di bawah ini. Tolong fokus dulu ke paragraf ini. Karena saya memunculkan beberapa singkatan. Tolong jawab menurut persepsi kalian secepat mungkin. DPR, TKP, dan SBY.
1
2
3
Oke, mari saya jelaskan satu-satu singkatan yang saya maksud di atas. jawabannya adalah
1. DPR , Durung payu rabi
2. TKP, tempat khusu panggung
3. SBY, surabaya
Oke, bagi kalian yang menjawab benar saya ucapkan selamat, udah itu aja.
Dan di dunia ini memang ada singkatan yang punya banyak arti. Contoh di atas adalah sebagian kecil saja.
Apa singkatan dari AH ? (Mirip pertanayaan cerdas cermat saat agustusan jadinya, lol)
Ketika orang memilih jawaban, Ahli Hukum, mereka tidak salah. Agus Harimurti, mereka juga tidak salah. Anies Haswedan, mereka salah, eh saya salah, salah ketik, sorry typo. Atau A Hok, mereka juga tidak salah.
Sore-sore di warung kopi, tiba-tiba saya mendengar dua orang bercakap-cakap.
"ayok main ML bareng"
Buset main ML di warkop, dan saya melihat mereka mengeluarkan HP untuk bermain Mobile legends. ooo ternyata.
Selamat sore dari warkop.
Jumat, 21 April 2017
Kiamat itu kita ciptakan
Kiamat itu kita sendiri yang menciptakannya. Begitulah kira-kira lirik lagu yang kudengar semalam dari solois folk asal luar Surabaya. Kita adalah manusia yang tinggal di bumi.
Sekarang Hari Kartini, dan besok adalah Hari Bumi. Mau cocoklogi kedua hari peringatan yang selisihnya sedetik ini nih, soalnya kedua hari peringatan ini ya nyambung dan berhubungan.
Hari ini kita memperingati hari Kartini. Dulu Kartini dan perempuan-perempuan hebat lainnya memperjuangkan salah satunya adalah perempuan mempunyai akses pendidikan yang setara dengan laki-laki. Dan kesetaraan akses pendidikan bukan hanya sebatas masalah gender. Kalau dilihat kondisi jaman sekarang, akses pendidikan masih belum sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Hubungannya apa sih dengan hari bumi. Ya kalo setiap manusia di Indonesia atau dunia pada umumnya masih menganggap bumi sebagai tempat tinggal mereka, pengetahuan tentang itu harus merata dong. Akses pendidikan harus terbuka bagi semua orang tanpa memandang golongan ataupun SARA. Jika setiap orang mendapat akses pendidikan, maka mereka bisa berperan menjaga bumi, itu sih.
Entah bumi yang flat atau yang globe. Mending kalo globe, (kalaupun yang terjelek beneran rusak), kita masih bisa ngungsi ke planet lain atau mbuat pesawat angkasa kayak di film Interstellar
Lah kalo flat, sekalinya rusak ya game over.
Udah itu aja.
Selamat Sore
Selasa, 18 April 2017
Bersantai naik perahu nambang
Pernah naik perahu nambang sambil motoran gak ? Kalau pernah, berarti kamu orang yang cukup nekat. Karena gak semua orang berani naik perahu nambang sambil motoran. Enggak perlu jauh-jauh motoran. Ada lho orang yang takut naik perahu nambang, alasannya takut perahunya terbalik. Nah.
(Gambar nyusul) hehehehe
Perahu nambang atau dikenal dengan tambangan merupakan perahu yang digunakan untuk menyebrangi sungai. Kalau dilihat dari desain perahu nambang, perahu ini merupakan modifikasi dari rakit. Dan digunakan untuk menyebrangi sungai.
Kalau di perkotaan, tambangan biasanya digerakkan dengan menggeret perahu. Ada dua kawat besar atau tali tampar yang dibentangkan di kedua sisi sungai. Nah dari situ, nahkoda perahu nambang mengoperasikan perahu dengan menggeretnya. Ada rantai yang mengikatkan kapal dengan kawat, rantai ini fleksibel mengikuti gerakan perahu, fungsinya agar perahu tidak terhanyut aliran sungai.
Pengalaman itu berbeda ketika di luar Surabaya. Aku pernah naik tambangan untuk melewati sungai berantas. Dan itu merupakan pengalaman yang cukup horor. Ya wajar aja kalau ada orang yang takut naik tambangan. Pertama dari sisi safety, tidak ada pagar pengaman perahu seperti tambangan di perkotaan, jadi ya hampir mirip rakit. Kedua, aliran sungainya lebih cepat dari sungai yang di Surabaya. Ketiga, kapal ini digerakkan dengan mesin perahu, jadi saya saranin untuk selalu berdoa supaya mesin tidak rusak atau kehabisan bahan bakar. Karena kalau itu terjadi, berarti siap-siap untuk terhanyut di sungai.
Banyak alasan orang memilih untuk naik tambangan. Bisa jadi alasannya jalanan macet, jarak jembatan yang sangat jauh, panas, enggak mau lama di jalan. Aku memilih perahu nambang adalah biar enggak capek. Daripada motoran di jalan macet yang panas, lebih enak nambang.
Sebenarnya kalau dihitung secara ekonomis banyak opsinya sih. Misalnya gini, jarak untuk ke jembatan sejauh 3 kilometer, dan jalannya macet, perlu waktu setengah jam untuk sampai ke seberang jalan. Maka yang pilihan yang enak ya naik tambangan. Walaupun kita berasumsi bahwa rupiah bensin yang habis untuk menempuh jarak segitu dengan kondisi macet sama dengan rupiah yang dikeluarkan untuk naik tambangan, 1000 rupiah. Tetapi kita tidak akan capek melewati jalanan macet. Dan waktu yang diperlukan juga cepat 10 menit (tergantung ramainya tambangan juga).
Bisa juga orang pengen naik tambangan karena merasa jalannya itu jauh. Atau jalanan udah enggak macet nih, dan enggak panas. Tapi orang memilih naik tambangan karena ingin bersantai sebentar. Menyalakan sebatang udud dan membayangkan kapan Surabaya ada transportasi sungai.
Kamis, 23 Maret 2017
Dikira wartawan
| Sepeda kece |
| Pagi-pagi yang pakai sepeda onthel banyak juga |
Minggu, 05 Maret 2017
Para penikmat teh
Kedai teh Z adalah kedai teh yang terkenal di daerah antah berantah. Kedai itu terkenal karena menyediakan beraneka ragam suguhan teh. Pengunjung juga bermacam-macam dan mereka senang dengan kedai tersebut.
Tetapi suatu sore ada kejadian unik yang tidak seperti biasanya. Seorang pengunjung mengajak temannya dari daerah lain untuk menikmati teh di kedai Z. Seperti biasa, kedai tersebut ramai. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah kursi di bagian tengah. Lalu mereka pun duduk dan memesan teh.
A: wah rame banget ya tempatnya
B: tempat ini rame karena tehnya mantap
A: ah masak sih
B: nanti rasain sendiri
Teh yang mereka pesan datang.
A: wah emang tehnya bener2 mantap
B: nah, gak salah kan rekomendasiku
A: tapi ada yang aneh deh dari orang2 di sini, liat tehnya mereka, masak ada yang dikasih susu, terus coba liat yang sebelah situ, ada yang dikasih lemon, teh apaan tuh
B: lho disini emang banyak macem tehnya
A: aneh liat teh dibikin kayak gitu, belum lagi liat orang-orangnya, cara minumnya aneh2. Ada yang pake sedotan, terus
ada yang pake lepek lah, Helloo, ini teh atau kopi.
B: Toh mereka enak2 aja, kan gak masalah
A: lho ya jelas masalah lah. teh itu harus murni kayak kita gini nih. Cara minumnya juga harus diperhatikan.
B: Terserah mereka sih minum teh kayak gimana, ngapain diurusin
A: lho enggak bisa, teh itu harus murni, nanti aku ngomong pemilik kedainya supaya harus teh murni yang disuguhin di sini.
B: ngapaiinnn
C: gulanya kepake enggak, aku ambil boleh ?
Seorang penikmat teh yang dicampur blewah yang ada di dekat mereka meminta gula yang tersisa.
A: (diam sebentar) sorry gulanya uda aku pake, kenapa gak minta pelayannya aja ?
C: ooh pake gula toh, hahaha (ketawa ngejek)
A: ngapain ketawa2
C: bro bro, ngomong soal teh murni bla bla bla, tapi situ pake gula juga ternyata.
A: ya biar manis. Beda lah, gula kan gak mengurangi kemurnian teh
C: hahaha, udah ah
Penikmat teh blewah pun melanjutkan kesibukannya. Sepertinya dia sebel juga dengan ocehan teh murni si B
D: ealah puritan abal2 ternyata
E: hahaha iya, namanya juga abal2, ada aja lah keunikannya
D: kalo puritan beneran ya harus siap dong gak pake gula
E: gak pake sendok juga buat ngaduk gulanya
D&E: hahahahha
Dua orang penikmat teh dicampur kentang di dekat mereka sengaja meninggikan obrolan.
Merasa tersindir, kuping A pun memerah. Mau membalas nyerocos pun juga sudah kehabisan kata2.
A: ayok kita pulang
B: lah teh mu masih banyak gitu.
Merasa tak nyaman, A mengajak pulang. Saat perjalanan pulang, A ngedumel tentang betapa tidak ramahnya para pengunjung kedai teh Z dan akan tetap berusaha ngomong tentang rencananya ke pemilik kedai. B pun hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar temannya ngoceh gitu.
Ngeteh dulu yuk biar seger
Sabtu, 14 Januari 2017
Tuhan punya cara sendiri menghibur hambanya
Sore ini langit Surabaya sudah muncul tanda-tanda akan turun hujan. Terlihat dari langit yang mulai gelap dan udara yang mulai dingin. Motor yang kuparkir di teras pun kumasukkan ke dalam agar tidak kehujanan. Lalu ketika aku bersantai nonton TV yang menyiarkan siaran ulang yang hit kemarin malam, yang "lucu-lucu" itu lhoo. Hujan pun akhirnya turun, deres banget.
Nah, disaat lagi seru-serunya nonton hiburan di TV. Ada panggilan telpon masuk. Nomernya gak kukenal. "Halo" kataku ramah (sambil sedikit berharap kalo orang yang nelpon aku ini cewek).
"Mas, posisi lagi dimana ?" Suaranya berat (cuk, cowok)
D: Ini siapa ya ? (Mode ramah: off)
P (sebut saja orang gak dikenal ini dengan inisial P)
P: lho gak di save ta mas nomerku ? ini aku mas, gak di save yo nomorku ? Sampeyan posisi dimana ini ?
(Orang ini ngomongnya pake bahasa jawa sih, keliatan medoknya dan omongannya pun santun, tapi tergesa-gesa dan terkesan memaksa)
D: aku posisi di bulak banteng mas(sambil berpikir, siapa ya orang yang gak ku save di hp), sampeyan siapa mas ?
P: aku di pom bensin ini mas
D: sampeyan ini siapa sih mas ?
P: wah sampeyan gak ngesave nomorku iki,
sampeyan posisi dimana ini ?
D: Hardian ta ? (Kataku nebak asalan, Nama disamarkan, dan kebetulan memang ada nomor teman les ku yang enggak ku save di hp, dan logat jawanya pun mirip2)
P: nah iku, sampeyan posisi dimana iki ? Aku di pom bensin
D: lagi di bulak banteng, mau ke bungkul ini
P: aku lagi di pom bensin iki mas, ini aku nemu uang 6 juta 400
Wiik 6 juta, lumayan ituuuu,
D: (langsung kupotong) sek2 awakmu posisi nang pom bensin mana iki?
P: yo di deket2 situ mas
D: dimana ? Ngagel ta ?
P: ya deket2 situ mas
D: owala, Nginden berarti ? Yang depannya kampus ITS iku ya ? (Tanyaku mantap)
P: ya ya itu,
D: owalaaa, opo'o mas ?
Ealah, penipu toh, antara pengen ketawa dan sedikit jengkel sih. Berarti orang ini bukan orang Sby dan gak tau kalo sby lagi hujan. Lagi dengan khusyuknya nonton siaran ulang acara yang lagi hits eh ditelpon orang gak jelas. Akupun berpikir untuk ngerjain orang ini. Kebetulan pulsa telpon ku juga lagi kosong, dilama-lamain pun, orang itu yang nanggung tarif pulsanya.
Karena dulu aku juga pernah ada telpon kayak gini, tapi posisi lagi ada pulsa, dan entah gimana caranya, pulsaku yang habis kesedot. Ciyukks banget.
Oke kembali ke telpon tadi.
P: aku tadi nemu uang 6 juta 400, nah iku gak onok identitas e, dan iki lagi posisi nang pom bensin, bla bla bla....
Yaudalah kubiarkan orang ini mrospek seperti para marketer bank atau asuransi kepada calon nasabahnya. Lagian suaranya juga kecil. Di luar rumah, hujan tambah deres dan siaran hits lagi di bagian seru-serunya.
D: owala, ya ya
P: Bla bla bla
D: hm, ya
P: bla bla bla
D: sek2 mas, awakmu hardian ta ?
P: lah, yakopo sih mas, yo iku (masihbdengan tergesa-gesa dan sedikit ngotot)
D: awakmu ngerti nomorku dari mana? Sek2 aku sopo sih ?
P: lho sampeyan yak opo sih
D: iyo aku tanya, aku iki sopo ?
P: hmm, (dengan sedikit berpikir) Eko ?
D: (hahaha) mas mas, tipu tipu ae sampeyan
P: oo ek*nt*l
Tuut tuuut tuut , telepon mati, siaran ulang yang lagi hits pun iklan. Channel TV diganti ke spongebob the movie. Lucu juga nonton kelakuan spongebob dan patrick, apalagi patrick. Gak kalah lucu dengan siaran ulang yang lagi hits.
10 menit kemudian.
Balik ke siaran ulang yang lagi hits. Dering telpon bunyi lagi. Masih dari orang yang sama.
D: haloo
P: mas sampeyan posisi dimana ?
D: owala mas mas, sampeyan maneh, tobat o po'o mas mas, tobat
P: oo jiyancuk kon
Tuut tuut tuut
Hm, telpon yang kedua hanya untuk misuh misuh ternyata, hahaha. Mungkin pulsanya kepake banyak ya.
Ada ada saja. Dan aku pun balik nonton TV.
Kamis, 12 Januari 2017
Hujan, disambati atau disyukuri ?
Hujan. Satu kata. Lima huruf. Banyak yang suka. Banyak pula yang dongkol. Bagi orang-orang penjual minuman hangat, inilah suasana yang pas. Biasanya banyak pembeli mampir ke kedai atau warung untuk menikmati minuman ini. Bagi petani yang tanamannya lagi butuh air, hujan adalah kondisi yang penuh rejeki. Tidak butuh pompa untuk mengairi tanaman mereka
Tapi hujan juga bisa menjadi hal yang tidak disukai oleh petani. Ketika tanaman mereka sudah siap panen, hujan yang sangat deras bisa menggagalkan panen mereka. Begitu juga denganku yang kemarin baru saja berkeliling pulau Madura untuk pertama kalinya. Hujan yang sangat deras turun, menghentikan perjalanan sejenak sehingga singgah lebih lama di warung makan.
Kaget ? Mungkin. Gabungan antara pasrah, kaget dan menikmati sih sebenarnya. Waktu yang seharusnya direncanakan untuk perjalanan bermotor, akhirnya harus berhenti sejenak karena hujan. Cukup lama memang. Dan aku tidak tahu kapan hujan akan berhenti karena ku melihat langit di Madura masih sangat gelap.
Saat itu ku berpikir, kok hujan ya ? Kenapa enggak ? Kan langit uda mendung ? Tapi kok deras banget ? Ya udah lah. Toh dengan begitu bisa istirahat sejenak ketika perjalanan berkeliling Madura. Bisa jadi itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkan untuk beristirahat sejenak agar bisa fresh melanjutkan perjalanan.
Dan begitu pula dengan saat ini, karena hujan yang sangat deras in juga aku menulis untuk yg pertama kali di tahun 2017 :D
Jumat, 02 September 2016
Ini Kisah Tiga Dara (review)
Film 'Ini Kisah Tiga Dara' merupakan film yang terinspirasi dari sebuah film drama musikal karya Usmar Ismail di tahun 1956 yang berjudul 'Tiga Dara'. Nia Dinata sebagai sutradara dan penulisan skenario bersama Lucky Kuswandi mampu memasukkan sebuah keadaan yang boleh dibilang memang ada dan benar-benar terjadi di masyarakat kita saat ini dengan sangat halus. Mulai dari keadaan sosial sampai ke hubungan lintas generasi dalam keluarga.
Film musikal adalah film yang ada adegan-adegan pemainnya bernyanyi dan menari ketika mengekspresikan emosi karakter-karakternya.
Film ini bercerita tentang kehidupan tiga orang kakak beradik Gendis(Shanty), Ella (Tara Basro) dan Bebe(Tatyana Akman) yang tinggal bersama Oma mereka(Titiek Puspa). Sementara ayah mereka sibuk dengan pekerjaannya.
Terasa musikalnya film ini sudah langsung hadir di adegan pertama ketika Gendis, Ella dan Bebe naik taksi untuk pulang ke rumah mereka. Keadaan Jakarta macet yang tidak bisa bergerak padahal rumah sudah dekat. Daaan, mereka pun bernyanyi dan menari untuk mengekspresikan emosi mereka. Dan juga saat Oma merasa bahwa cucu-cucunya ternyata sudah tidak kecil lagi ketika dia melihat koleksi foto saat mereka masih kecil.
Sebelum pindah ke Maumere untuk menjalankan bisnis hotel, kakak beradik ini menggelar dagangannya di rumah mereka. Disitu aku melihat para perempuan mandiri, mengatur bisnis mereka sendiri. Sebuah hal yang lumrah di jaman sekarang. Tapi mungkin saja keadaan sosial itu berbeda ketika film yang aslinya diputar pada tahun 1956.
Di bagian ini karakter Oma yang ingin terbaik untuk cucu-cucunya menurut versinya mulai terlihat. Mungkin sebuah perasaan gengsi atau iri atau apapun itu ketika Oma bercengkrama dengan teman-teman sebaya Oma dan mendengar bahwa cucu mereka ada yang sudah menikah dan menimang anak. Dan keadaan itulah yang menurutku dijadikan Oma menginginkan cucu pertamanya untuk segera menikah.
Akting dari para artisnya sesuai porsinya masing-masing. Dan karakter tokoh-tokohnya pun dapat.
Konflik antar karakter dan kehidupan sosial yang terjadi saat ini mampu diblend oleh sutradara dengan sangat sangat smooth. Misalnya, saat mereka bernyanyi dan menceritakan bahwa tradisi yang ribet ketika orang akan menikah. Lalu ketika Gendis dan Yudha berpapasan di pasar. Melalui percakapan dua tokoh itu, sutradara menggambarkan bagaimana amannya kondisi di Maumere ketika Gendis tidak mengunci mobilnya ketika parkir. Atau ketika tiga dara ngobrol bersama Oma, lalu mereka pun bernyanyi untuk menggambarkan bagaimana sosok matriarki Oma. Dan banyak lagi. Hal-hal tersebut yang membuatku menilai kalau film ini sangat-sangat bagus.
Terakhir untuk iklan. Porsi iklannya pas menurutku. Sutradara mampu memasukkannya dengan smooth.
Ini kisah tiga dara bisa jadi jawaban untuk orang-orang yang mencari film Indonesia yang bagus.
4,8/5.
Selasa, 24 Mei 2016
Review Film Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara (Menyambut Kesempatan, Menghadapi Tantangan)
(Spoiler alert !!)
.
.
.
.
.
Film ini bercerita tentang kisah Aisyah (diperankan Laudya Cintya Bella), seorang perempuan yang baru lulus kuliah. Aisyah bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Kesempatan itu datang ketika sebuah yayasan besar memberikannya kesempatan menjadi guru di suatu daerah Nusa Tenggara Timur.
Mendapat kesempatan itu, Aisyah langsung menanggapinya dengan bersemangat. Dia menceritakan hal tersebut kepada ibunya (Lidya Kandau) kalau dirinya akan pergi ke NTT. Mendengar cerita Aisyah, ibunya tidak setuju. Awalnya ibunya mencoba membujuk Aisyah dengan berbagai cara untuk tidak pergi ke sana, mulai jauhnya antara Jawa Barat dengan NTT dan mayoritas masyarakat di sana yang berbeda dengan di Jawa. Tetapi Aisyah tetap berkeinginan kuat untuk tetap pergi ke NTT dan bilang kepada ibunya kalau dirinya bukan anak kecil lagi. Sampai ibunya bilang kalau keinginan Aisyah untuk ke NTT sebenarnya cuma emosi karena si Aa (Ge Pamungkas) merantau ke Aceh. Meskipun diketahui di akhir cerita kalau ternyata si Aa tidak ke Aceh.
Berat sebenarnya bagi ibunya untuk merelakan anaknya pergi. Ibunya pun bilang kepada Aisyah jika tidak sanggup bertahan di NTT, langsung balik aja ke Jawa. Dan Aisyah pun menjawab ibunya dengan keyakinan kalau dia akan menghadapi tantangan di sana.
Humor serius adalah suatu humor dimana karakter film tidak melucu tetapi mampu membuat penonton ketawa. Di film ini hal tersebut dibawakan oleh Ge dan Arie Kriting (berperan sebagai Pak Pedro) dengan sangat smooth. Misalnya saat Aa dengan gombalan-gombalannya kepada Aisyah. Atau tingkah Pak Pedro ketika diomelin oleh istrinya.
Kembali ke jalan cerita Aisyah. Di NTT, Aisyah tinggal bersama ibu kepala dusun. Sehari-harinya Aisyah juga ditemani muridnya, Siku si anak kepala dusun, untuk mengetahui wilayah-wilaayah di dusun tersebut.
Hari pertama menjadi seorang guru. Aisyah langsung mendapat bermacam-macam tantangan. Setelah mengetahui kalau jarak dusun ke sekolah yang lumayan jauh sekitar 10km dan tidak ada kendaraan untuknya. Seorang muridnya, Loris Defam, memprovokasi teman-temannya untuk tidak masuk kelas. Aisyah pun bingung ada apa dengan murid-muridnya.
Menariknya film ini adalah cara-cara Aisyah untuk melakukan pendekatan kepada murid-muridnya. Dimulai dari Siku, membarengi Siku untuk mengambil air. Dari situ, dia pun mengetahui sebab murid-muridnya tidak masuk kelas. Ketika murid-muridnya akhirnya mau kembali bersekolah, Aisyah juga sering berkumpul dengan murid-muridnya saat jam istirahat. Dia pun akhirnya mengetahui kenapa Loris Defam berbuat seperti itu.
Banyak sekali pesan di film ini. Yang menarik adalah ketika Loris Defam pingsan dan dirawat di rumah sakit. Murid-muridnya pun ikut berjaga di sana, bukan untuk Loris, tetapi untuk menjaga gurunya dari Loris. Di film ini memberi pesan bahwa peran sebuah keluarga untuk membentuk kepribadian anak sangat besar. Aisyah menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa cara bersikap Loris seperti itu karena dia tinggal bersama pamannya yang pemarah dan orang tuanya pergi merantau entah kemana.
Kritik untuk film yang disutradarai oleh Herwin Novianto dan diproduksi oleh Film One Production dan sebagian besar film-film Indonesia lainnya adalah lompatan proses dan alur yang menurutku mudah ditebak. Di film ini misalnya, proses pendekatan Aisyah kepada murid-muridnya yang aku nilai melompat. Atau alur cerita saat Aisyah membuatkan dusun tersebut penyuling air karena kekeringan.
Satu lagi adalah iklan. Iklan-iklan di film ini sangat mencolok sekali, kurang mengena akan kualitas produk dannn tidak dilakukan dengan smooth. Film-film Indonesia rasaku masih harus belajar kepada film luar negeri bagaimana memasukkan konten produk ke dalam film. Misalnya di film horor, aku lupa tepatnya entah conjuring atau insidious. Pemeran utama melempar produk apel kroak dan jatuh ke lantai setelah terkejut. Smooth dan kontennya cukup jelas memperlihatkan kalau produk apel kroak itu tahan banting.
Overall, film ini masih hitungan bagus menurutku. 7,5/10.
Selasa, 10 Mei 2016
Refreshing sejenak ke pasar malam
Rutinitas yang asyik di pasar malam
Tanggal 15 terasa begitu lama. Iya begitu lama buatku yang saat ini hanya mengantongi uang sebesar 100 ribu rupiah untuk menjalani 5 hari ke depan. Kemarin motorku harus dibawa ke bengkel karena ada kerusakan di bagian rantai. Dan saat itu aku harus memprioritaskan perbaikan motor karena tanpa motor, aku enggak bisa kemana-mana. Sebenarnya kesalahanku juga ketika motorku tiba-tiba rusak. Padahal kalau aku ganti dari kemarin-kemarin, kerusakannya tidak akan merembet ke bagian lainnya.
"Kriinngg" suara hpku berbunyi, dari seorang teman lama ku yang sekarang tinggal di luar kota.
"Halo Ran" jawabku ketika mengarahkan hp ke telingaku
"Nas, aku besok mampir ke kos mu yo"
"Onok opo ke sini"
"Yo mampir ae, hari ini dari madura aku, ada sodara menikah soalnya"
"Owala, yowes kesini ae lho, tapi datengnya ojok sore-sore tapi, budal kerjo soale"
"Woke, pagi berarti yo"
"Siap bos"
Randi adalah teman SMA ku. Aku dan dia dikenal akrab. Bahkan dulu aku dan Randi sempat diguyoni pasangan homo karena kedekatan yang seperti orang pacaran. Saat ini dia sudah menetap di kota tetangga, Sidoarjo. Ketika sudah menikah, intensitas pertemuan ku dengan Randi pun berkurang. Bahkan pertemuan terakhir ku dengannya hampir setahun yang lalu. Tetapi kami masih sering memberi kabar.
Nah ketika dia besok datang. Aku sebenarnya pusing, akan kujamu seperti apa temanku besok. Kalau diajak jalan-jalan, pengeluaran tambahan jelas ada, bensin dan makan minimal. Dulu, ketika aku berkunjung ke tempat Randi, pasti dia akan menjamu dengan istimewa. Begitu juga denganku.
Kupegang sebuah gayung yang ada di kamar mandi. Ketika tangan kuarahkan ke bak mandi lalu gayung bersinggungan dengan air, secepat itu pula air menggantikan ruang udara yang ada di gayung. Pyak. Begitulah kira-kira suara air bak mandi saat otot tanganku mengerahkan tenaga untuk mengangkat gayung yang sudah berisi air. Dan byur. Air membuat badanku basah. Sambil menyirami tubuhku pagi itu, aku pun berpikir tentang strategi 5 hari ke depan. Saat ini aku berpikir untuk puasa, iya, puasa untuk menghemat pengeluaranku.
Di kota ini, matahari masih belum menurunkan radiasi panasnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku mengambil seragam kerja dari tumpukan baju yang tertata rapi. Seragamku berupa celemek berwarna merah dan topi merah khas dokter bedah yang sedang melakukan operasi. Setelah memasukkannya ke tas dan bersiap berangkat. Aku menikmati sebatang tembakau bakar dulu yang kukeluarkan dari kantong celanaku. Kebiasaan yang kulakukan sebelum berangkat kerja.
Hari ini merupakan hari ke delapan sejak pasar malam tahunan ini dibuka oleh walikota kota ini. Pembukaan yang sangat wah kurasa karena kembang api untuk pembukaan tersebut sangat lama, sekitar setengah jam nonstop ! Antusiasme pengunjung sangat tinggi untuk datang ke wilayah timur kota ini malam itu. Stand jajanan yang kujaga pun kecipratan rejeki dari antuasiasme pengunjung. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang antri untuk menikmati jajanan di sini.
Lima hari pertama merupakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang sangat ekstra. Dua orang yang berjaga di stand jajanan ini yaitu aku dan teman kerjaku, Romi, dibuat mondar mandir ke depan ke belakang oleh banyaknya orderan dari pengunjung. Mulai dari memasukkan singkong mentah yang telah diberi bumbu racikan khusus ke minyak panas di penggorengan. Membolak-balik singkong di minyak panas. Meniriskannya ke tempat tirisan. Mendengarkan dengan baik pesanan pengunjung. Sampai membungkusnya dan memberikan ke pengunjung dengan senyuman. Karena order yang begitu banyak. Tak jarang, aku atau Romi, pergi sebentar meninggalkan stand untuk mengambil singkong mentah dari mobil.
Dua hari berikutnya. Pengunjung yang datang tidak seramai seperti lima hari pertama. Dan pekerjaanku menjadi lebih santai. Memang lima hari pertama merupakan long weekend sehingga orang-orang kota ini banyak yang mengunjungi pasar malam. Padat sekali yang harus dikerjakan dalam 5 jam aku jaga.
Malam ini pun, jam 6 sore pengunjung sudah banyak yang datang. Meskipun tidak seramai lima hari pertama. Dan stand singkong ini tetap banyak orderannya. Keadaan yang cukup santai ini membuatku bisa menikmati alunan musik yang diputar. Para penggambar yang berada di sebelah stand singkong ini terkadang mengeluarkan celetukan untuk stand ini. Terkadang juga aku atau Romi diguyoni mas-mas tersebut.
Sesekali, aku atau Romi pergi keluar stand untuk menghisap tembakau bakar. Kali ini giliranku untuk bersantai sejenak.
"Deloken ta, Koncomu iku kerjo, kon kok malah rokokan i" guyon salah satu mas penggambar dengan suara yang ditinggikan.
"Ambekan disik mas" jawabku disambut ketawa Romi.
Ketika aku kembali ke stand, musik pun berganti ke musik live. Aku mendengar lagu yang tak asing di telinga. Lagunya naif, mobil balap. Dan saat ku melangkahkan kakiku menuju stand, aku melihat Romi mencuri pandang ke salah satu pengunjung yang telah membeli jajanan singkong di sini. Gadis jelita berbaju putih, rambutnya dikuncir dua. Beruntung sekali Romi.
Sambil mengenakan seragam celemek dan topi dokter bedah untuk kembali bekerja. Aku sempat kepikiran, tempatku bekerja di pasar malam ini sangat nyaman. Banyak sekali pengunjung cantik berlalu lalang, lumayan lah cuci mata sambil kerja. Belum lagi sambil menikmati lagu-lagu yang enak didengar. Dan aku berpikir kembali. Uang seratus ribu rupiah untuk lima hari ke depan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan pikiran yang berlebihan.
Sreeng. Suara singkong mentah masuk ke penggorengan.